Dukungan Taktis Dolar dan Tekanan Pendanaan
BBH mengatakan mereka tetap netral secara siklus (pandangan untuk jangka menengah yang mengikuti naik-turun ekonomi) terhadap dolar AS dan memperkirakan DXY kembali ke kisaran 96,00–100,00. Mereka juga mengatakan DXY sudah bergerak melampaui level yang “seharusnya” jika hanya melihat selisih suku bunga (perbedaan tingkat bunga) antara AS dan negara ekonomi besar lain. Melihat kembali peristiwa 2025, kita melihat dolar mendapat dorongan taktis kuat dari permintaan aset aman. Ketegangan pelayaran di Selat Hormuz mendorong minyak Brent melewati $100 dan Indeks Dolar DXY ke level tertinggi 10 bulan. Ini adalah “flight to safety” (perpindahan dana ke aset yang dianggap aman), saat kebutuhan pendanaan dolar melonjak di tengah tekanan geopolitik yang tinggi. Dukungan taktis untuk dolar itu kini memudar saat memasuki kuartal pertama 2026. Walau situasi di Selat Hormuz tetap tegang, premi risiko perang untuk asuransi pelayaran (biaya tambahan asuransi karena risiko konflik) turun lebih dari 20% dari puncaknya di akhir 2025, menandakan turunnya “puncak ketakutan” pasar. Akibatnya, permintaan dolar AS jangka pendek yang didorong rasa takut juga mereda untuk sementara.Perdagangan dalam Kisaran DXY dan Pengaturan Volatilitas
Pandangan siklus tahun lalu terbukti benar, karena DXY kemudian turun kembali ke kisaran 96,00–100,00. Saat ini, indeks diperdagangkan di sekitar 98,60, level yang lebih sesuai dengan menyempitnya selisih suku bunga antara AS dan ekonomi besar lain. Pasar kini memperkirakan setidaknya satu kali pemangkasan suku bunga The Fed (bank sentral AS) sebelum akhir 2026, berbeda jauh dari sikap hawkish (cenderung menaikkan suku bunga/lebih ketat) tahun lalu. Bagi pedagang derivatif (produk turunan seperti opsi dan kontrak berjangka), ini berarti menjual volatilitas dolar (strategi mencari untung saat pergerakan harga diperkirakan tenang) bisa masuk akal dalam beberapa minggu ke depan. Dengan DXY diperkirakan bergerak dalam kisaran, strategi menjual opsi seperti short strangle (menjual opsi call dan put dengan harga strike berbeda) pada pasangan utama seperti EUR/USD atau USD/JPY bisa efektif. Posisi ini untung bila harga bergerak menyamping dan volatilitas tersirat (perkiraan volatilitas dari harga opsi) turun. Namun, pandangan bearish struktural (pandangan negatif jangka panjang berdasarkan faktor dasar) terhadap dolar makin relevan. Memburuknya kredibilitas fiskal AS (kemampuan dan kepercayaan pasar terhadap pengelolaan utang dan anggaran negara) menjadi faktor utama, dengan laporan terbaru Congressional Budget Office (lembaga analisis anggaran AS) Februari 2026 memproyeksikan rasio utang terhadap PDB (perbandingan total utang negara dengan ukuran ekonomi) mencapai 109% pada akhir tahun. Kekhawatiran ini, ditambah semakin politisnya kebijakan ekonomi menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections), menekan daya tarik dolar untuk jangka panjang. Karena itu, pedagang juga bisa mempertimbangkan posisi bearish jangka panjang pada dolar. Membeli opsi put DXY berjangka panjang (hak menjual pada harga tertentu, untuk melindungi/untung saat harga turun) atau ETF yang mengikuti dolar (reksa dana yang diperdagangkan di bursa dan meniru pergerakan dolar) dengan jatuh tempo enam bulan atau lebih memberi cara berbiaya relatif rendah untuk bersiap jika harga menembus di bawah level dukungan 96,00 (area harga yang sering menahan penurunan). Strategi ini memungkinkan memanfaatkan pelemahan struktural yang bisa makin cepat terjadi di paruh akhir tahun. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.