Risiko Geopolitik Mendorong Permintaan Dolar
Laporan Wall Street Journal menyebut Arab Saudi memberi sinyal kemungkinan bergerak ke keterlibatan militer yang lebih langsung. Israel dan Amerika Serikat melakukan serangan lanjutan ke Iran, sementara Iran meningkatkan serangan ke negara tetangga di Teluk dan mengeluarkan ancaman terhadap aset regional (fasilitas penting seperti pelabuhan, jaringan listrik, dan instalasi energi). Israel mengatakan melakukan gelombang kedua serangan ke infrastruktur di Teheran. Penasihat militer Iran, Mohsen Rezaei, mengatakan konflik akan berlanjut sampai Iran mendapat kompensasi atas kerusakan. Pada Senin, Dolar menguat setelah Presiden Donald Trump menunda rencana serangan ke infrastruktur energi Iran selama lima hari dan menyebut adanya pembicaraan dengan Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengatakan tidak ada komunikasi dengan Washington. Reuters melaporkan pejabat The Fed (bank sentral AS) Mary Daly mengatakan kenaikan harga minyak yang bertahan lama bisa menyulitkan arah kebijakan. Dolar AS terlibat dalam lebih dari 88% transaksi valas global (FX, pasar pertukaran mata uang), dengan rata-rata US$6,6 triliun per hari pada 2022.Pasar Fokus pada Kebijakan dan Gejolak Harga
Kita melihat pola yang familiar: permintaan aset aman (safe haven, aset yang biasanya dicari saat krisis) terhadap Dolar AS, mirip dengan ketegangan Iran pada 2025. Saat itu, ketidakpastian geopolitik mendorong Indeks Dolar ke sekitar 99,50. Hari ini, dengan indeks diperdagangkan jauh lebih tinggi dekat 104,20, risikonya lebih besar karena ketegangan baru di Eropa Timur. Kenaikan terbaru minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) ke atas US$88 per barel mencerminkan kekhawatiran pejabat The Fed pada 2025 bahwa harga energi bisa menyulitkan kebijakan moneter (kebijakan suku bunga dan pengaturan uang beredar). Risalah FOMC terbaru (catatan rapat Federal Open Market Committee, komite penentu suku bunga The Fed) dari awal Maret 2026 sudah menunjukkan komite enggan memberi sinyal pemangkasan suku bunga. Tekanan harga yang bertahan akan memperkuat sikap “hawkish” (cenderung mendukung suku bunga lebih tinggi untuk menekan inflasi) beberapa anggota. Kondisi ini menunjukkan trader dapat mempertimbangkan opsi (options, kontrak yang memberi hak membeli/menjual pada harga tertentu) untuk mengelola risiko dan menyatakan pandangan soal penguatan dolar. Saat indeks VIX (ukuran “indeks ketakutan”, menunjukkan perkiraan gejolak pasar saham) naik lagi di atas 18, membeli call option (opsi untuk membeli) pada ETF terkait dolar seperti UUP (ETF, produk investasi yang diperdagangkan seperti saham) memberi cara berisiko terukur untuk meraih untung jika dolar naik lagi. Ini masuk akal karena sinyal pasar bercampur antara dolar kuat dan data ekonomi domestik yang melunak. Trader juga perlu memantau kalender ekonomi, karena kekuatan dolar tidak selalu pasti. Misalnya, data awal S&P Global US Services PMI (PMI, indeks survei aktivitas bisnis; angka di atas 50 berarti ekspansi) untuk Maret turun ke 51,8, menandakan potensi perlambatan yang bisa menekan mata uang. Ini menciptakan situasi sulit: dorongan “aman” dari geopolitik bersaing dengan kinerja ekonomi. Inti pasar saat ini adalah ketidakpastian, sehingga memperdagangkan volatilitas (volatility, besarnya naik-turun harga) menjadi strategi yang menarik. Posisi long volatility (bertaruh gejolak meningkat) melalui futures VIX (kontrak berjangka, perjanjian membeli/menjual di masa depan) atau opsi bisa berkinerja baik jika berita geopolitik terus mendominasi. Ini memungkinkan pendekatan market-neutral (tidak bergantung pada arah pasar), bertaruh pada pergerakan harga tajam ke atas atau ke bawah, bukan hanya pada penguatan dolar.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.