Risiko Geopolitik Mendorong Harga Minyak Naik
CNBC melaporkan pada hari Minggu bahwa Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas. Laporan itu menyebutkan sebuah kelompok akan menjalankan negara hingga pemimpin baru ditetapkan. Trader sudah memasukkan (memperhitungkan) risiko tinggi bahwa Selat Hormuz bisa ditutup. Jalur ini dipakai untuk sekitar 20% pasokan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran gangguan pasokan (pasokan terganggu atau terlambat). OPEC+ (kelompok OPEC dan negara mitra seperti Rusia yang mengatur produksi minyak) mengatakan pada hari Minggu akan menaikkan produksi minyak mentah. Kelompok itu sepakat menaikkan output sebesar 206.000 barel per hari (bpd), lebih tinggi dari perkiraan para analis. Dengan WTI melonjak ke harga tertinggi sejak Juni 2025, pasar perlu bersiap menghadapi volatilitas ekstrem (pergerakan harga yang sangat cepat dan tidak stabil). Konflik antara AS, Israel, dan Iran menambah premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko perang/ketegangan) yang mendorong harga opsi naik. Volatilitas tersirat (perkiraan pasar soal besarnya pergerakan harga di masa depan yang tercermin pada harga opsi) pada opsi minyak melonjak, membuat posisi beli menjadi mahal, tetapi bisa sangat menguntungkan jika konflik memburuk. Pasar terfokus pada Selat Hormuz, titik sempit jalur pelayaran yang menjadi “bottleneck” (titik rawan tersumbat) bagi hampir 20% konsumsi minyak harian dunia. Kenaikan produksi OPEC+ yang relatif kecil, 206.000 barel per hari, dinilai tidak cukup untuk meredakan kekhawatiran gangguan pasokan besar bila selat itu ditutup. Tambahan produksi yang kecil ini tidak banyak mengubah pandangan jangka pendek yang masih cenderung naik untuk harga minyak mentah.Pasar Bersiap Menghadapi Guncangan Pasokan
Kita pernah melihat situasi seperti ini, paling baru pada awal konflik Rusia-Ukraina tahun 2022 ketika Brent (acuan minyak global) melonjak dari $95 menjadi di atas $130 per barel. Serangan militer saat ini dan kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran menciptakan suasana takut dan tidak pasti yang mirip. Trader perlu mengantisipasi pergerakan harga yang tajam dan sulit diprediksi, dipicu oleh berita utama dalam beberapa hari ke depan. Faktor penting adalah terbatasnya kemampuan “bantalan” untuk menyerap guncangan pasokan sebesar ini. Cadangan Minyak Strategis AS (SPR)—stok minyak darurat milik pemerintah AS—berada di level rendah secara historis, sekitar 360 juta barel, setelah banyak dipakai pada tahun-tahun sebelumnya. Ini membatasi kemampuan Washington untuk menekan harga. Karena itu, laporan API hari Selasa tentang persediaan (inventori/stok minyak yang tersimpan) akan dipantau ketat untuk melihat tanda-tanda pasokan domestik AS makin ketat. Dengan ketidakpastian tinggi, membeli call option berjangka panjang (hak untuk membeli di harga tertentu sampai waktu tertentu) atau bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain di harga lebih tinggi untuk menekan biaya) dinilai sebagai strategi yang lebih hati-hati untuk mengejar potensi kenaikan sambil membatasi risiko. Volatilitas tersirat yang tinggi membuat menjual opsi tanpa perlindungan (naked options: menjual opsi tanpa punya posisi penutup) sangat berbahaya, karena satu berita bisa memicu kerugian besar. Posisi diarahkan untuk harga yang lebih tinggi, sambil mengendalikan biaya dari pandangan tersebut. Kekosongan kepemimpinan di Iran setelah kematian Ayatollah Khamenei membuat krisis ini kemungkinan tidak cepat selesai. Ini menciptakan periode ketidakstabilan yang dapat bertahan dan cenderung menahan harga minyak tetap tinggi selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Pasar kemungkinan melihat penurunan harga sebagai peluang beli sampai ada penurunan ketegangan yang jelas. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.