Kepala IMF Georgieva mengatakan konflik di Timur Tengah sedang menguji ketahanan, berpotensi melemahkan sentimen serta pertumbuhan dan inflasi.

    by VT Markets
    /
    Mar 9, 2026
    Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan ketahanan ekonomi sedang diuji lagi karena konflik baru di Timur Tengah. Ia mengatakan konflik yang berlangsung lama dapat memengaruhi sentimen pasar (suasana hati dan keyakinan pelaku pasar), pertumbuhan, dan inflasi (kenaikan harga barang/jasa secara umum). Ia mengatakan fasilitas minyak dan gas impor (pasokan dari luar negeri) mengalami kerusakan dan penghentian operasi. Ia mengatakan keamanan energi (kepastian pasokan energi agar tetap tersedia dan stabil) kini menjadi kekhawatiran utama.

    Ketahanan Diuji Oleh Konflik Timur Tengah

    Georgieva mengatakan setiap kenaikan 10% harga minyak, jika bertahan hampir sepanjang tahun, akan menaikkan inflasi global sebesar 40 basis poin (bps, satuan perubahan kecil; 1 bps = 0,01%). Ia menggambarkan kondisi saat ini sebagai dunia yang penuh ketidakpastian dan mengatakan ini adalah keadaan yang kini dianggap biasa. Ia menyarankan pembuat kebijakan untuk menyiapkan skenario ekstrem. Ia mengatakan bank sentral yang independen (lembaga yang menetapkan kebijakan uang tanpa tekanan politik), aturan fiskal (batas dan pedoman belanja/pajak pemerintah), dan kerangka kebijakan dapat mendukung pertumbuhan yang lebih cepat. Ia mengatakan negara-negara harus menjaga ruang fiskal (cadangan kemampuan anggaran/utang) agar bisa dipakai saat terjadi guncangan. Ia mengatakan bank sentral Jepang merespons pergeseran dari inflasi yang lama berada di bawah target melalui serangkaian keputusan kebijakan. Kami mengingat peringatan akhir 2025 tentang ketahanan yang diuji oleh konflik baru di Timur Tengah. Kekhawatiran soal keamanan energi kini membuat harga minyak mentah tetap tinggi selama berbulan-bulan. Ini berarti gejolak di sektor energi kemungkinan berlanjut, sehingga muncul peluang dalam perdagangan opsi (kontrak yang memberi hak untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk lindung nilai (melindungi dari risiko) atau berspekulasi (ambil untung dari perkiraan) atas pergerakan harga yang tajam.

    Strategi Derivatif Untuk Gejolak

    Dengan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI, patokan harga minyak AS) berada di sekitar $95 per barel, data terbaru menunjukkan kenaikan 15% sejak awal tahun. Ini mencerminkan disiplin produksi berkelanjutan dari OPEC+ (kelompok negara OPEC dan mitra yang mengatur produksi minyak) dan gangguan pasokan kecil namun terus terjadi di kawasan tersebut. Karena itu, pelaku derivatif (produk keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan) dapat mempertimbangkan posisi untuk risiko kenaikan lanjutan harga minyak melalui opsi beli (call option, hak untuk membeli) atau bull call spread (strategi opsi: membeli call dan menjual call lain pada harga target lebih tinggi) pada ETF energi utama (reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan mengikuti indeks/kelompok saham energi). Kenaikan harga minyak 10% dari tahun ke tahun yang terus terjadi menambah inflasi global sebesar 40 basis poin, sesuai peringatan. Data CPI Februari (Consumer Price Index, ukuran inflasi berdasarkan harga barang/jasa) уже menunjukkan inflasi tetap di atas target Federal Reserve (bank sentral AS), sehingga pasar menghapus perkiraan satu kali penurunan suku bunga tahun ini. Ini membuat derivatif yang melindungi dari suku bunga yang tinggi lebih lama, seperti swap suku bunga (kontrak tukar arus pembayaran bunga) atau opsi atas kontrak berjangka obligasi pemerintah AS (treasury futures, kontrak untuk membeli/menjual obligasi di masa depan), makin relevan. Ketidakpastian ini menjadi keadaan yang dianggap biasa, dan tercermin pada sentimen pasar yang lebih luas. Indeks Volatilitas CBOE (VIX, ukuran perkiraan gejolak pasar saham) bertahan di atas 18, lebih tinggi dibanding rata-rata historis pada masa ekspansi ekonomi. Karena itu, trader dapat menggunakan kontrak berjangka VIX (VIX futures) atau opsi VIX untuk melindungi portofolio saham dari guncangan geopolitik mendadak. Kami juga melihat perbedaan arah kebijakan bank sentral yang sempat disinggung pada 2025, terutama Jepang. Saat Bank of Japan melangkah pelan dan fleksibel keluar dari kebijakan super longgar, The Fed tetap ketat (hawkish, cenderung menahan/menaikkan suku bunga) karena inflasi yang didorong energi. Kesenjangan kebijakan ini menunjukkan dolar AS mungkin tetap kuat terhadap yen, sehingga membuka peluang pada opsi mata uang USD/JPY (kontrak opsi untuk pasangan dolar AS vs yen Jepang).

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code