USD/JPY naik untuk hari ketiga, diperdagangkan di dekat 159,80 pada sesi Asia, Senin. Kenaikan ini didorong permintaan Dolar AS sebagai aset aman (safe haven, yaitu aset yang biasanya diburu saat pasar panik) setelah perundingan AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan usai 21 jam negosiasi di Islamabad.
Wakil Presiden AS JD Vance mengonfirmasi pembicaraan berakhir tanpa perjanjian. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai “memblokade” kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz.
Risiko Geopolitik Dorong Permintaan Dolar
Komando Pusat AS menyatakan pasukan akan mulai memblokade lalu lintas maritim yang masuk dan keluar pelabuhan Iran pada pukul 10.00 ET (14.00 GMT) Senin. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan AS tidak berhasil mendapatkan kepercayaan delegasi Iran, dan keputusan kini berada di tangan Washington.
Korps Garda Revolusi Iran memperingatkan kapal perang yang mendekati Selat Hormuz akan dianggap melanggar gencatan senjata (ceasefire, yaitu penghentian sementara aksi militer) dan akan mendapat respons tegas. Pasar juga menyoroti rapat Bank of Japan pada 27–28 April, saat pembuat kebijakan menilai apakah kenaikan harga energi dan komoditas global mendukung kenaikan suku bunga (rate rise, yaitu kenaikan suku bunga acuan).
Laporan Sakura menyebut anggota dewan menimbang risiko inflasi (kenaikan harga) terhadap risiko pertumbuhan setelah rapat manajer cabang 6 April. Disebutkan pula bahwa sembilan wilayah menggambarkan ekonomi mereka sebagai “pulih moderat”, “membaik”, atau “membaik moderat”.
Dengan perundingan AS–Iran kolaps dan blokade Selat Hormuz dimulai hari ini, volatilitas pasar (volatility, yaitu besarnya naik-turun harga) berpotensi meningkat. Perpindahan dana ke aset aman memperkuat Dolar AS, mendorong USD/JPY menuju level penting 160,00. Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi call USD/JPY jangka pendek (call option, yaitu kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) untuk memanfaatkan momentum, sambil mengingat otoritas Jepang pernah melakukan intervensi (intervention, yaitu aksi pemerintah/bank sentral masuk pasar) di kisaran level ini pada akhir 2024.
Penempatan Posisi Menghadapi Gejolak Minyak
Blokade ini langsung mengancam pasokan energi global, karena hampir seperlima konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz. Ini menjadi sinyal untuk mengambil posisi beli pada instrumen turunan (derivatives, yaitu produk yang nilainya mengikuti aset acuan) minyak mentah, seperti kontrak berjangka (futures, yaitu kontrak jual-beli di masa depan pada harga yang disepakati) WTI atau Brent, dengan ekspektasi lonjakan harga seperti 2022 saat harga menembus US$120 per barel. Opsi call pada ETF terkait minyak (ETF, yaitu reksa dana yang diperdagangkan di bursa) juga memberi cara meraih potensi untung dengan risiko yang lebih terukur dari guncangan pasokan.
Ketegangan geopolitik ini hampir pasti mendorong CBOE Volatility Index (VIX, yaitu indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS) naik dari level rendahnya di sekitar 18. Kami menilai membeli opsi call VIX dengan strike price (harga kesepakatan, yaitu harga acuan dalam kontrak opsi) 25–30 sebagai lindung nilai (hedge, yaitu strategi untuk mengurangi risiko) terhadap tekanan jual pasar yang lebih luas. Strategi ini membantu melindungi portofolio dari meningkatnya ketidakpastian yang menekan saham global.
Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.