Eskalasi Dan Reaksi Pasar
Presiden AS Donald Trump mengatakan ratusan target terkena serangan, termasuk lokasi Garda Revolusi (pasukan elite Iran) dan sistem pertahanan udara (alat untuk mendeteksi dan menembak jatuh ancaman dari udara). Ia juga mengatakan sembilan kapal dan infrastruktur angkatan laut diserang, dan operasi akan berlanjut sampai tujuan yang disebutkan tercapai. Israel juga menyerang Beirut setelah Hizbullah menembakkan rudal melintasi perbatasan pada Senin pagi. Militer Israel mengeluarkan perintah evakuasi untuk beberapa kota di Lebanon. Dalam kebijakan moneter AS (kebijakan bank sentral yang mengatur suku bunga dan jumlah uang beredar), Gubernur Federal Reserve (bank sentral AS) Mi Lan menyerukan pemangkasan suku bunga secepatnya. Pernyataan itu menyoroti tekanan harga dasar yang lemah (kenaikan harga inti yang tidak terlalu kuat) dan kekhawatiran soal pengukuran inflasi (cara menghitung inflasi yang bisa membuat angka tampak lebih rendah/tinggi). Sifat ekstrem dari guncangan geopolitik ini berarti volatilitas (naik-turun harga yang cepat) menjadi faktor paling segera. Kita pernah melihat VIX, ukuran “ketakutan” pasar (indeks yang mencerminkan perkiraan naik-turunnya pasar saham), melonjak di atas 30 pada awal ketidakpastian konflik Ukraina pada 2022. Masuk akal untuk menganggap level itu sudah terlampaui. Untuk melindungi portofolio, pelaku pasar bisa memakai *futures* VIX (kontrak untuk membeli/menjual VIX di harga tertentu pada waktu tertentu) atau *call options* (hak, bukan kewajiban, untuk membeli aset pada harga tertentu) sebagai lindung nilai terhadap ketidakstabilan yang kemungkinan besar terjadi dalam beberapa minggu ke depan.Implikasi Trading Dan Lindung Nilai
Konflik langsung dengan produsen minyak besar akan memicu guncangan harga energi yang tajam. Kita bisa melihat kembali Perang Teluk 1990, ketika harga minyak mentah lebih dari dua kali lipat hanya dalam beberapa bulan. Trader dapat bersiap untuk kenaikan cepat serupa dengan mengambil posisi *long* (mendapat untung jika harga naik) pada *futures* minyak mentah (kontrak untuk transaksi minyak di masa depan) atau membeli *call options* pada ETF terkait energi (ETF adalah “keranjang” aset yang diperdagangkan seperti saham). Biaya energi yang lebih tinggi dan ketidakpastian geopolitik yang besar merupakan kombinasi buruk untuk saham. Penurunan pasar yang terjadi bisa menjadi peluang untuk membeli *put options* (hak, bukan kewajiban, untuk menjual aset pada harga tertentu) pada indeks besar seperti S&P 500 (indeks yang berisi 500 saham besar AS). Ini memberi cara langsung untuk meraih untung atau melindungi portofolio dari potensi aksi jual (penurunan harga karena banyak orang menjual) di pasar saham. Walau seruan pemangkasan suku bunga biasanya melemahkan dolar, kebutuhan besar akan *safe haven* kemungkinan akan lebih dominan. Kita melihat modal mengalir ke Dolar AS pada 2022, mendorong DXY di atas 114 meski ada kekhawatiran pelambatan ekonomi global. Karena itu, meskipun ada komentar pejabat The Fed, posisi *long* Dolar AS terhadap mata uang utama lain masih berpeluang menjadi strategi yang lebih kuat dalam jangka dekat. Federal Reserve kini terjepit antara keinginan memangkas suku bunga dan ancaman inflasi baru yang dipicu perang melalui kenaikan harga minyak. Ketidakpastian kebijakan ini membuat taruhan arah suku bunga menjadi berisiko. Strategi yang lebih baik adalah memakai opsi pada *Treasury futures* (kontrak berjangka obligasi pemerintah AS), yang bisa diuntungkan dari kenaikan volatilitas pasar obligasi karena trader sulit menilai langkah The Fed berikutnya. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.