Respons Kebijakan Dapat Membentuk Dampak pada Mata Uang
Dampak pada mata uang dapat bergantung pada respons kebijakan di luar AS. Dukungan fiskal (kebijakan pemerintah lewat belanja negara atau pemotongan pajak) yang lebih besar bisa melindungi pendapatan riil (daya beli setelah memperhitungkan inflasi), meredakan tekanan inflasi, dan memungkinkan bank sentral menaikkan suku bunga riil (suku bunga setelah dikurangi inflasi), yang dapat mendukung mata uang lokal. Pergerakan valuta asing juga terkait dengan ekspektasi kebijakan Federal Reserve AS (bank sentral AS). Peristiwa yang membuat pasar memperkirakan The Fed akan lebih “dovish” (lebih cenderung menurunkan suku bunga atau melonggarkan kebijakan) dibanding wilayah lain dapat sebagian mengimbangi dampak harga energi yang lebih tinggi terhadap dolar. Pergerakan terbaru selama dua minggu terakhir dinilai mendukung penguatan dolar, tetapi perkiraan dibiarkan tidak berubah hingga April karena ketidakpastian. Konflik yang masih berlangsung di Iran membuat harga energi menjadi pendorong utama pasar. Selama lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz terganggu, dolar kemungkinan akan mendapat dukungan dari melemahnya pertumbuhan global. Harga minyak Brent (patokan harga minyak internasional) menguatkan pandangan ini, baru-baru ini menembus $115 per barel untuk pertama kalinya sejak gejolak akhir 2025.Volatilitas Pasar dan Penempatan Posisi
Guncangan ini paling keras menghantam Asia, sehingga mata uang Asia menjadi titik tekanan utama bagi arah dolar. Yen Jepang sudah melemah melewati 160, titik terendah dalam beberapa dekade, sementara Won Korea turun lebih dari 8% sejak awal tahun. Trader (pelaku jual-beli di pasar) dapat mempertimbangkan membeli opsi call dolar AS (kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli dolar di harga tertentu sebelum tanggal tertentu) terhadap sekeranjang mata uang Asia untuk bersiap jika penguatan berlanjut. Kami memantau respons bank sentral dengan ketat, karena stimulus fiskal besar di luar AS dapat menahan reli dolar ini. Namun, data terbaru dari alat CME FedWatch (indikator berbasis data pasar untuk membaca perkiraan arah suku bunga The Fed) menunjukkan pasar kini memperkirakan lebih sedikit pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 dibanding perkiraan sebelumnya. Ini berbeda dengan Bank Sentral Eropa, yang tampak lebih siap melonggarkan kebijakan, sehingga selisih suku bunga (perbedaan tingkat suku bunga antarwilayah) makin menguntungkan dolar. Tingkat ketidakpastian yang tinggi berarti premi opsi (biaya untuk membeli kontrak opsi) meningkat, mencerminkan risiko pergerakan pasar yang tajam. Volatilitas pasar mata uang (tingkat naik-turun yang cepat dan besar pada nilai tukar) melonjak ke level yang mengingatkan pada tekanan perbankan awal 2025. Kondisi ini menunjukkan strategi yang berfokus pada volatilitas (mencari untung dari besarnya pergerakan, bukan dari arah naik/turun saja), bukan hanya strategi yang bertaruh dolar naik, bisa menguntungkan dalam beberapa minggu mendatang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.