Penggerak Pasar Yen
Pada saat penulisan, USD/JPY naik 0,30% pada hari itu ke 158,35. Yen adalah salah satu mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, dan nilainya dipengaruhi oleh kinerja ekonomi Jepang, kebijakan Bank of Japan (BoJ) (bank sentral Jepang), selisih imbal hasil obligasi (tingkat keuntungan dari surat utang) Jepang dan AS, serta sentimen risiko pasar (apakah pelaku pasar cenderung berani atau menghindari risiko). BoJ memiliki mandat pengendalian mata uang (tugas resmi untuk menjaga stabilitas nilai mata uang) dan kadang melakukan intervensi (masuk ke pasar untuk membeli/menjual mata uang) untuk melemahkan yen, meski jarang dilakukan karena pertimbangan politik dengan mitra dagang utama. Kebijakan uang longgar ekstrem antara 2013 dan 2024 (suku bunga sangat rendah dan dukungan besar likuiditas/uang beredar) melemahkan yen, sementara pengurangan bertahap pada 2024 (mengurangi dukungan kebijakan longgar) dan pemangkasan suku bunga di negara lain membantu mempersempit selisih imbal hasil 10 tahun AS–Jepang. Yen sering dianggap sebagai aset aman (safe-haven, yaitu aset yang cenderung dicari saat pasar panik), dan biasanya menguat ketika pasar sedang tertekan.Dampak Terhadap Volatilitas
Pemerintah berniat menggunakan dana cadangan yang sudah ada dari anggaran 2025 dan 2026 untuk mengelola guncangan harga energi (kenaikan mendadak harga minyak/gas/listrik). Ini berarti kita tidak perlu berharap ada stimulus fiskal besar baru (dorongan ekonomi lewat belanja pemerintah atau pemotongan pajak) yang dapat mengubah prospek ekonomi secara besar. Karena itu, penggerak utama Yen kemungkinan tetap kebijakan moneter (kebijakan bank sentral seperti suku bunga dan pengaturan uang beredar) dan faktor risiko dari luar, bukan belanja pemerintah. Dengan USD/JPY diperdagangkan di level tinggi 158,35, Yen sangat lemah pada periode tekanan global—padahal biasanya berperan sebagai aset aman. Level ini mendekati titik yang pernah memicu intervensi pasar pada 2024, sehingga risiko BoJ ikut campur meningkat. Ketegangan antara status aset aman dan perbedaan suku bunga (selisih tingkat bunga antarnegara) membuat situasinya rapuh. Dari sisi kebijakan, BoJ perlahan mengurangi kebijakan longgarnya sejak 2024, dengan suku bunga acuannya (suku bunga utama bank sentral) kini 0,25%. Sementara itu, US Federal Reserve (bank sentral AS) juga memangkas suku bunganya ke sekitar 3,50%, tetapi perbedaan imbal hasil antara kedua negara tetap besar, sehingga dolar tetap lebih menarik. Selisih yang masih ada, walau menyempit, menjelaskan mengapa Yen tetap lemah meski BoJ secara bertahap mengetatkan kebijakan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.