Perubahan Sentimen Risiko Pasar
Minat terhadap aset berisiko turun di berbagai pasar dan saham India melemah, dengan Nifty 50 turun hampir 2,5% ke level terendah lebih dari 11 bulan di sekitar 22.550. Indeks Dolar AS (DXY: ukuran kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama) naik 0,5% mendekati 100,00. Pada Maret, Investor Institusional Asing menjadi penjual bersih (lebih banyak menjual daripada membeli) pada semua hari perdagangan dan menjual saham India senilai Rs. 86.780,89 crore. Saudi Aramco memangkas pasokan minyak mentah ke pembeli Asia untuk bulan kedua pada April setelah gangguan perdagangan melalui Selat Hormuz. Perhatian lalu beralih ke data awal PMI (Purchasing Managers’ Index/Indeks Manajer Pembelian: indikator cepat kondisi aktivitas bisnis) sektor swasta India dan AS untuk Maret, yang dijadwalkan rilis pada Selasa. Pada grafik, USD/INR berada di atas EMA 20 hari yang naik di sekitar 92,60 (EMA: rata-rata bergerak yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru), dengan RSI 14 hari di 81,56 (RSI: indikator momentum; angka tinggi berarti kondisi “terlalu banyak dibeli”). Hambatan harga (resistance: area yang sering menahan kenaikan) berada di sekitar 94,50 dan 95,00, sedangkan penopang (support: area yang sering menahan penurunan) di sekitar 94,00 dan 93,50. Dengan USD/INR menembus rekor 94,40, arah yang paling mungkin dalam beberapa minggu ke depan masih naik. Kami menilai membeli opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga pelaksanaan/strike di atas harga saat ini, sehingga saat ini belum menguntungkan) dengan target level psikologis 95,00 memberi keseimbangan risiko-imbalan yang baik. Pelemahan cepat ini mengingatkan pada gejolak 2022, saat rupee turun lebih dari 10% terhadap dolar di tengah kekacauan global. Lonjakan minyak WTI menuju $100 adalah pendorong utama, dan kami memperkirakan tekanan ini berlanjut selama Selat Hormuz masih terancam. Karena India mengimpor lebih dari 85% kebutuhan minyak mentahnya, setiap kenaikan $1 harga minyak langsung memperlebar defisit transaksi berjalan (selisih antara pemasukan dan pengeluaran negara dari perdagangan dan pendapatan luar negeri). Tekanan dasar ini mendukung posisi beli yang bertahan pada derivatif USD/INR (derivatif: produk turunan seperti kontrak berjangka dan opsi yang nilainya mengikuti aset acuan).Opsi Saham Dan Strategi Volatilitas
Penurunan tajam Nifty 50, yang menghapus seluruh kenaikan sejak pertengahan 2025, menunjukkan kekhawatiran besar terhadap laba perusahaan akibat biaya energi dan impor yang lebih tinggi. Karena Investor Institusional Asing sudah menarik dana lebih dari Rs. 86.000 crore bulan ini, kami memperkirakan penurunan bisa berlanjut. Membeli opsi put Nifty 50 (opsi jual: mendapat manfaat saat harga turun) adalah cara langsung untuk mengambil posisi atas sentimen penghindaran risiko (risk-off: investor mengurangi aset berisiko) ini. Ultimatum kepada Iran membuat volatilitas tersirat tetap tinggi (implied volatility: perkiraan besarnya naik-turun harga yang “tercermin” dalam harga opsi) di berbagai aset dalam waktu dekat. Kami melihat ini sebagai peluang transaksi, terutama di pasar opsi mata uang dan saham. Trader perlu siap menghadapi pergerakan harga yang lebar dan menyesuaikan strategi untuk memanfaatkan volatilitas atau melindungi posisi (hedging: mengurangi risiko dengan posisi penyeimbang). Kami memperkirakan Federal Reserve menahan suku bunga, yang menjaga dolar AS tetap kuat terhadap mata uang negara berkembang. Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) berada dalam posisi sulit, karena intervensi langsung untuk mendukung rupee ada batasnya ketika tekanan global sangat kuat. Sinyal kenaikan suku bunga darurat dari RBI untuk melindungi mata uang bisa memicu pergerakan besar pada futures suku bunga (kontrak berjangka suku bunga) dan overnight index swaps/OIS (swap indeks overnight: kontrak tukar arus bunga berbasis suku bunga overnight).Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.