Lee Hardman dari MUFG mengatakan kenaikan suku bunga RBA yang berturut-turut telah mendorong suku bunga ke 4,10%, menopang AUD, namun kemudian penguatannya memudar.

    by VT Markets
    /
    Mar 17, 2026
    Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) menaikkan suku bunga kebijakan sebesar 25 bps (basis poin, yaitu 0,25%) menjadi 4,10%. Ini adalah kenaikan dua kali berturut-turut dan menjadi suku bunga kebijakan tertinggi di antara bank sentral G10 (kelompok 10 negara maju). AUD/USD (nilai tukar Dolar Australia terhadap Dolar AS) sempat naik ke 0,7094, tetapi kemudian turun kembali dan membalikkan kenaikan tersebut. Keputusan ini lolos dengan suara 5–4, dan RBA menyebut ada “risiko besar” bahwa inflasi tetap di atas target lebih lama dari perkiraan. RBA juga menyoroti informasi sejak Februari yang menunjukkan sebagian inflasi mencerminkan tekanan kapasitas (keterbatasan kemampuan ekonomi/industri memenuhi permintaan) dan permintaan yang menguat pada akhir 2025. RBA mengatakan inflasi kemungkinan masih di atas target untuk beberapa waktu dan risikonya “semakin condong ke atas” (risiko inflasi lebih tinggi). Ini berarti RBA masih membuka peluang kenaikan suku bunga lagi. Pasar sudah memperkirakan kenaikan berikutnya bisa terjadi secepat rapat bulan Mei. Gubernur Bullock mengatakan langkah terbaru ini tidak menunjukkan jalur kebijakan yang sudah pasti. Ia menyebut belum jelas apakah RBA sedang menaikkan suku bunga lebih cepat di awal (front-loading, menaikkan lebih banyak/lebih cepat di fase awal) atau memulai rangkaian kenaikan yang lebih panjang. Ekspektasi pasar mencakup dua kenaikan lagi tahun ini, sementara imbal hasil Australia (yields, yaitu tingkat pengembalian obligasi) dan harga komoditas yang lebih tinggi mendukung mata uang. Artikel ini mencatat bahwa agar penguatan AUD berbalik, guncangan harga energi (kenaikan tajam biaya energi) perlu memicu perlambatan pertumbuhan global yang lebih besar dan koreksi aset berisiko (penurunan harga aset seperti saham dan mata uang berisiko) yang lebih dalam. Kenaikan suku bunga RBA ke 4,10% menciptakan peluang yang jelas, meski tetap rumit. Walau kenaikan awal Dolar Australia memudar, sikap RBA yang cenderung “hawkish” (lebih tegas melawan inflasi, biasanya lewat suku bunga lebih tinggi) adalah poin utama. Fokusnya adalah menyiapkan posisi untuk potensi penguatan AUD terhadap Dolar AS, karena bank sentral memberi sinyal akan melawan inflasi dengan agresif. Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call AUD/USD (opsi beli, yaitu hak—bukan kewajiban—untuk membeli pada harga tertentu) dengan jatuh tempo setelah rapat RBA bulan Mei. Strategi ini memberi peluang mendapat keuntungan jika harga naik, sambil membatasi risiko secara jelas. Karena pasar sudah memperkirakan peluang tinggi untuk kenaikan suku bunga berikutnya, opsi ini bisa diuntungkan oleh kenaikan harga spot (harga saat ini di pasar) dan kenaikan volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi). Pandangan hawkish ini didukung data terbaru yang menunjukkan inflasi Australia masih sulit turun. Angka terbaru untuk Februari 2026 menunjukkan CPI (Consumer Price Index/Indeks Harga Konsumen, ukuran inflasi) sebesar 3,9% dibanding setahun sebelumnya, jauh di atas target RBA 2–3%. Pasar tenaga kerja yang ketat, dengan pengangguran tetap rendah di 3,8%, memperkuat kekhawatiran bank sentral soal tekanan upah dan permintaan. AUD juga didukung harga komoditas yang kuat, yang menjadi pendorong utama. Bijih besi, ekspor penting Australia, diperdagangkan kuat di atas US$120 per ton karena permintaan industri yang stabil. Selama dukungan ini bertahan, hal tersebut memberi “lantai” dasar (penopang yang menahan penurunan) bagi mata uang terhadap guncangan dari luar. Namun, fakta bahwa lonjakan awal AUD/USD ke 0,7094 kemudian dijual menunjukkan ada hambatan kuat (resistance, area harga yang sering menahan kenaikan) dan keraguan pasar. Ini membuat posisi beli langsung lewat kontrak futures (kontrak berjangka, perjanjian membeli/menjual di masa depan) lebih berisiko, sehingga opsi lebih masuk akal untuk mengelola potensi penurunan. Hasil voting yang tipis 5–4 pada kenaikan suku bunga juga mengisyaratkan kemungkinan perubahan arah kebijakan (pivot, beralih ke kebijakan yang lebih longgar) di akhir tahun jika data ekonomi melemah. Kita perlu ingat bahwa RBA bereaksi terhadap tekanan inflasi yang sulit turun dan menguat pada paruh kedua 2025. Konteks ini menunjukkan bank sentral sedang mengejar ketertinggalan, sehingga mendukung gagasan kenaikan yang dipercepat di awal. Karena itu, posisi derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) sebaiknya disusun untuk memanfaatkan sikap tegas RBA dalam jangka dekat.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code