Futures indeks AS bergerak melemah dalam perdagangan Eropa, dengan Dow mendekati 46.850; S&P dan Nasdaq juga turun

    by VT Markets
    /
    Mar 17, 2026
    Dow Jones futures turun 0,27% ke sekitar 46.850 pada jam perdagangan Eropa hari Selasa. S&P 500 futures turun 0,50% ke sekitar 6.670, sementara Nasdaq 100 futures turun 0,58% ke sekitar 24.530. Penurunan ini terjadi setelah harga minyak kembali naik, sehingga menambah kekhawatiran tentang inflasi (kenaikan harga barang dan jasa secara umum). Harga minyak mentah naik karena Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup, memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global (ketersediaan minyak untuk dunia) akan berlangsung lebih lama.

    Ketegangan Regional Dan Risiko Minyak

    Ketegangan regional meningkat setelah Iran memperkuat serangan terhadap infrastruktur energi (fasilitas penting seperti terminal, pipa, dan penyimpanan minyak). Serangan drone (pesawat tanpa awak) memicu kebakaran di Zona Industri Minyak Fujairah, UAE, tanpa korban luka. Beberapa negara menolak permintaan Presiden AS Donald Trump untuk mengirim pengawalan kapal perang bagi kapal tanker (kapal pengangkut minyak) yang melewati selat tersebut. Trump mengkritik sekutu Barat dan mengatakan mereka tidak sebanding dengan dukungan AS di masa lalu, sehingga menambah ketegangan diplomatik (hubungan antarnegara). Pasar juga bereaksi terhadap dampak inflasi dari biaya energi yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi kebijakan moneter (kebijakan bank sentral tentang suku bunga dan uang beredar). Perkiraan pemotongan suku bunga Federal Reserve (bank sentral AS) dalam waktu dekat melemah. CME FedWatch Tool (alat pemantau perkiraan pasar atas keputusan suku bunga The Fed berdasarkan data perdagangan) menunjukkan para trader memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga di 3,50%–3,75% pada rapat hari Rabu. Ini akan menjadi jeda (tidak ada perubahan suku bunga) untuk kedua kalinya berturut-turut.

    Menengok Volatilitas Tahun Lalu

    Kita ingat ketidakstabilan pasar tahun lalu ketika ketegangan di Timur Tengah memicu lonjakan tajam harga minyak mentah, yang menekan equity futures (kontrak berjangka indeks saham). Peristiwa itu menunjukkan betapa cepat risiko geopolitik (risiko dari konflik dan hubungan antarnegara) bisa berubah menjadi volatilitas pasar (naik-turun harga yang tajam) secara luas. Kekhawatiran saat itu adalah lonjakan minyak akan mendorong inflasi dan memaksa Federal Reserve bertindak. Hari ini, meski krisis besar di Selat Hormuz sudah mereda, dampaknya masih terasa karena harga minyak tetap tinggi. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) (patokan harga minyak AS) saat ini diperdagangkan sekitar $81 per barel, jauh di atas level sebelum gangguan tahun lalu. Mengingat lebih dari 20% konsumsi minyak dunia masih melewati jalur sempit itu, setiap ketegangan baru menjadi risiko besar bagi rantai pasok (alur pasokan dari produksi hingga distribusi). Dampak inflasi dari guncangan energi 2025 kini terlihat dalam data ekonomi terbaru. Laporan Consumer Price Index (CPI) (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) terbaru untuk Februari 2026 menunjukkan inflasi bertahan di 3,1%, lebih “bandel” (sulit turun) dari yang diharapkan. Tekanan harga yang bertahan ini merupakan akibat langsung dari biaya energi yang lebih tinggi yang menyebar ke seluruh perekonomian selama setahun terakhir. Hal ini membuat Federal Reserve berada dalam posisi sulit, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%–4,00% untuk menahan inflasi. Menurut CME FedWatch Tool, peluang pemotongan suku bunga pada Juni 2026 kini turun menjadi di bawah 50%, berubah besar dari perkiraan sebelumnya. Trader kini harus memperhitungkan kondisi suku bunga “tinggi lebih lama” (suku bunga bertahan tinggi dalam waktu panjang) setidaknya untuk kuartal (periode tiga bulan) berikutnya. Dengan kondisi ini, masuk akal untuk bersiap menghadapi volatilitas yang berlanjut, meski VIX (indeks volatilitas yang sering disebut “indeks ketakutan” pasar) saat ini berada di sekitar 15 yang relatif tenang. Membeli protective put options (opsi jual untuk perlindungan, yaitu kontrak yang memberi hak menjual di harga tertentu agar portofolio terlindungi saat pasar turun) pada indeks pasar luas seperti S&P 500 dapat menjadi lindung nilai (hedge, cara mengurangi risiko) yang berguna terhadap penurunan mendadak. Selain itu, memakai opsi pada ETF sektor energi (ETF adalah “reksa dana” yang diperdagangkan seperti saham; ETF sektor energi berisi saham perusahaan energi) bisa menjadi cara untuk berspekulasi (mencari untung dari pergerakan harga) pada perubahan harga minyak yang lebih besar. Biaya energi yang lebih tinggi akan terus menjadi hambatan bagi sektor yang sensitif terhadap harga bahan bakar seperti transportasi dan maskapai. Karena itu, sebaiknya berhati-hati mengambil posisi beli (long position, strategi yang untung jika harga naik) di area ini. Sebagai gantinya, pertimbangkan strategi yang diuntungkan oleh kondisi ini, seperti call options (opsi beli, kontrak yang memberi hak membeli di harga tertentu) pada produsen energi besar yang diuntungkan saat harga minyak tinggi.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code