Selama perdagangan Asia, USD/JPY bangkit ke 158,33, didukung oleh support EMA 20 hari di sekitar 157,50.

    by VT Markets
    /
    Mar 20, 2026
    USD/JPY naik 0,4% ke sekitar 158,33 di Asia pada Jumat setelah jatuh tajam pada Kamis. Yen melemah meski Bank of Japan (BoJ—bank sentral Jepang) mempertahankan pandangan kebijakan yang tetap ketat (hawkish, artinya cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menahan inflasi). BoJ mempertahankan suku bunga di 0,75%. Gubernur Kazuo Ueda mengatakan kenaikan suku bunga mungkin dilakukan jika perlambatan ekonomi yang terkait konflik Timur Tengah ternyata hanya berlangsung singkat.

    BoJ Tetap Ketat di Tengah Ketidakpastian Pertumbuhan

    Pejabat BoJ menyebut ketidakpastian pertumbuhan saat harga energi naik setelah serangan gabungan AS dan Israel ke Iran. Dolar AS menguat, dengan Dollar Index (DXY—indeks yang mengukur kekuatan Dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) naik 0,2% ke sekitar 99,35. Pasar memperkirakan Federal Reserve (The Fed—bank sentral AS) akan menahan suku bunga, dan alat CME FedWatch (alat yang memperkirakan peluang keputusan suku bunga The Fed berdasarkan harga kontrak berjangka) menunjukkan The Fed kecil kemungkinan memangkas suku bunga tahun ini. USD/JPY tetap sedikit condong naik setelah memantul dari EMA 20 hari (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) yang naik di dekat 157,50. RSI 14 hari (Relative Strength Index/indikator kekuatan momentum harga) bergerak ke kisaran 40,00–60,00 dari 60,00–80,00. Level support (area harga yang sering menahan penurunan) adalah 157,50, lalu 156,46 dan 155,35, sementara resistance (area harga yang sering menahan kenaikan) adalah 159,00, lalu 159,90 dan 160,50. BoJ menargetkan inflasi sekitar 2% dan memulai kebijakan super-longgar pada 2013 dengan QQE (Quantitative and Qualitative Easing—pelonggaran moneter lewat pembelian aset dalam skala besar untuk menurunkan biaya pinjaman), kemudian suku bunga negatif dan kontrol imbal hasil 10 tahun pada 2016 (yield control—kebijakan menjaga imbal hasil obligasi pemerintah pada level tertentu). BoJ menaikkan suku bunga pada Maret 2024, setelah bertahun-tahun perbedaan kebijakan melemahkan Yen, dengan inflasi terdorong di atas 2% oleh Yen yang lebih lemah, biaya energi yang lebih tinggi, dan prospek kenaikan upah.

    Paruh 2025 Menjadi Dasar

    Melihat kembali analisis dari pertengahan 2025, kita dapat melihat dasar pasar saat ini sedang dibangun. Saat itu, USD/JPY diperdagangkan di sekitar 158,33, dengan pelaku pasar mengamati level 157,50 sebagai support utama. Perbedaan arah kebijakan terlihat jelas: The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga tinggi, sementara BoJ baru memberi sinyal kemungkinan kenaikan di masa depan. Kini situasinya berubah, dengan USD/JPY bergerak menuju 161,20. BoJ menindaklanjuti sinyal ketatnya dengan menaikkan suku bunga acuan menjadi 1,00% pada Desember 2025 karena inflasi tetap tinggi. Data inflasi inti terbaru Jepang sebesar 2,8% masih jauh di atas target 2% BoJ, sehingga pengetatan (tightening—menaikkan suku bunga/menarik likuiditas agar inflasi turun) mungkin belum selesai. Sementara itu, sikap The Fed lebih longgar dibanding tahun lalu. Walau The Fed menahan suku bunga sepanjang 2025, data inflasi AS terbaru menunjukkan Consumer Price Index/CPI (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) turun ke 3,1%, sehingga pejabat memberi sinyal kemungkinan pemangkasan suku bunga pada paruh kedua 2026. Selisih arah kebijakan AS dan Jepang yang mengecil ini menambah risiko dua arah (harga bisa bergerak kuat naik atau turun). Ketegangan ini membuat taruhan arah tunggal berisiko, dan ini terlihat di pasar opsi. Volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan besarnya gerak harga yang “tercermin” dari harga opsi) pada opsi USD/JPY satu bulan naik ke 11,5%, meningkat dari rata-rata 8,9% pada kuartal terakhir 2025. Kondisi ini menyiratkan bahwa membeli volatilitas melalui strategi seperti long straddle atau strangle (strategi opsi untuk untung dari pergerakan besar ke salah satu arah) bisa menarik, karena bisa untung dari pergerakan besar ke atas atau ke bawah. Bagi yang tetap sedikit condong naik tetapi khawatir terjadi pembalikan tajam, pertimbangkan memakai risk reversal (strategi opsi: membeli call out-of-the-money dan menjual put out-of-the-money untuk mengurangi biaya). Dengan membeli call out-of-the-money (opsi beli di harga di atas harga pasar saat ini) dan sekaligus menjual put out-of-the-money (opsi jual di harga di bawah harga pasar saat ini), trader bisa mengambil posisi untuk kenaikan lanjutan dengan biaya lebih rendah atau bahkan nol. Strategi ini memungkinkan ikut untung jika tren naik berlanjut, tetapi perlindungannya terbatas jika pasangan mata uang ini berbalik arah tiba-tiba.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code