Data Inflasi AS dan Prospek The Fed
Pasukan Pertahanan Israel melaporkan gelombang serangan besar terhadap infrastruktur Hezbollah. Eskalasi yang lebih luas yang melibatkan Iran, AS, Israel, atau negara-negara di kawasan dapat meningkatkan permintaan terhadap Yen Jepang dan menekan USD/JPY. Data AS pada Rabu menunjukkan CPI (Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi harga barang dan jasa yang dibayar konsumen) naik 0,3% dibanding bulan sebelumnya pada Februari, naik dari 0,2%, sesuai perkiraan. Core CPI (inflasi inti, yaitu CPI tanpa harga makanan dan energi yang biasanya lebih bergejolak) naik 0,2% dibanding bulan sebelumnya setelah 0,3%, juga sesuai perkiraan. Pasar memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) akan mempertahankan suku bunga pada 18 Maret. Perhatian juga tertuju pada kenaikan harga minyak, yang dapat mendorong inflasi utama (headline inflation, inflasi total yang terlihat di CPI) dalam beberapa bulan ke depan. DBS mengatakan USD/JPY sedang menguji resistance (level harga “batas atas” yang sering menahan kenaikan) di sekitar 159–160 dan mencatat Bank of Japan (bank sentral Jepang) rapat pada 19 Maret. MUFG mengatakan harga energi yang lebih tinggi memperburuk posisi dagang Jepang (kondisi ekspor-impor) dan dapat mengurangi peluang intervensi mata uang dalam waktu dekat (tindakan bank sentral membeli/menjual mata uang untuk memengaruhi kurs).Persiapan Volatilitas Menjelang Rapat Bank Sentral Penting
Dengan USD/JPY menguji zona resistance penting 159–160, kita perlu bersiap untuk lonjakan volatilitas (naik-turun harga yang lebih besar dari biasanya). Rapat bank sentral minggu depan pada 18 Maret (The Fed) dan 19 Maret (BoJ) adalah pemicu utama yang diawasi. Harga opsi jangka pendek sudah menunjukkan premi (biaya opsi) yang lebih tinggi, menandakan pasar mengantisipasi pergerakan besar. Risiko geopolitik dari Timur Tengah berdampak langsung pada harga minyak, yang menjadi faktor besar di sini. Minyak mentah Brent kini menembus $91 per barel, level tertinggi dalam lebih dari lima bulan, sehingga membuat perkiraan inflasi semakin rumit. Ketegangan ini bisa memicu flight to safety (perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman), menguatkan JPY dan membuat pasangan ini turun tajam. Di sisi lain, Dolar AS tetap didukung oleh data inflasi yang masih “lengket” (sticky inflation, yaitu inflasi yang sulit turun). Laporan terbaru menunjukkan inflasi inti masih bertahan di sekitar 3,7%, sehingga The Fed tidak punya alasan untuk memberi sinyal penurunan suku bunga. Kekuatan Dolar ini menciptakan batas bawah yang kuat bagi USD/JPY, sehingga penurunan berkelanjutan menjadi kurang mungkin tanpa pemicu baru. Kita juga perlu mempertimbangkan sikap Jepang soal intervensi, yang tampaknya berubah dibanding tahun lalu. Kita ingat bagaimana pejabat pada 2025 memberi peringatan keras secara lisan saat pasangan ini mendekati level ini, tetapi akhirnya tidak menggunakan cadangan devisa (uang valas yang disimpan negara) untuk menahan pergerakan. Sikap tidak bertindak itu menunjukkan mereka mungkin masih menoleransi yen yang lebih lemah untuk mengurangi dampak buruk biaya impor energi yang tinggi. Karena pasar sedang “tertekan” dan siap bergerak besar, membeli volatilitas adalah pendekatan yang masuk akal. Strategi seperti long straddle (strategi opsi dengan membeli opsi beli dan opsi jual pada harga dan tanggal kedaluwarsa yang sama, agar untung jika harga bergerak besar ke salah satu arah), menggunakan opsi yang kedaluwarsa setelah rapat minggu depan, bisa efektif. Ini memungkinkan trader (pelaku jual-beli) meraih keuntungan dari pergerakan harga besar, baik tembus di atas 160 maupun berbalik turun dengan tajam. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.