Imf Melihat Tarif Menambah Inflasi
Direktur Pelaksana IMF (Dana Moneter Internasional), Kristalina Georgieva, mengatakan inflasi barang di AS sebagian dipicu oleh tarif. Ia mengatakan menurunkan federal funds rate (suku bunga acuan bank sentral AS/Federal Reserve) ke kisaran 3,25%–3,50% akan sesuai dengan kembalinya tingkat kerja penuh (kondisi ketika sebagian besar orang yang ingin bekerja bisa mendapat pekerjaan), dan mengatakan utang publik (utang pemerintah) perlu langkah fiskal yang tegas (kebijakan pajak dan belanja pemerintah) agar arahnya menurun. Di Selandia Baru, Indeks Keyakinan Bisnis ANZ turun ke 59,2 pada Februari dari 64,1 pada Januari. Prospek Aktivitas ANZ naik ke 52,6 dari 51,6, sementara perkiraan inflasi naik ke 2,93% dari 2,77%, tertinggi sejak April 2024. Gubernur RBNZ (Reserve Bank of New Zealand, bank sentral Selandia Baru) Anna Breman mengatakan inflasi diperkirakan kembali ke kisaran target pada kuartal pertama tahun ini. Ia mengatakan pergerakan kembali menuju inflasi 2% tidak merata. Kami melihat pelemahan Dolar AS sebagai akibat langsung dari ketidakpastian politik yang berlanjut terkait kebijakan tarif. Data inflasi AS terbaru untuk Januari 2026 menunjukkan kenaikan tahunan (year-over-year, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya) yang tetap tinggi sebesar 3,4%, sehingga mendukung gagasan bahwa tarif menjaga harga tetap tinggi. Kondisi ini membuat kami enggan menahan posisi beli (long, posisi yang untung jika harga naik) yang besar pada Dolar AS.Perbedaan Arah Kebijakan Dan Gejolak Pasar
Saran IMF untuk menurunkan federal funds rate menuju 3,25% menimbulkan benturan yang jelas dengan tekanan inflasi dari tarif. Dengan suku bunga The Fed (bank sentral AS) saat ini di 4,00%, penurunan seperti itu akan menjadi perubahan yang sangat dovish (kebijakan yang cenderung “melonggarkan”, misalnya dengan menurunkan suku bunga). Perbedaan arah kebijakan ini menjadi sumber utama ketidakpastian yang kemungkinan akan terus menekan dolar dalam beberapa minggu ke depan. Sebaliknya, kondisi di Selandia Baru mengarah pada penguatan dolar Kiwi (julukan untuk dolar Selandia Baru/NZD). Kenaikan perkiraan inflasi ke 2,93% adalah sinyal penting, terutama setelah data inflasi resmi kuartal 4 2025 tercatat 3,1%, masih jauh di atas target bank sentral. Ini membuat kecil kemungkinan Reserve Bank of New Zealand akan segera ikut tren global untuk melonggarkan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan pengaturan uang beredar). Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), perbedaan ini menunjukkan membeli opsi call NZD/USD (kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu; nilainya biasanya naik jika harga pasangan mata uang naik) adalah strategi yang masuk akal. Ini bisa dipakai untuk bersiap pada potensi kenaikan, dengan target strike price (harga kesepakatan dalam kontrak opsi) di atas level 0.6000 saat ini, seperti 0.6050 atau 0.6100. Pendekatan ini memberi peluang untung saat harga naik sambil menetapkan risiko maksimum dengan jelas jika kebijakan AS tiba-tiba menjadi lebih pasti. Sinyal ekonomi yang saling bertentangan juga kemungkinan meningkatkan volatilitas pasar (besar-kecilnya pergerakan harga). Gesekan antara pemerintah AS yang mendukung tarif dan potensi kebutuhan Federal Reserve untuk memangkas suku bunga bisa memicu pergerakan harga yang lebih besar. Karena itu, strategi yang diuntungkan dari kenaikan implied volatility (perkiraan volatilitas yang tersirat dalam harga opsi) pada pasangan NZD/USD juga bisa efektif. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.