Pergeseran ke Ekspektasi yang Lebih Ketat
Pergeseran ini mengasumsikan ECB bersedia menerima pertumbuhan ekonomi yang lebih lemah demi menjaga kepercayaan terhadap kemampuannya menekan inflasi (kenaikan harga secara umum). Ini juga menunjukkan kemungkinan ECB akan menyampaikan pesan yang lebih “ketat” (hawkish, yaitu cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk melawan inflasi) dalam waktu dekat. Namun, prospek ini dipertanyakan karena meningkatnya risiko terhadap pertumbuhan dan pasar keuangan. Kekhawatirannya termasuk dampak yang lebih berat pada negara-negara “pinggiran” zona euro (periphery, yaitu negara anggota yang ekonominya lebih rapuh dibanding inti seperti Jerman), anggaran yang makin sempit akibat harga energi lebih tinggi, serta tingkat utang yang sudah tinggi. Laporan tersebut menyebut tekanan-tekanan ini bisa membatasi seberapa tegas ECB mengetatkan kebijakan sebagai respons terhadap perang di Iran. Pasar telah mengubah pandangannya secara agresif terhadap ECB setelah guncangan harga minyak terbaru. Kontrak forward kini menunjukkan peluang 60% untuk kenaikan suku bunga pada Juni dan memperkirakan pengetatan lebih dari 30 basis poin hingga akhir tahun. Ini berarti pelaku pasar bersiap untuk ECB yang akan melawan inflasi dengan suku bunga lebih tinggi, meski berisiko menekan pertumbuhan ekonomi.Alasan Pasar Mungkin Terlalu Berlebihan
Namun, kami menilai penetapan harga yang “ketat” ini bisa berlebihan jika melihat data dasarnya. Angka terbaru Eurostat (badan statistik Uni Eropa) untuk Februari 2026 menunjukkan inflasi utama (headline inflation, yaitu inflasi total termasuk energi dan pangan) naik ke 3,4% karena energi. Tetapi inflasi inti (core inflation, yaitu inflasi yang biasanya tidak memasukkan komponen yang sangat bergejolak seperti energi dan pangan, dan lebih diperhatikan ECB) hanya naik tipis ke 2,3%. Perbedaan ini memberi alasan kuat bagi bank sentral untuk lebih sabar dibanding yang diperkirakan pasar. Selain itu, prospek ekonomi sudah terlihat lebih lemah, sehingga pengetatan agresif menjadi langkah berisiko. Staf ECB baru-baru ini menurunkan proyeksi pertumbuhan 2026 untuk zona euro dari 1,5% menjadi 0,9%, dengan alasan dampak biaya energi yang lebih tinggi pada belanja perusahaan dan konsumen. Mengetatkan kebijakan saat ekonomi melambat adalah pilihan yang sulit bagi bank sentral mana pun. Kami juga melihat tanda-tanda tekanan keuangan kembali muncul di pasar obligasi (bond, yaitu surat utang), terutama di negara dengan utang lebih besar. Selisih (spread, yaitu perbedaan) imbal hasil (yield, yaitu tingkat “hasil/bunga” yang didapat investor) obligasi pemerintah 10 tahun Italia dan Jerman melebar menjadi 190 basis poin dalam dua minggu terakhir, level tertinggi dalam lebih dari setahun. Ini menandakan bahwa ekspektasi suku bunga yang naik sudah membebani anggaran pemerintah dan menguji stabilitas pasar. Situasi ini mengingatkan pada krisis energi 2022, yang dari sudut pandang 2026 menjadi pelajaran tentang bahaya mengetatkan terlalu cepat saat terjadi guncangan energi. Saat itu ECB terpaksa menaikkan suku bunga, tetapi langkah tersebut memperlambat pemulihan pada tahun berikutnya. Kecil kemungkinan mereka melupakan dampak tersebut dan ingin mengulangnya. Ini dapat menciptakan peluang di pasar derivatif (instrumen turunan, yaitu produk keuangan yang nilainya mengikuti aset acuan seperti suku bunga), ketika harga saat ini seolah tidak sejalan dengan risiko ekonomi yang meningkat. Posisi yang diuntungkan jika jalur kenaikan suku bunga ECB lebih hati-hati atau tertunda bisa dipertimbangkan. Ini termasuk melihat swap suku bunga (interest rate swaps, yaitu perjanjian tukar arus bunga, misalnya bunga tetap ditukar dengan bunga mengambang) atau opsi (options, yaitu kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk bertransaksi) yang bertaruh pada lebih sedikit kenaikan suku bunga dibanding yang saat ini sudah diperhitungkan untuk paruh kedua tahun ini.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.