Guncangan Energi Mendorong Permintaan Dolar
Dengan biaya energi yang lebih tinggi, mata uang dan saham Eropa serta pasar berkembang (emerging market: negara yang ekonominya sedang tumbuh) bisa terdampak karena investor membatalkan posisi (position unwinds: menutup transaksi yang sudah dibuka) jika harga tetap tinggi. China disebut sebagai pembeli besar minyak mentah Iran, dan aksi Iran yang memengaruhi fasilitas produksi atau pengiriman disebut sebagai risiko. Data ekonomi AS yang dijadwalkan rilis terbatas, dan pidato pejabat Federal Reserve (bank sentral AS) John Williams dijadwalkan pada 15:55 CET. Jika perhatian kembali pada inflasi yang “bandel” (sticky inflation: inflasi yang sulit turun), imbal hasil (rates: tingkat bunga/imbal hasil) AS jangka pendek bisa naik dan mendukung Dolar. Dolar Index (DXY: indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperkirakan tetap kuat dalam waktu dekat, dengan target 99,50/100,00 selama harga energi tetap tinggi. Artikel ini mencatat dibuat dengan alat AI dan ditinjau editor. Dolar menguat secara luas karena investor bereaksi terhadap lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah. Kami memperkirakan DXY tetap didukung dan menargetkan kisaran 99,50 hingga 100,00 dalam waktu dekat. Tren ini terjadi karena guncangan energi lebih menguntungkan negara pengekspor energi dibanding negara pengimpor.Posisi untuk Dolar yang Lebih Kuat
Situasi ini diperkuat oleh posisi Amerika Serikat sebagai produsen energi yang kuat, dengan data terbaru menunjukkan produksi minyak mentah bertahan dekat rekor di atas 13,3 juta barel per hari. Sebaliknya, kerentanan Eropa terlihat jelas, karena kontrak berjangka gas alam acuan melonjak hampir 30% selama sebulan terakhir. Ketimpangan dasar ini menjadi penopang kuat bagi penguatan dolar. Kami melihat pola serupa saat krisis energi 2022 yang sangat menekan mata uang Eropa, dan pola yang sama kini mulai terlihat lagi. Saat investor terus menutup posisi besar di Eropa dan pasar berkembang yang mereka bangun selama 2025, mata uang seperti Euro tampak sangat lemah. Pasangan EUR/USD (nilai tukar Euro terhadap Dolar AS) yang turun tegas di bawah level dukungan (support: area harga yang biasanya menahan penurunan) 1,05 minggu lalu menjadi konfirmasi teknikal (technical confirmation: sinyal dari analisis grafik harga) yang penting untuk tren ini. Dengan kondisi ini, kami menilai lebih aman untuk bersiap menghadapi dolar yang lebih kuat dan volatilitas (naik-turun harga yang tajam) yang lebih tinggi pada kelompok mata uang lain. Trader derivatif (derivative: produk turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan strategi seperti membeli opsi call DXY (call option: hak untuk membeli pada harga tertentu) atau membeli opsi put pada Euro dan beberapa mata uang pasar berkembang (put option: hak untuk menjual pada harga tertentu). Posisi ini memberi cara langsung untuk memanfaatkan kondisi pasar saat ini. Sikap Federal Reserve kemungkinan memperkuat penguatan dolar, karena kekhawatiran inflasi yang sulit turun akibat biaya energi yang lebih tinggi dapat membuat kebijakan lebih ketat (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga/mengetatkan kebijakan). Perkiraan pasar sudah berubah, dengan futures fed funds (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan suku bunga bank sentral AS) kini mengarah pada lebih sedikit pemotongan suku bunga untuk sisa 2026 dibanding sebulan lalu. Tekanan naik pada suku bunga AS jangka pendek ini dapat terus menarik arus dana dan makin menguatkan dolar.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.