Perbedaan Arah Regional Dan Nilai Relatif
Pasar obligasi China disebut ditopang oleh beberapa penyangga (faktor yang membantu menahan guncangan), meskipun China adalah importir besar bahan bakar dari Timur Tengah. Singapura disebut terus menarik arus “safe haven” (aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman saat pasar bergejolak), meski imbal hasil mungkin sudah mencapai titik terendah. Artikel ini mencatat bahwa tulisan dibuat menggunakan alat kecerdasan buatan (AI, program komputer yang membantu membuat teks) dan ditinjau oleh editor. Dengan guncangan geopolitik terbaru, pasar obligasi Asia bergerak ke arah yang berbeda-beda, sehingga membuka peluang bagi trader derivatif. Derivatif adalah produk turunan (kontrak keuangan) yang nilainya mengikuti aset lain, misalnya obligasi atau mata uang. Perbedaan yang terbentuk hingga 2025 kini makin cepat, sehingga satu strategi untuk seluruh kawasan tidak akan efektif. Trader sebaiknya fokus pada transaksi nilai relatif (relative value), yaitu strategi yang mencari untung dari perbedaan kinerja antarnegara yang makin melebar. Untuk pasar berimbal hasil lebih tinggi seperti India dan Indonesia, responsnya lebih tenang dibanding Barat. Imbal hasil obligasi 10 tahun India naik ke sekitar 7,5%, tetapi masih jauh dari lonjakan besar pada US Treasuries (obligasi pemerintah AS). Ini mendukung penggunaan opsi untuk lindung nilai (hedge, yaitu perlindungan dari risiko) terhadap kenaikan imbal hasil lanjutan yang kemungkinan terbatas, daripada mengambil posisi jual agresif. Opsi adalah kontrak yang memberi hak (bukan kewajiban) untuk membeli atau menjual aset pada harga tertentu. Namun, pasar Korea Selatan memberi sinyal peringatan dengan volatilitas yang besar. Karena ekonominya bergantung pada ekspor, volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) pada opsi mata uang Won Korea melonjak dari 8% ke 14% hanya dalam sebulan terakhir. Ini membuat membeli opsi, seperti straddle atau strangle, menjadi cara langsung untuk memanfaatkan perkiraan pergerakan besar tanpa harus menebak arah. Straddle adalah membeli opsi beli dan opsi jual pada harga yang sama; strangle mirip, tetapi dengan harga yang berbeda.Penempatan Posisi Untuk Volatilitas Dan Arus Safe Haven
Sebaliknya, China bertindak sebagai jangkar stabilitas, dengan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahunnya tetap sekitar 2,4%. Perlindungan ini membuat kontrak berjangka (futures, kontrak untuk membeli/menjual aset di masa depan pada harga yang disepakati) obligasi pemerintah China berpotensi menjadi posisi beli dalam strategi “pairs trade” (transaksi berpasangan: beli satu aset dan jual aset lain untuk memanfaatkan selisih kinerja) melawan posisi jual pada obligasi Korea yang lebih bergejolak. Stabilitas ini juga mendukung peluang menjual covered call (strategi menjual opsi beli dengan memiliki aset dasarnya) atas ETF obligasi China untuk pendapatan. ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan di bursa seperti saham. Singapura tetap menjadi safe haven utama kawasan, dengan arus masuk mendorong Dolar Singapura naik 2% terhadap keranjang berbobot perdagangan (trade-weighted basket, gabungan mata uang mitra dagang yang diberi bobot sesuai porsi perdagangan) pada kuartal ini. Meski imbal hasil obligasi Singapura mungkin sudah menyentuh titik terendah di 3,1%, fokus utamanya adalah prospek mata uang yang kuat. Kami melihat trader memakai posisi beli pada Dolar Singapura untuk mendanai pembelian aset berimbal hasil lebih tinggi, tetapi relatif stabil, di negara lain di kawasan. Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.