Ketegangan Timur Tengah Menguatkan Dukungan untuk Dolar
Ketegangan di Timur Tengah terus menjaga kekhawatiran inflasi dan menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed: bank sentral AS). Imbal hasil Treasury AS (yield: tingkat hasil/keuntungan dari obligasi pemerintah AS) naik, mendorong dolar AS dan menopang USD/JPY di tengah kekhawatiran eskalasi yang melibatkan Iran. Pada grafik 4 jam, USD/JPY bertahan di atas exponential moving average (EMA: rata-rata pergerakan yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru) 100-periode, di dekat 158,20. MACD (indikator momentum yang membandingkan dua rata-rata pergerakan; sering dipakai untuk melihat arah dan kekuatan tren) turun tipis di bawah garis sinyalnya di sekitar nol dengan histogram datar, menandakan dorongan naik melemah, sementara RSI (indikator kekuatan relatif untuk melihat kondisi jenuh beli/jenuh jual) di sekitar 48 tetap dekat garis tengah. Support (area harga yang sering menahan penurunan) terlihat di 158,20 lalu 157,65, dengan penembusan di bawah 157,65 mengarah ke area 157,00-an. Resistance (area harga yang sering menahan kenaikan) ada di 159,30, lalu 159,80 dan level 160,00. Melihat kembali akhir 2025, pasangan USD/JPY mendapat pembeli di dekat 158,00, didorong inflasi Jepang yang lemah dan ketakutan geopolitik yang mendukung dolar AS. Data CPI Jepang yang lemah saat itu menunda harapan kenaikan suku bunga BOJ dalam waktu dekat. Ini menjadi peluang bagi pihak yang memperkirakan dolar akan menguat.Perkiraan Kebijakan Berubah di Awal 2026
Situasi kemudian berubah hingga Maret 2026. CPI nasional Jepang terbaru untuk Februari tercatat 2,1%, akhirnya sedikit di atas target BOJ dan memicu spekulasi bahwa intervensi atau perubahan kebijakan menjadi lebih mungkin. Kami menilai kesabaran bank sentral kini lebih teruji dibandingkan titik mana pun tahun lalu. Sementara itu, The Fed tetap pada sikapnya, meski inflasi sudah turun ke 3,0% berdasarkan data bulan lalu. Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,1% (tenor 10 tahun: obligasi dengan jatuh tempo 10 tahun), masih menarik tetapi lebih rendah dari puncak 2025, menandakan pasar mulai memasukkan peluang pemangkasan suku bunga pada paruh akhir tahun ini. Kekhawatiran besar terkait konflik Iran juga mereda, mengurangi daya tarik dolar sebagai aset safe-haven (aset “tempat berlindung” saat pasar takut) dibanding beberapa bulan lalu. Dengan harga USD/JPY saat ini sekitar 162,50, keuntungan mudah dari membeli pasangan ini kemungkinan sudah lewat. Kami menyarankan trader memakai opsi (options: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk membatasi risiko, karena peluang pembalikan mendadak meningkat. Membeli call options (opsi beli: untung jika harga naik) dengan strike (harga patokan dalam kontrak opsi) sekitar 164,00 memungkinkan ikut potensi naik sambil membatasi rugi maksimum pada premi (biaya opsi) yang dibayar. Pendekatan yang lebih hati-hati adalah bull call spread (strategi opsi: beli call di strike lebih rendah dan jual call di strike lebih tinggi untuk menurunkan biaya) untuk beberapa minggu ke depan. Contohnya, membeli call strike 163,00 dan sekaligus menjual call strike 165,00 dapat menurunkan biaya transaksi. Strategi ini untung dari kenaikan moderat USD/JPY, tetapi memberi perlindungan saat risiko yen menguat meningkat. Risiko utama untuk pandangan ini adalah perubahan mendadak yang lebih “hawkish” (hawkish: cenderung menaikkan suku bunga/mengetatkan kebijakan) dari BOJ, yang bisa menekan pasangan ini turun tajam menuju level psikologis (level bulat yang sering jadi perhatian pelaku pasar) 160,00. Karena itu, posisi beli apa pun, termasuk lewat derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset lain), perlu dikelola dengan ketat. Kami melihat area 160,50 sebagai support kunci baru yang perlu dipantau.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.