Didorong oleh permintaan aset safe haven, Indeks Dolar AS bertahan di sekitar 98,50 setelah kenaikan 1% pada sesi sebelumnya.

    by VT Markets
    /
    Mar 3, 2026
    Indeks Dolar AS (DXY), yang melacak pergerakan Dolar AS terhadap enam mata uang utama, stabil di sekitar 98,50 dalam perdagangan Asia pada Selasa. Pergerakan ini mengikuti kenaikan hampir 1% pada sesi sebelumnya, dengan permintaan meningkat di tengah perang di Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan “gelombang besar” serangan terhadap Iran masih akan datang. Marco Rubio mengatakan Amerika Serikat sedang bersiap untuk “lonjakan besar” serangan di Iran dalam 24 jam ke depan.

    Eskalasi di Timur Tengah

    Amerika Serikat dan Israel menyerang ribuan target di dalam Iran dalam kampanye bersama. Laporan tersebut mengatakan ini terjadi setelah terbunuhnya pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Reuters mengutip Ebrahim Jabari, penasihat panglima tertinggi Korps Garda Revolusi Islam, mengatakan: “Selat Hormuz ditutup.” Ia menambahkan bahwa kapal apa pun yang mencoba melintas akan dibakar oleh Garda Revolusi dan angkatan laut reguler. Dalam data AS, ISM Manufacturing PMI (indeks manajer pembelian untuk sektor manufaktur, yaitu ukuran kondisi bisnis pabrik) turun ke 52,4 pada Februari dari 52,6 pada Januari, namun masih di atas perkiraan 51,8. Manufacturing Employment Index (indeks pekerjaan manufaktur, ukuran kondisi tenaga kerja di pabrik) naik ke 48,8 dari 48,1, tetapi tetap di bawah 50. Dolar juga didukung oleh perkiraan bahwa harga energi yang lebih tinggi dapat menaikkan inflasi (kenaikan harga umum) dan mengurangi peluang penurunan suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS) dalam waktu dekat. Biaya energi yang lebih tinggi juga menekan mata uang negara pengimpor energi besar, termasuk Eropa dan Jepang.

    Dampak Pasar dan Penempatan Posisi

    Melihat kembali awal 2025, Indeks Dolar AS melonjak saat konflik dengan Iran meningkat dan jalur pelayaran penting terancam. Perpindahan dana ke aset aman terjadi cepat, mendorong dolar naik karena kekhawatiran perang yang lebih luas. Pergerakan awal ini menunjukkan respons pasar terhadap ketidakstabilan geopolitik di Timur Tengah. Penutupan Selat Hormuz menyebabkan guncangan besar harga energi yang menyebar ke ekonomi global sepanjang sisa tahun itu. Harga minyak Brent (patokan harga minyak global) melonjak di atas $150 per barel pada Juni 2025, mendorong inflasi CPI utama AS (inflasi berdasarkan Indeks Harga Konsumen/Consumer Price Index, ukuran kenaikan harga barang dan jasa) menjadi 5,8% pada kuartal keempat. Ini memaksa Federal Reserve bukan hanya membatalkan rencana penurunan suku bunga, tetapi juga menaikkan suku bunga dua kali lagi, sehingga suku bunga Fed funds (suku bunga acuan pasar uang AS) menjadi 6,0%. Saat ini, dominasi dolar berlanjut, dengan DXY bertahan kuat di atas level 105 karena suku bunga tinggi dan permintaan aset aman sama-sama menopang. Mata uang negara pengimpor energi besar terpukul, dengan Yen Jepang melemah melewati 160 per dolar. Di Eropa, biaya energi yang tinggi membuat Euro berada di bawah paritas (nilai 1 banding 1) terhadap USD selama beberapa bulan. Dengan tren ini, pertimbangkan menggunakan call options (opsi beli, kontrak yang memberi hak untuk membeli pada harga tertentu) pada ETF UUP (exchange-traded fund/dana yang diperdagangkan di bursa, produk yang mengikuti kinerja aset tertentu) untuk mempertahankan posisi beli dolar sambil membatasi risiko. Melanjutkan pembelian put (opsi jual, kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu) pada Euro dan Yen juga masuk akal karena ekonomi mereka masih terbebani biaya energi. Posisi ini memanfaatkan perbedaan arah kebijakan bank sentral dan prospek ekonomi. Volatilitas (naik-turun harga yang tajam) di sektor energi akan tetap sangat tinggi, sehingga sulit untuk taruhan arah harga. Pendekatan lain adalah memperdagangkan volatilitasnya dengan long straddles atau strangles (strategi opsi yang mengambil posisi beli pada kombinasi opsi untuk mendapat untung dari pergerakan harga besar, ke arah mana pun) pada futures minyak mentah WTI (kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate, patokan minyak AS). Strategi ini bisa untung dari pergerakan harga besar yang kemungkinan berlanjut selama ketegangan di Timur Tengah belum selesai. Lingkungan suku bunga tinggi yang bertahan juga menekan pasar saham, dengan S&P 500 (indeks saham besar AS) masuk bear market (fase penurunan pasar yang tajam dan berkepanjangan) pada akhir 2025. Tekanan ini diperkirakan berlanjut karena biaya pinjaman membebani laba perusahaan. Membeli VIX call options (opsi beli pada VIX, indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar) atau put pada indeks saham besar seperti SPY (ETF yang mengikuti S&P 500) tetap menjadi lindung nilai (hedge, perlindungan terhadap kerugian) yang masuk akal terhadap penurunan pasar lebih lanjut dalam beberapa minggu ke depan.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code