Data Pekerjaan Dan Reaksi Pasar
Nonfarm Payrolls AS (laporan jumlah pekerjaan baru di luar sektor pertanian) menunjukkan 178 ribu pekerjaan bertambah pada Maret, di atas perkiraan 60 ribu. Tingkat Pengangguran turun ke 4,3% dari 4,4%, sementara data Februari direvisi menjadi kehilangan 133 ribu pekerjaan dari penurunan 92 ribu. Rata-rata Upah Per Jam naik 0,2% dibanding bulan sebelumnya (month-on-month/bulan ke bulan), di bawah perkiraan 0,3% dan turun dari 0,4%. Pertumbuhan upah tahunan 3,5%, di bawah perkiraan 3,7% dan turun dari 3,8%. Survei bisnis lebih lemah, dengan S&P Global Composite PMI (indeks aktivitas bisnis gabungan) di 50,3 pada Maret dibanding 51,9 pada Februari, terendah sejak September 2023. PMI Jasa turun ke 49,8, di bawah perkiraan awal (flash estimate/perkiraan cepat) 51,1 dan terendah dalam lebih dari tiga tahun. Angka PMI di atas 50 berarti ekspansi (aktivitas meningkat), di bawah 50 berarti kontraksi (aktivitas menurun). Indeks Dolar AS (US Dollar Index/ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang) diperdagangkan sekitar 100,15, memperpanjang kenaikan hari kedua. Meski begitu, USD/JPY tetap tertahan karena risiko intervensi membatasi kenaikan. Pertambahan pekerjaan AS 178.000 pada Maret biasanya mendukung dolar, tetapi ada sinyal yang bertentangan dalam laporan ini. Pertumbuhan upah yang lebih lemah, hanya 3,5% per tahun (year-over-year/tahun ke tahun), dan sektor jasa yang menyusut menunjukkan pelemahan di ekonomi AS. Data campuran ini membuat arah kebijakan Federal Reserve (bank sentral AS) sulit diprediksi.Risiko Intervensi Dan Selisih Suku Bunga
Kita perlu sangat berhati-hati saat USD/JPY mendekati level 160,00, batas yang sebelumnya memicu tindakan langsung di pasar. Melihat intervensi besar oleh otoritas Jepang pada 2024, mereka siap mempertahankan yen dari pelemahan yang dinilai berlebihan. Peringatan pejabat saat ini perlu dianggap serius karena membatasi seberapa tinggi pasangan ini bisa naik dalam jangka pendek. Alasan utama dolar tetap kuat adalah selisih suku bunga yang besar. Dengan suku bunga acuan The Fed (Fed funds rate/suku bunga referensi AS) sekitar 4,75% dan suku bunga Bank of Japan hanya 0,25%, dorongan untuk meminjam yen dan membeli dolar menjadi kuat. Kesenjangan ini terus menarik pelaku **carry trade** (strategi meminjam mata uang berbunga rendah untuk membeli mata uang berbunga tinggi), sehingga ada tekanan beli yang bertahan meski ada risiko intervensi. Ketegangan ini terlihat di pasar opsi, ketika volatilitas tersirat satu bulan (one-month implied volatility/angka perkiraan naik-turun harga yang “tertanam” di harga opsi) untuk USD/JPY naik ke atas 11%. Ini berarti pelaku pasar memperkirakan pergerakan besar dalam beberapa minggu ke depan, lebih tinggi dari kondisi normal. Dengan peluang intervensi yang membatasi kenaikan, ada nilai dalam menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli dengan harga kesepakatan di atas harga pasar saat ini) terutama dengan strike price (harga kesepakatan) di atas 160,50. Strategi ini bertujuan mengambil premium (biaya yang diterima penjual opsi) yang tinggi karena volatilitas tersirat tinggi. Intinya, ini bertaruh bahwa pejabat Jepang akan mencegah pasangan mata uang naik jauh lebih tinggi.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.