Pada pekan pertama konflik, renminbi (CNY, yuan China) menjadi mata uang dengan kinerja terbaik, dengan volatilitas (tingkat naik-turun harga) yang tetap terkendali. Analisis menyoroti apakah CNY berperan sebagai aset “safe haven” (tempat berlindung saat pasar bergejolak) kedua setelah dolar AS, ditopang ketahanan energi yang lebih baik dibanding negara Asia-Pasifik lain yang lebih bergantung pada tabungan.
Data arus dana (flow) menunjukkan pembelian CNY sejalan dengan arus keluar besar dari obligasi pemerintah China (CGBs). Sepanjang sebagian besar tahun, CNY dan kepemilikan CGB bergerak berlawanan arah: pembelian CNY terkait pembongkaran posisi CGB, dipicu kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi dapat menekan suku bunga riil (imbal hasil setelah dikurangi inflasi).
Shift In Flow Dynamics
Menjelang akhir bulan, permintaan CGB kembali naik, sementara arus CNY kembali menjadi penjualan bersih, selaras dengan meningkatnya lindung nilai (hedging, yaitu mengurangi risiko kurs). Data awal kuartal II kemudian menunjukkan CNY dan CGB sama-sama dibeli bersih pada saat yang sama.
Pola ini mengindikasikan peningkatan eksposur langsung (outright exposure, yaitu mengambil risiko tanpa perlindungan penuh) ke CNY, meski imbal hasil relatif rendah dan Bank Rakyat China (People’s Bank of China/PBoC) tetap menahan penguatan nilai tukar efektif riil (REER, ukuran nilai mata uang terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang setelah disesuaikan inflasi). Tafsir lain: reflasi (kembalinya tekanan kenaikan harga/aktivitas ekonomi) di China mulai muncul untuk pertama kali sejak pembukaan kembali pascapandemi, dan perkiraan pasar soal imbal hasil tenor pendek (front-end yields, imbal hasil obligasi jatuh tempo pendek) bisa keliru, seiring Federal Reserve yang cenderung melonggarkan kebijakan bahkan sebelum gencatan senjata diumumkan.
Tren arus masuk ganda ini tampaknya berlanjut hingga 2026, menandakan investor kini mencari eksposur langsung ke aset China. Data terbaru mengonfirmasi hal tersebut: kepemilikan asing atas CGB mencatat arus masuk bersih lebih dari ¥80 miliar pada Maret 2026, menjadi bulan keempat berturut-turut mencetak kenaikan. Ini menunjukkan kepercayaan yang meningkat—bukan sekadar menaruh dana di mata uang, melainkan masuk ke pasar surat utang dengan lindung nilai kurs yang lebih kecil.
Implications For Traders
Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi), permintaan yang bertahan dan preferensi PBoC terhadap stabilitas berarti volatilitas mata uang kemungkinan tetap rendah. Volatilitas tersirat (implied volatility, perkiraan volatilitas yang “terbaca” dari harga opsi) pada opsi USD/CNY tenor satu bulan baru-baru ini turun mendekati level terendah dalam beberapa tahun, sehingga strategi yang diuntungkan saat volatilitas rendah—seperti menjual strangle (menjual opsi call dan put di dua strike berbeda untuk mengambil premi ketika harga bergerak terbatas)—menjadi lebih menarik. Ekspektasinya adalah pergerakan yang terkontrol dan bertahap, bukan lonjakan tajam.
Potensi reflasi China kini didukung pertumbuhan PDB 5,1% pada kuartal I 2026. Stabilitas ini, ditambah Federal Reserve yang sudah memangkas suku bunga beberapa kali dan kini memberi sinyal jeda, mengubah profil risiko-imbal hasil untuk memegang aset China. Selisih suku bunga antara AS dan China tidak lagi melebar, memberi dukungan fundamental bagi yuan.
Karena itu, trader perlu mempertimbangkan bahwa kebiasaan lama untuk melindungi seluruh eksposur CGB mungkin kini kurang efektif. Pembelian bersamaan pada mata uang dan obligasi mengisyaratkan posisi long CNY langsung (bertaruh CNY menguat) atau strategi opsi yang diuntungkan dari yuan yang stabil hingga menguat menjadi lebih masuk akal. Ini mencerminkan perubahan struktural cara pasar global memandang aset China: lebih sebagai kepemilikan inti, bukan sekadar transaksi taktis.