Data AS Dan Selisih Suku Bunga
Pesanan Barang Tahan Lama (durable goods, yaitu pesanan barang yang biasanya dipakai lebih dari tiga tahun) hampir tidak berubah pada Januari di $321,2 miliar, di bawah perkiraan kenaikan 1,2%. Lowongan kerja JOLTS (Job Openings and Labor Turnover Survey, laporan jumlah lowongan kerja) naik menjadi 6,946 juta pada Januari, di atas 6,55 juta dan di atas perkiraan. Sentimen konsumen AS melemah, dengan indeks University of Michigan turun menjadi 55,5 pada Maret dari 56,6. Kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik juga mendukung permintaan terhadap Dolar AS. Di Jepang, Yen tetap lemah dan USD/JPY diperdagangkan dekat level yang sebelumnya dikaitkan dengan intervensi Kementerian Keuangan Jepang (aksi pemerintah di pasar valas untuk memengaruhi nilai mata uang). Menteri Keuangan Satsuki Katayama mengatakan pejabat memantau pasar dan dapat bertindak terhadap volatilitas berlebihan (pergerakan harga yang terlalu liar). Prospek kebijakan Bank of Japan tetap menjadi fokus. Pasar memperkirakan pendekatan yang hati-hati sementara pejabat menilai pertumbuhan upah dan permintaan domestik.Melihat Ke Depan Untuk USD JPY
Kita mengingat ketegangan pada awal 2025 ketika dolar diperdagangkan di dekat 159,50 terhadap yen. Situasi itu didorong oleh selisih suku bunga yang lebar, dengan Federal Reserve bertahan pada kebijakan ketat sementara Bank of Japan tetap berhati-hati. Ini menciptakan dorongan kuat bagi trader untuk memilih dolar. Seperti yang terjadi pada paruh kedua 2025, otoritas Jepang memang melakukan intervensi, mirip seperti pada 2022 ketika pasangan ini pertama kali menembus level 150. Tindakan itu berhasil mendorong dolar turun dari puncaknya dekat 160. Intervensi tersebut menunjukkan bahwa Kementerian Keuangan kurang menerima pelemahan yen yang mereka anggap berlebihan. Kini, pada Maret 2026, kondisi berubah, dengan pasangan ini diperdagangkan lebih dekat ke 152,00. Federal Reserve melakukan dua kali pemangkasan suku bunga pada akhir 2025 ketika inflasi AS—kini sekitar 2,4% per tahun menurut laporan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi berdasarkan harga barang dan jasa)—telah turun cukup besar. Ini memperkecil perbedaan suku bunga yang sangat lebar setahun sebelumnya. Riwayat ini menunjukkan bahwa volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas yang tercermin dalam harga opsi) untuk yen kemungkinan tetap tinggi, terutama jika bergerak menuju level 155. Trader dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan dari kondisi ini, seperti menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan di atas harga pasar saat ini) untuk mendapatkan premi (biaya yang diterima penjual opsi). Risiko intervensi resmi lagi dapat menjadi pembatas kenaikan pasangan ini dalam waktu dekat. Walau selisih suku bunga menyempit, carry (keuntungan dari selisih bunga saat memegang mata uang berbunga lebih tinggi) masih positif untuk posisi beli dolar. Untuk mengelola risiko penguatan yen mendadak, trader bisa menggabungkan posisi spot USD/JPY (transaksi langsung pada harga saat ini) dengan membeli opsi put pelindung (opsi jual untuk membatasi kerugian). Ini memungkinkan ikut serta dalam carry trade (strategi memanfaatkan selisih bunga) sambil melindungi dari penurunan tajam yang tidak terduga.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.