Pembicaraan Gencatan Senjata Dan Ketegangan Meningkat
Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum (peringatan keras dengan batas waktu) kepada Iran, memperingatkan akan ada serangan ke pembangkit listrik dan infrastruktur sipil lain jika Selat Hormuz tidak dibuka kembali. Ia menetapkan tenggat waktu Selasa pukul 8 malam Waktu Timur (ET, zona waktu pantai timur AS) dan mengancam akan membawa “neraka” ke Iran, sementara Teheran menolak ultimatum itu dan melanjutkan serangan terhadap aset energi (fasilitas dan infrastruktur minyak/gas) di seluruh Timur Tengah. Saham AS juga tertekan karena perkiraan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) bisa menunda pemangkasan suku bunga (menurunkan tingkat bunga acuan). Pasar memantau notulen rapat Federal Open Market Committee/FOMC (catatan rapat komite penentu kebijakan suku bunga) untuk melihat sinyal kebijakan ke depan jika inflasi tetap tinggi. Pasar terlihat memantul karena harapan gencatan senjata AS–Iran, tetapi situasi dasarnya sangat tegang. Ultimatum dari Presiden Trump dengan tenggat Selasa malam menciptakan peristiwa “dua kemungkinan” (hasilnya bisa sangat berbeda: damai atau eskalasi) yang dapat memicu volatilitas besar (naik-turun harga yang tajam). Trader (pelaku jual-beli jangka pendek) yang memegang posisi perlu sadar bahwa ketenangan saat ini rapuh dan bisa berubah dalam 48 jam. Risiko utama adalah lonjakan cepat harga energi jika konflik Selat Hormuz meningkat. Jika melihat guncangan geopolitik awal 2022, harga minyak WTI (West Texas Intermediate, patokan harga minyak AS) melonjak lebih dari 35% dalam kurang dari dua minggu, yang menekan pasar secara luas. Karena itu, perlu memantau opsi (kontrak turunan yang memberi hak beli/jual pada harga tertentu) pada VIX (indeks “ketakutan” yang mengukur perkiraan gejolak pasar). VIX saat ini rendah, tetapi bisa naik ke kisaran tinggi 20 atau bahkan 30, seperti pada konflik militer sebelumnya.Penempatan Posisi Untuk Volatilitas Yang Lebih Tinggi
Mengingat ketidakpastian jangka pendek, trader bisa mempertimbangkan strategi yang untung jika harga bergerak besar ke arah mana pun. Misalnya, membeli straddle atau strangle (strategi opsi yang menempatkan posisi beli dan jual untuk menangkap pergerakan besar) pada indeks utama seperti SPX (indeks S&P 500) atau QQQ (ETF yang melacak Nasdaq-100) untuk jatuh tempo pendek (opsi yang segera berakhir) dapat efektif untuk menghadapi volatilitas menjelang tenggat hari Selasa. Pendekatan ini mengurangi kebutuhan menebak hasil ultimatum, dan fokus pada reaksi pasar. Di luar gejolak geopolitik, inflasi yang bertahan sejak 2024 tetap penting, ketika core CPI (inflasi inti, ukuran inflasi tanpa komponen yang sangat bergejolak seperti makanan dan energi) sulit turun di bawah 3%. Ini menjelaskan mengapa Federal Reserve ragu memangkas suku bunga, dan notulen FOMC yang akan datang penting untuk membentuk perkiraan pasar. Kemungkinan suku bunga tetap tinggi lebih lama akan membatasi kenaikan, bahkan jika gencatan senjata tercapai. Strategi per sektor juga relevan, misalnya opsi call (opsi untuk membeli) pada ETF energi sebagai lindung nilai (hedge, langkah untuk mengurangi risiko) langsung terhadap eskalasi di Timur Tengah. Sebaliknya, saham teknologi dan saham pertumbuhan berjangka panjang (saham yang nilainya sangat bergantung pada pendapatan masa depan) tetap rentan terhadap sentimen risk-off (sikap menghindari aset berisiko) dan kemungkinan pemangkasan suku bunga yang tertunda. Sektor-sektor ini bisa turun jika situasi Iran memburuk atau jika The Fed memberi sinyal sikap lebih hawkish (lebih ketat/condong menaikkan suku bunga atau menahan penurunan suku bunga).Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.