Reprisel pasar terhadap kebijakan The Fed dan harga minyak yang lebih tinggi membuat yen tetap lemah, mendorong USD/JPY menuju level pemeriksaan kurs sebelumnya.

    by VT Markets
    /
    Mar 12, 2026
    USD/JPY naik untuk hari ketiga pada Kamis dan diperdagangkan dekat 159,18. Ini mengembalikan pasangan ini ke level yang dikaitkan dengan “pemeriksaan kurs” resmi Jepang pada 23 Januari, sehingga memunculkan lagi pembicaraan tentang kemungkinan intervensi (aksi pemerintah/otoritas masuk ke pasar untuk memengaruhi nilai tukar). Yen tetap lemah karena selisih suku bunga yang lebar antara Jepang dan ekonomi besar lain. Pasar juga menyoroti kebijakan fiskal Jepang (cara pemerintah mengatur pajak dan belanja) dan utang publik negara itu yang sudah tinggi (total utang pemerintah).

    Risiko Intervensi Kembali Muncul

    Permintaan Dolar AS meningkat di tengah konflik AS-Iran. Arus minyak melalui Selat Hormuz sangat terganggu, sehingga memengaruhi jalur penting untuk ekspor minyak mentah global (minyak mentah = minyak sebelum diolah). Jepang, sebagai pengimpor bersih energi besar (lebih banyak impor daripada ekspor) dengan banyak pasokan dari Timur Tengah, menghadapi biaya impor lebih tinggi. Ini bisa menekan pertumbuhan dan neraca perdagangan (selisih ekspor dan impor) serta menambah tekanan pada Yen. Bank of Japan (BoJ/bank sentral Jepang) tetap berhati-hati dalam mengetatkan kebijakan (menaikkan suku bunga atau mengurangi dukungan uang murah). Gubernur Kazuo Ueda mengatakan pada Kamis bahwa BoJ akan menetapkan kebijakan sambil menilai dengan cermat bagaimana pergerakan nilai tukar memengaruhi perkiraannya. Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga BoJ pada April, tetapi waktunya masih belum pasti. Pada saat yang sama, perkiraan pemangkasan suku bunga AS turun menjadi kurang dari 25 basis poin hingga akhir tahun (basis poin = 0,01%; 25 bps = 0,25%), dari lebih dari 50 basis poin sebelum konflik Timur Tengah. Ini mendukung Dolar lewat imbal hasil US Treasury (obligasi pemerintah AS; imbal hasil = tingkat keuntungan) yang lebih tinggi. Data AS yang dirilis pada Jumat mencakup PCE Price Index (indikator inflasi pilihan The Fed), estimasi awal PDB tahunan Q4 (PDB = ukuran total produksi ekonomi), Durable Goods Orders (pesanan barang tahan lama, biasanya barang mahal seperti mesin), serta indeks sentimen dan ekspektasi University of Michigan (survei kepercayaan konsumen).

    Trader Menimbang Kebijakan dan Volatilitas

    Jika melihat kembali awal 2025, USD/JPY sempat menembus 159, memicu kekhawatiran serius dari pejabat Jepang. Kini, pada Maret 2026, pasangan ini kembali mendekati level penting itu, diperdagangkan dekat 158,50, yang membuat potensi intervensi kembali menjadi fokus bagi trader. Ini menciptakan kondisi pasar valuta asing (pasar FX = pasar tukar mata uang) yang tegang. Setelah peringatan pada Januari 2025, Kementerian Keuangan akhirnya masuk ke pasar pada musim semi tahun itu. Catatan menunjukkan mereka menghabiskan hampir ¥7 triliun untuk mendukung yen, dan menyebabkan penurunan cepat beberapa yen pada pasangan ini hanya dalam beberapa hari. Riwayat ini menunjukkan pejabat biasanya memberi peringatan lisan dulu, tetapi batas toleransi mereka jelas dan biayanya besar. Masalah utama berupa selisih suku bunga—pendorong besar pelemahan yen pada 2025—masih terjadi. Walau BoJ sudah menaikkan suku bunga kebijakan ke 0,25%, The Fed AS hanya memangkas suku bunganya secara hati-hati ke 4,75%, sehingga selisih tetap besar dan mendorong carry trade (strategi meminjam mata uang bersuku bunga rendah lalu membeli aset/mata uang bersuku bunga lebih tinggi). Tekanan ini membuat penguatan yen yang bertahan lama sulit terjadi tanpa aksi resmi. Guncangan energi dari konflik AS-Iran pada 2025 juga meninggalkan dampak. Walau gangguan parah di Selat Hormuz sudah mereda, harga minyak global bertahan lebih tinggi, dengan minyak WTI (patokan harga minyak AS) kini stabil sekitar $85 per barel, naik dibanding sebelum konflik. Ini terus membebani neraca perdagangan Jepang dan memperkuat pelemahan yen yang bersifat struktural (kelemahan yang berasal dari kondisi dasar ekonomi, bukan sekadar pergerakan jangka pendek). Mengingat posisi saat ini dekat area intervensi 2025, trader derivatif (produk turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan strategi untuk melindungi dari penurunan mendadak USD/JPY. Membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan jatuh tempo satu atau dua bulan memberi lindung nilai langsung terhadap pergerakan mengejutkan dari otoritas Jepang. Biaya “asuransi” ini perlu dihitung ketika risiko penurunan 3–5% pada pasangan meningkat. Namun, selisih suku bunga masih mendukung memegang Dolar AS dibanding yen, sehingga arah yang paling mudah tetap naik. Strategi bullish (strategi yang mengharapkan harga naik) yang lebih hati-hati dapat memakai call spread (gabungan beli dan jual opsi call untuk membatasi biaya dan hasil), yang membatasi potensi untung dan rugi. Ini membantu trader mengambil manfaat dari kenaikan bertahap USD/JPY sambil membatasi risiko maksimum jika intervensi terjadi.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code