Setelah libur sebelumnya, rupee India melemah lebih lanjut, mendorong USD/INR menembus 94 di tengah arus keluar modal

    by VT Markets
    /
    Mar 20, 2026
    USD/INR naik ke sekitar 94,23 pada hari Jumat, level tertinggi sepanjang sejarah, setelah Rupee India kembali melemah usai libur. Pergerakan ini terkait arus keluar dana asing, kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah, dan Dolar AS yang lebih kuat. Investor Institusi Asing (Foreign Institutional Investors/FII, yaitu investor besar dari luar negeri) menjual saham India sepanjang Maret pada setiap hari perdagangan. Total penjualan bersih bulan ini mencapai Rs. 81.262,5 crore (crore = 10 juta; jadi sekitar Rs. 812.625.000.000), di tengah ketidakpastian terhadap perkiraan laba Nifty 50 (indeks 50 saham terbesar di India) untuk Q4 FY 2025–26 (kuartal 4 tahun fiskal 2025–2026) karena minyak menaikkan tekanan biaya.

    Kekuatan Dolar dan Tekanan dari Minyak

    Indeks Dolar AS (US Dollar Index, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) naik hampir 0,3% ke sekitar 99,45, setelah sempat menyentuh sekitar 99,00 pada hari Kamis. Dolar turun lebih dari 1% pada hari Kamis setelah komentar bank sentral mendukung kebijakan uang yang lebih ketat (monetary settings lebih ketat = suku bunga tinggi/pengetatan agar inflasi terkendali). CME FedWatch (alat pemantau probabilitas keputusan suku bunga The Fed dari harga kontrak berjangka) menunjukkan peluang 80% bahwa The Fed mempertahankan suku bunga tetap atau di atas 3,50%–3,75% pada rapat bulan Desember, naik dari 40% seminggu sebelumnya. Perkiraan pemangkasan suku bunga yang lebih sedikit dikaitkan dengan harga minyak yang lebih tinggi dan proyeksi inflasi yang naik. USD/INR diperdagangkan di atas 94,00 dengan RSI 14 hari (Relative Strength Index, indikator teknikal untuk melihat seberapa kuat naik/turun harga; angka tinggi sering berarti pasar “terlalu banyak dibeli”) di level 80. Hambatan (resistance, area harga yang sering menahan kenaikan) terlihat dekat 95,00, dengan penopang (support, area harga yang sering menahan penurunan) sekitar 93,00, 92,35, 92,30, dan 91,80. Kita melihat pola yang mirip dengan yang terjadi pada Maret 2025 saat USD/INR menyentuh rekor 94,23. Lonjakan itu didorong arus keluar dana asing yang besar dan harga minyak yang tinggi—faktor dasar (fundamental, kondisi ekonomi utama yang memengaruhi harga) yang muncul kembali sekarang. Trader dapat menjadikan periode itu sebagai acuan untuk potensi naik-turun besar (volatilitas) dalam beberapa minggu ke depan.

    Dampak Strategi bagi Trader

    Pendorong utama yang perlu dipantau adalah perilaku FII, yang menarik dana besar Rs. 81.262,5 crore dari saham India pada Maret lalu. Tren ini terlihat berulang, dengan data NSDL terbaru dari Februari 2026 menunjukkan arus keluar bersih FII lebih dari Rs. 35.000 crore dari pasar tunai (cash market, transaksi beli-jual saham biasa). Tekanan jual yang konsisten ini menunjukkan bahwa melindungi (hedging, mengurangi risiko kerugian) portofolio saham dengan membeli opsi jual (put option, hak untuk menjual pada harga tertentu) Nifty 50 yang out-of-the-money (harga kesepakatan/strike price lebih rendah dari harga indeks saat ini) bisa menjadi strategi yang lebih aman. Situasi harga minyak juga mengulang masa lalu, sehingga terus menekan rupee. Jika konflik tahun lalu mendorong harga naik, pemangkasan produksi OPEC+ (kelompok negara pengekspor minyak dan sekutunya) saat ini membuat minyak Brent (patokan harga minyak global) bertahan di atas US$90 per barel, memperlebar defisit perdagangan India (selisih saat impor lebih besar daripada ekspor). Trader derivatif (derivative traders, pelaku pasar instrumen turunan seperti futures dan opsi) dapat mempertimbangkan posisi beli (long position, untung jika harga naik) pada kontrak berjangka (futures, perjanjian jual-beli di masa depan) USD/INR untuk berspekulasi rupee melemah lebih lanjut akibat mahalnya impor energi. Kebijakan bank sentral juga penting, seperti pada 2025 ketika pasar memperkirakan The Fed menahan suku bunga. Kini pada 2026, data inflasi AS yang lebih panas dari perkiraan di 3,4% menghentikan siklus pemangkasan suku bunga yang sebelumnya diantisipasi, sehingga menguatkan Indeks Dolar AS kembali menuju level 99,50. Perbedaan arah dengan Reserve Bank of India (bank sentral India) yang enggan mengetatkan kebijakan membuat posisi beli dolar terlihat menarik. Mengingat USD/INR mendekati level hambatan teknikal dan psikologis dari tahun lalu, strategi opsi tampak paling cocok. Kita dapat mempertimbangkan membeli opsi beli (call option, hak untuk membeli pada harga tertentu) USD/INR dengan strike price 94,00 dan 94,50 untuk bersiap jika terjadi tembus naik (breakout, harga menembus hambatan dan lanjut naik) ke rekor baru. Transaksi ini memberi risiko yang jelas (kerugian dibatasi pada premi opsi) sambil tetap memberi peluang untung besar bila pola pelemahan rupee terulang.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code