Strategis Scotiabank Shaun Osborne dan Eric Theoret mengatakan Pound (GBP) sedang bergerak mendatar (konsolidasi) setelah bangkit pada hari Rabu terhadap Dolar AS (USD). Mereka menilai risiko dari dalam negeri Inggris masih terbatas menjelang pidato pejabat Bank of England (BoE/bank sentral Inggris) dan rilis data.
GBP naik 0,1% terhadap USD, mengarah pada konsolidasi setelah pemulihan sehari sebelumnya. Mereka mengaitkan pergerakan terbaru dengan “premi risiko geopolitik” (tambahan sentimen risiko akibat konflik/ketegangan global) yang memengaruhi pound, dan mengatakan membaiknya suasana pasar dapat mendukung kenaikan lanjutan.
Sinyal Momentum Mendukung Pound
Mereka mengatakan faktor fundamental (kondisi ekonomi dasar) dan ukuran sentimen (arah keyakinan pelaku pasar) mendukung penguatan GBP dan mengisyaratkan risiko penurunan yang lebih kecil. RSI (Relative Strength Index/indikator teknikal untuk membaca kekuatan momentum harga) masuk ke area bullish (cenderung naik) setelah menembus di atas 50.
GBP mencapai level tertinggi satu bulan di kisaran atas 1,34, namun mereka mencatat ada hambatan (resistance/area harga yang sering menahan kenaikan) di atas 1,3480. Mereka mengatakan harga menembus rata-rata bergerak (moving average/rerata harga dalam periode tertentu sebagai panduan tren) 50 hari dan 200 hari di 1,3439 dan 1,3414, dengan target kenaikan ke 1,35 dan 1,3580.
Mereka menetapkan kisaran jangka pendek 1,3350 hingga 1,3450. Artikel ini dibuat dengan alat AI dan ditinjau oleh editor.
Perbedaan Arah Kebijakan Mendorong Sterling
Kenaikan suku bunga BoE yang tidak terduga pada Februari 2026 mengubah arah pasar, sebagai respons langsung terhadap inflasi sektor jasa yang tetap tinggi dan masih menjadi perhatian utama. Data terbaru mengonfirmasi langkah ini, dengan CPI (Consumer Price Index/indeks harga konsumen, ukuran inflasi) bulan Maret tercatat tinggi di 3,5%, sehingga pasar menghapus ekspektasi pemangkasan suku bunga hingga sisa tahun ini. Perbedaan arah kebijakan moneter (monetary policy divergence/perbedaan kebijakan suku bunga antar bank sentral) kini menjadi pendorong utama pound.
Sementara itu, nada Federal Reserve (bank sentral AS) berubah, dengan data payroll (laporan penggajian/nonfarm payroll, indikator data tenaga kerja AS) yang lemah meningkatkan harapan pemangkasan suku bunga akhir tahun ini. Pasar kini memperhitungkan peluang lebih dari 60% pemangkasan pada kuartal ketiga, berbanding terbalik dengan sikap BoE yang hawkish (cenderung menaikkan/menahan suku bunga tinggi untuk menekan inflasi). Kesenjangan kebijakan antara kedua bank sentral ini terus menguntungkan pound dibanding dolar.