Risiko Pengiriman Laut Merah
Konflik disebut mulai pada 28 Februari setelah serangan AS–Israel ke Iran. Risiko terhadap perdagangan lewat Laut Merah, bersama gangguan yang terkait dengan Selat Hormuz, menambah kekhawatiran pasokan. Trader memantau risiko serangan Houthi lanjutan, kemungkinan operasi darat AS di Iran, dan pembicaraan damai AS–Iran. Peristiwa ini disebut bisa menjadi pendorong pergerakan harga berikutnya. WTI adalah singkatan dari West Texas Intermediate, minyak mentah dari AS yang diperdagangkan secara internasional dan harganya mengacu pada pusat penetapan harga di Cushing. WTI digolongkan “light” dan “sweet”, artinya minyaknya lebih mudah diolah karena lebih “ringan” dan kandungan sulfurnya rendah. Harga WTI dipengaruhi oleh pasokan dan permintaan, pertumbuhan ekonomi global, ketidakstabilan politik, sanksi, keputusan OPEC (kelompok negara pengekspor minyak), dan Dolar AS. Data persediaan minyak AS dari API (lembaga industri minyak; rilis hari Selasa) dan EIA (badan energi pemerintah AS; rilis hari Rabu) dapat menggerakkan harga; hasil keduanya berbeda kurang dari 1% sekitar 75% dari waktu.Kondisi Pasar dan Fokus Trading
Dengan harga minyak WTI tetap kuat, ini mengingatkan pada dinamika pasar pada periode yang sama tahun lalu. Konflik yang dimulai 28 Februari 2025 setelah serangan AS–Israel ke Iran memberi pelajaran jelas tentang risiko geopolitik (risiko dari konflik dan hubungan antarnegara). Serangan Houthi dan gangguan pengiriman di Laut Merah setelah itu membuat harga melonjak. Tahun lalu terlihat bahwa dua ancaman terhadap Laut Merah dan Selat Hormuz memicu kekhawatiran kekurangan pasokan besar. Ketidakstabilan ini dengan cepat mendorong WTI melewati batas psikologis $100 per barel. Pasar bersiap menguji level tertinggi tiga tahun di $113,28 karena jalur perdagangan global terancam. Melihat situasi hari ini, 30 Maret 2026, WTI diperdagangkan di sekitar $94 per barel, mencerminkan kecemasan pasar yang berlanjut. Laporan EIA terbaru pada 25 Maret 2026 menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 2,8 juta barel yang tidak terduga, menandakan permintaan lebih cepat daripada pasokan. Ini terjadi saat OPEC+ (OPEC dan sekutunya) tampak berkomitmen mempertahankan pemangkasan produksi hingga kuartal berikutnya. Dengan risiko geopolitik masih tinggi dan persediaan menurun, volatilitas tersirat pada opsi minyak tetap tinggi, kini mendekati puncak 12 bulan di 45%. Volatilitas tersirat adalah perkiraan pasar tentang seberapa besar harga bisa naik-turun; opsi adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual pada harga tertentu. Ini menunjukkan pasar memperkirakan pergerakan harga yang besar dalam beberapa minggu ke depan. Trader sebaiknya fokus pada strategi yang diuntungkan dari naik-turunnya harga, bukan menebak arah secara pasti. Membeli opsi beli (call) berjangka lebih panjang untuk kontrak Juni dan Juli 2026 bisa menangkap potensi kenaikan jika terjadi gangguan pasokan baru sambil membatasi risiko penurunan. Namun, karena premi (biaya opsi) tinggi, bull call spread bisa lebih hemat untuk mendapat untung dari kenaikan moderat. Strategi ini memungkinkan ikut mendapat keuntungan jika ketegangan meningkat lagi, mirip lonjakan cepat yang terjadi pada 2025.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.