Reaksi Pasar Minyak dan Pergerakan Harga
Menteri Transportasi Australia Catherine King mengatakan kepada ABC pada hari Senin bahwa Australia tidak akan mengirim kapal. Ia berkata Australia belum diminta untuk berkontribusi. Harga pasar bergerak tipis, dengan West Texas Intermediate (WTI)—patokan harga minyak mentah AS—turun 0,08% ke $97,35 pada saat penulisan. Karena belum ada komitmen dari sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz, pasar minyak kemungkinan tetap bergejolak (harga mudah naik-turun tajam). Indeks CBOE Crude Oil Volatility Index (OVX)—indeks yang mengukur perkiraan gejolak harga minyak dari harga opsi—berada di atas 55 selama dua minggu terakhir, level yang belum bertahan sejak fase awal konflik pada akhir 2025. Ini menunjukkan biaya premi opsi (biaya membeli kontrak opsi) masih tinggi, sehingga strategi seperti membeli straddle—membeli opsi beli dan opsi jual sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama—pada ETF minyak seperti USO (produk bursa yang mengikuti harga minyak) bisa menarik untuk menangkap pergerakan tajam ke arah mana pun. Risiko utama adalah pasokan makin tersendat, karena sekitar seperlima minyak dunia melewati selat itu. Data pelayaran terbaru menunjukkan premi asuransi kapal tanker di wilayah tersebut naik tiga kali lipat dalam sebulan terakhir, dan lalu lintas kapal turun hampir 15%. Gangguan yang bertahan lama dapat mendorong harga WTI ke kisaran $110–$120, sehingga opsi beli (call) berjangka lebih panjang bisa dipertimbangkan bagi trader yang memperkirakan harga akan naik.Kesamaan Sejarah dan Penempatan Posisi
Perlu mengingat pergerakan harga saat awal invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, ketika Brent—patokan harga minyak global—sempat menembus $130 per barel sebelum turun lagi. Tidak adanya respons angkatan laut NATO yang kompak menciptakan situasi yang serupa, bahkan bisa lebih berisiko, bagi rantai pasokan global (alur pengiriman barang dan energi). Contoh sejarah ini menunjukkan harga saat ini $97,35 masih punya ruang untuk naik jika konflik memburuk. Di luar transaksi langsung terkait energi, ada peluang untuk lindung nilai (hedging: langkah mengurangi risiko kerugian) terhadap dampak ekonomi yang lebih luas. Harga minyak yang tinggi akan menekan sektor transportasi dan industri, dan terlihat dana investasi menambah posisi short (bertaruh harga turun) pada saham maskapai dan perusahaan pengiriman. Membeli opsi jual (put) pada ETF transportasi dapat menjadi lindung nilai terhadap periode panjang harga bahan bakar yang mahal. Ketegangan geopolitik juga menguatkan transaksi “aset aman” (safe-haven: aset yang biasanya dicari saat kondisi tidak pasti). Emas sudah mendapat arus dana masuk, dengan kontrak berjangka (futures: kontrak untuk membeli/menjual di harga tertentu pada tanggal tertentu) naik 4% dalam dua minggu terakhir menjadi di atas $2.450 per ons. Pada saat yang sama, volume opsi beli pada kontraktor pertahanan besar seperti Lockheed Martin dan RTX meningkat, karena pasar memperkirakan belanja militer bisa naik terlepas dari bagaimana situasi Selat Hormuz diselesaikan.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.