Harga Impor Menandakan Inflasi Masih Bertahan
Kenaikan harga impor Februari sebesar 1,3% yang lebih tinggi dari perkiraan, yang dilaporkan minggu lalu, adalah tanda kuat bahwa inflasi (kenaikan harga secara umum) masih perlu diwaspadai. Angka ini, lebih dari dua kali lipat dari perkiraan 0,5%, menunjukkan tekanan kenaikan harga yang terus masuk ke ekonomi AS. Ini menegaskan bahwa upaya menurunkan inflasi belum selesai, sehingga arah langkah Federal Reserve (bank sentral AS) perlu dipertimbangkan ulang. Data ini melengkapi laporan Indeks Harga Konsumen (CPI, ukuran perubahan harga barang dan jasa yang dibeli rumah tangga) Februari, yang menunjukkan inflasi inti (core inflation, inflasi tanpa komponen yang sangat berubah-ubah seperti makanan dan energi) tetap kuat di 3,7% per tahun, tidak turun sedalam perkiraan. Gabungan angka ini menunjukkan inflasi dasar masih punya dorongan, sehingga target The Fed sebesar 2% terlihat makin jauh. Perhatian pasar kini tertuju pada data indeks harga PCE (Personal Consumption Expenditures, ukuran inflasi berbasis pengeluaran konsumsi yang sering dipakai The Fed) yang akan dirilis akhir minggu ini. Dengan kondisi ini, kami melihat peluang pada derivatif (produk keuangan turunan yang nilainya mengikuti aset lain) yang terkait dengan perkiraan suku bunga. Pasar sudah berubah: fed funds futures (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan suku bunga acuan The Fed) kini hanya memasang peluang 35% untuk pemotongan suku bunga pada rapat Juni, turun dari lebih 70% sebulan lalu. Kita bisa mempertimbangkan posisi yang diuntungkan saat suku bunga “tinggi lebih lama”, seperti membeli put (opsi jual, hak untuk menjual di harga tertentu) pada kontrak berjangka obligasi Treasury (obligasi pemerintah AS). Bagi trader saham, ini berarti hambatan dan naik-turun harga (volatilitas, besarnya perubahan harga) yang lebih tinggi untuk pasar secara luas, terutama saham pertumbuhan dan teknologi yang sensitif terhadap suku bunga. Kita bisa mempertimbangkan membeli put pelindung (protective puts, opsi jual untuk melindungi nilai portofolio) pada Nasdaq 100 (NDX, indeks 100 saham besar non-keuangan di Nasdaq) atau S&P 500 (SPX, indeks 500 saham besar AS) untuk lindung nilai (hedge, mengurangi risiko) terhadap potensi penurunan dalam beberapa minggu ke depan. Indeks VIX dari CBOE (ukuran perkiraan volatilitas pasar, sering disebut “indeks ketakutan”) sudah naik ke 15,2 dari 12,8 bulan lalu, dan kami memperkirakan akan menguji level yang lebih tinggi. Dolar AS juga berpeluang diuntungkan jika The Fed lebih “hawkish” (lebih ketat, cenderung menaikkan/menahan suku bunga untuk melawan inflasi). Selisih suku bunga (interest rate differential, perbedaan tingkat suku bunga antarnegara) yang makin lebar dapat mendukung dolar terhadap mata uang utama lain. Kami bersiap untuk penguatan lanjutan dengan mempertimbangkan call (opsi beli, hak untuk membeli di harga tertentu) pada Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang), yang sudah naik lebih dari 1,5% sejak data inflasi ini mulai muncul.Pergeseran Dari Penurunan Inflasi Ke “Tinggi Lebih Lama”
Melihat kembali pada periode ini di tahun 2025, pasar saat itu yakin tren penurunan inflasi (disinflation, inflasi yang melambat) akan berjalan stabil dan sudah memperhitungkan pemotongan suku bunga besar sepanjang tahun. Data saat ini menunjukkan perubahan besar dari pandangan tersebut dan mengejutkan banyak pihak. Pergeseran dasar dibanding kondisi tahun lalu ini menciptakan pergerakan harga yang tidak seimbang (dislocations, perbedaan harga yang “tidak wajar” di pasar) yang bisa dimanfaatkan untuk trading. Buat akun VT Markets live Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.