Risiko Geopolitik Mendorong Permintaan Aset Aman
Pasar memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada Maret dan April, dengan peluang pemangkasan pada Juni semakin kecil. Ini mendukung Dolar AS dan membatasi kenaikan emas. Pembicaraan tidak langsung soal nuklir AS-Iran di Jenewa berakhir pada Kamis tanpa kemajuan, sementara penempatan militer AS di kawasan tersebut meningkat. Pembicaraan teknis lanjutan direncanakan minggu depan di Wina. Ketidakpastian perdagangan meningkat setelah tarif global baru 10% mulai berlaku, menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang menolak penggunaan kewenangan darurat sebelumnya untuk menerapkan tarif. Emas tetap bergerak dalam kisaran (range-bound: naik-turun di area harga tertentu), tetapi menuju kenaikan mingguan keempat berturut-turut dan kenaikan bulanan ketujuh berturut-turut. Pada grafik, support (area harga penopang yang sering menahan penurunan) berada di sekitar $5.140 dan $5.038, dengan level penurunan di $5.000. Resistance (area harga yang sering menahan kenaikan) berada di $5.200–$5.250, lalu $5.342 dan puncak $5.598; RSI (Relative Strength Index, indikator untuk melihat kuat-lemahnya momentum harga) adalah 55 dan ADX (Average Directional Index, indikator kekuatan tren) sekitar 17. Bank sentral menambah 1.136 ton emas senilai sekitar $70 miliar pada 2022, tertinggi sepanjang sejarah.Prospek Perdagangan Emas
Dengan emas menembus $5.200, terlihat jelas pembelian aset aman didorong oleh situasi AS-Iran yang memanas. Imbauan bagi staf AS di Israel memicu kekhawatiran konflik militer langsung. Faktor risiko geopolitik ini kini menjadi pendorong utama pasar. Namun, data ekonomi AS yang kuat tidak bisa diabaikan, dengan core PPI jauh lebih tinggi dari perkiraan. Situasi ini mirip 2023 dan 2024, ketika inflasi yang sulit turun membuat Federal Reserve tetap hawkish (cenderung menahan/menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi). Pasar kini hampir sepenuhnya menghapus perkiraan pemangkasan suku bunga pada Juni, sehingga Dolar AS tetap kuat dan kenaikan emas tertahan. Tarik-menarik antara geopolitik dan kebijakan suku bunga ini menunjukkan pasar kemungkinan bergerak dalam kisaran dalam waktu dekat, sekitar $5.140 hingga $5.350. Untuk trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), ini cocok untuk mempertimbangkan menjual volatilitas (volatilitas: besar-kecilnya fluktuasi harga) lewat strategi seperti iron condors (strategi opsi yang mencari untung saat harga tetap dalam kisaran) atau short strangles (menjual opsi call dan put di luar harga saat ini untuk meraih premi kalau harga tetap di kisaran). Pembacaan tren yang lemah mendukung pandangan bahwa belum ada pemicu arah yang kuat. Tetap waspada untuk kemungkinan pergerakan besar jika pembicaraan Jenewa benar-benar gagal dan aksi militer dimulai. Pergerakan di atas resistance $5.342 akan menjadi sinyal eskalasi penting, dan trader bisa mempertimbangkan long call options (membeli opsi beli untuk mendapat untung saat harga naik) atau bull call spreads (strategi opsi beli bertingkat untuk membatasi biaya dan risiko sambil tetap mengejar kenaikan). Reaksi pasar saat invasi Ukraina pada awal 2022 menunjukkan situasi seperti ini bisa mengubah harga aset dengan cepat. Sebaliknya, kabar positif dari Wina minggu depan dapat menekan harga secara tiba-tiba. Jika risiko geopolitik mereda, fokus pasar akan kembali pada kenyataan suku bunga tinggi lebih lama. Penembusan di bawah support kunci sekitar $5.038 akan membatalkan struktur bullish (bullish: kecenderungan harga naik) saat ini dan bisa memicu penurunan cepat.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.