Pendalaman krisis Timur Tengah mengangkat harga minyak dan menguatkan dolar AS di pasar valas di seluruh dunia

    by VT Markets
    /
    Mar 9, 2026
    Pasar membuka pekan dengan volatilitas lebih tinggi karena krisis Timur Tengah meningkatkan persepsi risiko. Tidak ada data ekonomi kelas atas yang dijadwalkan rilis pada Senin, jadi berita utama tetap menjadi penggerak utama. Presiden Iran Masoud Pezeshkian meminta maaf kepada negara-negara tetangga atas serangan setelah serangan AS-Israel. Ia mengatakan Teheran tidak akan menyerang “kecuali mereka diserang lebih dulu”.

    Risiko Pasokan Minyak Meningkat

    Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak memutuskan mengurangi produksi minyak karena ancaman terhadap pengiriman melalui Selat Hormuz (jalur laut sempit dan sangat penting untuk perdagangan minyak global). Dengan kapal tanker menghindari rute itu, kapasitas penyimpanan menjadi lebih ketat dan para produsen menahan produksi. WTI (patokan harga minyak AS) naik di atas $110, tertinggi sejak Juni 2022, dan Brent (patokan harga minyak global) naik di atas $114. Brent kemudian diperdagangkan dekat $105, naik sekitar 15% pada hari itu, sementara WTI dekat $100, naik 13%, setelah laporan bahwa IEA (badan energi internasional) mungkin mengoordinasikan pelepasan cadangan darurat (minyak dari stok strategis) di antara anggota G7 (kelompok negara maju). Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Israel melaporkan gelombang serangan baru di Iran bagian tengah dan serangan ke infrastruktur Hezbollah di Beirut, sementara laporan menyebut pencegatan drone dekat bandara Baghdad dan wilayah Jawf di Arab Saudi, serta asap dekat kilang Bapco Bahrain. Indeks USD (DXY, ukuran kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) naik 0,5% ke 99,30 setelah naik lebih dari 1% minggu lalu, dan futures (kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu untuk waktu mendatang) saham AS turun 1,7% hingga 1,5%. Emas diperdagangkan dekat $5.100, turun sekitar 1%; EUR/USD turun mendekati 1,1500 lalu sekitar 1,1550 setelah produksi industri Jerman Januari turun 0,5% dibanding bulan sebelumnya. Inflasi CPI (indeks harga konsumen, ukuran kenaikan harga barang/jasa) China naik ke 1,3% pada Februari dari 0,2%, USD/JPY bergerak menuju 159,00 lalu 158,50, dan GBP/USD turun lebih dari 0,5% di bawah 1,3350.

    Dampak Pasar Bagi Trader

    Jika melihat kembali lonjakan harga WTI di atas $110 yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu, pasar sedang panik. Hari ini, dengan WTI stabil dekat $78 per barel, terlihat bahwa premi risiko geopolitik (tambahan harga karena risiko konflik) sudah masuk ke harga dan bertahan, didukung data terbaru EIA (lembaga statistik energi AS) yang menunjukkan persediaan global masih di bawah rata-rata 5 tahun. Ini berarti trader opsi (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual aset pada harga tertentu) sebaiknya fokus pada strategi yang diuntungkan saat harga stabil, seperti menjual covered call (menjual opsi call sambil memegang aset dasarnya untuk membatasi risiko), karena ketakutan ekstrem awal 2025 telah berubah menjadi kisaran harga yang lebih bisa diperkirakan, meski tetap tinggi. Kita ingat Indeks Dolar AS melonjak ke 99,30 saat awal krisis, tetapi dampak jangka panjangnya adalah guncangan inflasi (kenaikan harga yang menyebar). Kenaikan suku bunga agresif The Fed (bank sentral AS) sepanjang 2025 kemudian mendorong Fed Funds rate (suku bunga acuan AS) ke 5,50% dan mengangkat DXY ke atas 104. Dengan laporan CPI AS terbaru menunjukkan inflasi bertahan di 3,1%, pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) tidak lagi memperkirakan kenaikan suku bunga lanjutan, tetapi fokus pada kapan pemotongan suku bunga pertama terjadi. Krisis energi pada 2025 memukul ekonomi Eropa dan mendorong EUR/USD turun menembus 1,1500. Setahun kemudian, pasangan ini masih kesulitan dekat 1,0800, mencerminkan perbedaan kebijakan yang jelas antara Fed yang cenderung ketat (hawkish: condong menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) dan Bank Sentral Eropa yang lebih ragu. Kesenjangan ini menunjukkan trader bisa memakai opsi untuk mengambil posisi pada pelemahan lanjutan di pasangan seperti EUR/USD dan GBP/USD. Pergerakan USD/JPY menuju 159,00 saat gejolak tahun lalu merupakan sinyal kuat “lari ke dolar” (flight to quality: dana masuk ke aset yang dianggap aman) yang tidak sepenuhnya berbalik. Tren itu menguat selama setahun terakhir, karena pasangan ini kini sering menguji ambang 160,00 akibat Bank of Japan menolak meninggalkan kebijakan moneter longgar (suku bunga rendah dan dukungan likuiditas). Fokus utama trader derivatif dalam beberapa minggu ke depan adalah bersiap untuk perubahan kebijakan mendadak atau intervensi pemerintah (aksi di pasar untuk memengaruhi nilai mata uang), sehingga membeli volatilitas (mengambil posisi yang untung jika harga bergerak besar) melalui straddle (membeli opsi call dan put sekaligus di harga dan waktu kedaluwarsa yang sama) menjadi strategi menarik.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code