Harga Minyak Memperpanjang Kenaikan
Minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) naik untuk hari kelima berturut-turut, terakhir diperdagangkan di atas $80,50 dan naik lebih dari 2% hari itu. WTI naik hampir 20% dalam sepekan, dan pemerintah AS mempertimbangkan opsi untuk mengatasi kenaikan harga minyak dan bensin. NFP Februari diperkirakan 59 ribu setelah 130 ribu pada Januari, dengan pengangguran diperkirakan tetap di 4,3%. Emas turun lebih dari 1% pada Kamis tetapi memantul di atas $5.100; EUR/USD (nilai euro terhadap dolar AS) bertahan sedikit di atas 1,1600 menjelang revisi Perubahan Ketenagakerjaan (Employment Change) dan PDB (GDP, ukuran total nilai barang dan jasa) kuartal 4 zona euro. Jepang mengatakan siap merespons dampak ekonomi dari konflik Iran dan belum sepenuhnya keluar dari deflasi (harga cenderung turun terus). BoJ (Bank of Japan/Bank Sentral Jepang) kembali menegaskan penyesuaian kebijakan bertahap. USD/JPY bertahan di atas 157,50, dan GBP/USD diperdagangkan di atas 1,3350 di bagian bawah rentang mingguannya. Menengok ke periode yang sama pada 2025, harga minyak mentah sempat melonjak melewati $80 per barel di tengah konflik Iran, memicu volatilitas besar (harga naik-turun tajam). Hari ini, dengan minyak WTI berada di sekitar $78, ketegangan di Timur Tengah tetap menjadi faktor utama, dan data terbaru dari EIA (Energy Information Administration, lembaga data energi pemerintah AS) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun selama tiga minggu berturut-turut, mengindikasikan pasokan ketat. Trader derivatif (pelaku yang memperdagangkan kontrak turunan seperti opsi dan futures) bisa mempertimbangkan opsi beli (call options, hak untuk membeli pada harga tertentu) pada kontrak berjangka minyak (oil futures, kontrak membeli/menjual minyak di harga dan waktu tertentu) karena eskalasi baru dapat mendorong harga kembali mendekati puncak tahun lalu.Posisi Dolar dan Emas
Dolar AS menguat sebagai aset aman saat itu, dengan indeks DXY di 99,00. Setahun kemudian, inflasi yang tetap tinggi—dengan laporan CPI (Consumer Price Index, ukuran inflasi harga barang/jasa) terakhir untuk Januari 2026 di 3,2%—membuat Federal Reserve (bank sentral AS) belum menurunkan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan (policy divergence, kebijakan bank sentral yang tidak sejalan) dengan bank sentral lain menopang kekuatan dolar, sehingga posisi beli (long positions, berharap harga naik) pada futures USD (kontrak berjangka dolar) atau opsi beli pada ETF UUP (produk bursa yang mengikuti pergerakan dolar) menjadi strategi yang menarik. Harga emas di atas $5.100 per ons tahun lalu menegaskan perannya sebagai pelindung saat krisis (hedge, alat untuk mengurangi risiko), bahkan ketika dolar kuat. Pada awal 2026, emas bergerak stabil di sekitar $5.050, ditopang pembelian bank sentral, tren yang dikonfirmasi data World Gold Council (lembaga industri emas global) yang menunjukkan pembelian rekor hingga paruh kedua 2025. Ini menciptakan “lantai” harga (level yang menahan harga agar tidak mudah turun), sehingga menjual opsi jual yang jauh dari harga pasar (out-of-the-money puts, opsi menjual yang kecil peluangnya dipakai) bisa menjadi cara untuk menerima premi (premium, uang yang diterima penjual opsi) sambil menunggu gejolak geopolitik berikutnya. Pada Maret 2025, pasar bersiap menghadapi laporan pekerjaan yang lemah, yang menambah ketidakpastian. Kini pada 2026, harga energi yang tinggi dan suku bunga ketat menekan prospek perusahaan, terlihat dari panduan yang hati-hati saat musim laporan kinerja terakhir. Kami menilai menjaga posisi volatilitas beli (long volatility, mendapat untung saat gejolak meningkat) lewat futures VIX (kontrak berjangka indeks volatilitas pasar) atau membeli opsi jual pelindung (protective puts, opsi untuk melindungi portofolio saat harga turun) pada indeks pasar luas seperti SPX (S&P 500 index) adalah lindung nilai yang bijak untuk beberapa pekan ke depan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.