Dolar Australia Tetap Kuat
Angka inflasi yang lebih lemah tidak memicu penjualan yang jelas pada dolar Australia, yang tetap ditopang oleh sikap kebijakan Reserve Bank of Australia (RBA—bank sentral Australia). RBA memperingatkan bahwa ketidakpastian di Timur Tengah bisa menambah inflasi dalam negeri dan membuatnya bertahan di atas target lebih lama, dan pasar memperkirakan hampir dua kali kenaikan suku bunga tambahan sampai akhir tahun. Pelemahan kecil dolar AS juga membantu pasangan ini. Laporan tentang upaya diplomatik menuju mekanisme gencatan senjata satu bulan antara AS dan Iran memperbaiki selera risiko (risk mood—kemauan pelaku pasar mengambil aset berisiko), meredakan kekhawatiran inflasi, dan mendorong turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury yields—tingkat keuntungan dari obligasi AS), yang menekan dolar. Jika menengok kembali ke periode yang sama pada 2025, kita mengingat AUD/USD sempat bergerak mendatar (konsolidasi—harga bergerak dalam rentang sempit) di sekitar 0,7000. Saat itu pasar memperkirakan beberapa kenaikan suku bunga dari RBA karena kekhawatiran inflasi akibat geopolitik. Kini, pasangan ini diperdagangkan jauh lebih rendah di sekitar 0,6550 karena pandangan “hawkish” (hawkish—cenderung menaikkan suku bunga untuk menekan inflasi) tersebut berbalik total. Sikap RBA yang agresif tahun lalu telah melunak karena tekanan inflasi mereda secara global dan domestik. Inflasi CPI Australia turun dari laju tahunan 3,7% yang terlihat pada Februari 2025 menjadi angka terbaru 3,4%. Akibatnya, pasar tidak lagi memperhitungkan kenaikan suku bunga RBA dan justru fokus pada waktu kemungkinan penurunan suku bunga akhir tahun ini.Kebijakan The Fed dan Prospek Volatilitas
Dari sisi dolar AS juga sudah berbeda, karena Federal Reserve (The Fed—bank sentral AS) sudah memulai siklus pelonggarannya (easing cycle—periode penurunan suku bunga/kebijakan lebih longgar). Namun, kekuatan ekonomi AS yang bertahan membatasi pelemahan dolar, sehingga menjadi hambatan bagi dolar Australia. Dinamika ini membuat AUD/USD tertahan dalam rentang, sehingga sulit naik berkelanjutan meski The Fed beralih lebih “dovish” (dovish—cenderung menurunkan suku bunga untuk mendukung pertumbuhan). Bagi pedagang derivatif (derivatives—kontrak turunan seperti opsi dan futures yang nilainya mengikuti aset acuan), ini berarti volatilitas tersirat (implied volatility—perkiraan volatilitas yang tercermin dari harga opsi) pada AUD/USD mungkin terlalu rendah mengingat narasi bank sentral yang saling bertolak belakang. Kami menilai strategi yang untung dari pergerakan tajam ke dua arah, seperti membeli straddle (straddle—membeli opsi beli dan opsi jual dengan harga dan jatuh tempo yang sama), bisa efektif dalam beberapa minggu ke depan. Posisi seperti itu akan diuntungkan oleh ketidakpastian terkait seberapa cepat pemangkasan suku bunga RBA dibanding The Fed. Selain itu, kami melihat penurunan besar pada selisih suku bunga (interest rate differential—perbedaan tingkat suku bunga antara dua negara) yang dulu mendukung AUD. Secara historis, pada periode seperti 2013–2014, suku bunga tunai RBA (RBA cash rate—suku bunga acuan RBA) yang lebih tinggi dibanding AS membuat memegang posisi beli AUD menguntungkan. Karena daya tarik carry trade (carry trade—strategi meminjam di mata uang berbunga rendah lalu membeli mata uang berbunga lebih tinggi untuk meraih selisih bunga) kini hilang, ada tekanan dasar pada mata uang yang bisa dimanfaatkan pedagang opsi dengan strategi yang condong turun (bearish—berpandangan harga cenderung turun).Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.