Harga Minyak Dan Ekspektasi Inflasi
Harga minyak naik dalam beberapa minggu terakhir setelah penutupan Selat Hormuz saat konflik Timur Tengah melibatkan AS, Israel, dan Iran. Kenaikan harga minyak juga mendorong naik ekspektasi inflasi global (perkiraan pasar terhadap inflasi ke depan). Dolar AS melemah setelah kenaikan kuat menjelang keputusan Federal Reserve (The Fed, bank sentral AS) pada hari Rabu. The Fed diperkirakan menahan suku bunga di 3,50%–3,75%. AUD/USD berada di dekat 0,7015 dan mendekati rata-rata pergerakan eksponensial 20 hari (20-day EMA, rata-rata harga 20 hari yang lebih menekankan data terbaru) di sekitar 0,7053. RSI 14 hari (Relative Strength Index, indikator momentum untuk melihat apakah harga cenderung “terlalu beli” atau “terlalu jual”) berada di antara 40,00 dan 60,00 setelah turun dari kisaran 60,00–80,00. Resistance (area hambatan harga saat naik) berada dekat 0,7100, dengan batas di 0,7120–0,7150; jika tembus bisa mengarah ke kisaran 0,72. Support (area penahan harga saat turun) berada di 0,6944, lalu 0,6900, dengan risiko turun ke 0,6770–0,6800 jika melemah lagi.Konteks Pasar Dulu Dan Sekarang
Kita ingat kondisi pada Maret tahun lalu, saat perkiraan RBA yang hawkish (cenderung lebih mendukung kenaikan suku bunga untuk menekan inflasi) membuat AUD/USD naik di atas 0,7000. Pasar memperkirakan kenaikan suku bunga untuk melawan inflasi, yang didorong lonjakan harga minyak. Sekarang kondisinya berbeda, dengan pasangan ini sulit bertahan di dekat 0,6650 karena spekulasi pemangkasan suku bunga meningkat. RBA memang melanjutkan kenaikan suku bunga pada 2025, tetapi dengan data inflasi kuartalan terbaru Australia turun ke 3,1%, pasar kini memperkirakan setidaknya satu pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun ini. Sebaliknya, The Fed tetap berhati-hati dengan suku bunga bertahan di 4,00%–4,25%, karena inflasi jasa inti (kenaikan harga di sektor jasa yang dihitung tanpa komponen yang lebih bergejolak) lebih sulit turun dari perkiraan. Perbedaan suku bunga yang makin menguntungkan dolar AS ini menjadi tekanan besar bagi kenaikan AUD/USD. Guncangan harga minyak akibat geopolitik pada 2025 dulu menjadi pendorong utama dolar Australia, tetapi tekanan itu kini mereda. Fokus sekarang lebih ke harga komoditas industri utama, dan data terbaru menunjukkan kontrak berjangka (futures, perjanjian untuk membeli/menjual di harga tertentu pada waktu mendatang) bijih besi turun lebih dari 15% kuartal ini karena perkiraan permintaan global melemah. Ini menekan ketentuan perdagangan Australia (terms of trade, perbandingan harga ekspor terhadap impor) dan membatasi penguatan mata uang. Dengan kondisi ini, perlu mempertimbangkan posisi untuk potensi penurunan lanjutan atau kenaikan yang terbatas pada AUD/USD dalam beberapa minggu ke depan. Membeli opsi put (kontrak yang memberi hak untuk menjual pada harga tertentu; biasanya untung saat harga turun) dengan strike (harga patokan kontrak) sekitar 0,6600 bisa menjadi cara berbiaya lebih efisien untuk mendapat keuntungan jika support saat ini tembus. Bagi yang tidak terlalu bearish (tidak terlalu yakin harga akan turun), menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan strike di atas harga saat ini; biasanya nilainya lebih kecil) dengan strike dekat 0,6800 bisa memberi pendapatan premi (biaya yang diterima penjual opsi) sambil menetapkan area resistance yang diperkirakan tidak akan ditembus.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.