Setelah memangkas kenaikan sebelumnya, Indeks Dolar AS tetap menguat, diperdagangkan di sekitar 99,00 pada sesi Asia Senin

    by VT Markets
    /
    Apr 13, 2026

    Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama, tetap menguat meski sempat memangkas sebagian kenaikan. DXY diperdagangkan di sekitar 99,00 pada sesi Asia, Senin.

    Dolar AS naik karena permintaan aset *safe haven* (aset “pelindung” yang biasanya diburu saat pasar takut risiko, seperti dolar AS) meningkat setelah perundingan damai AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan perundingan di Islamabad berakhir tanpa hasil setelah 21 jam negosiasi.

    Risiko Geopolitik Dorong Permintaan Safe Haven

    Presiden AS Donald Trump mengatakan AS akan mulai memblokade kapal yang masuk atau keluar Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyebut operasi yang menargetkan lalu lintas kapal dari dan menuju pelabuhan Iran akan dimulai pukul 10.00 ET (14.00 GMT) pada Senin.

    Dolar juga mendapat dukungan setelah data Indeks Harga Konsumen (IHK/CPI, ukuran inflasi harga barang dan jasa yang dibayar konsumen) AS bulan Maret menguatkan sikap Federal Reserve (bank sentral AS) untuk mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Biro Statistik Tenaga Kerja AS melaporkan CPI tahunan 3,3% pada Maret, naik dari 2,4% pada Februari, sesuai perkiraan.

    CPI bulanan naik 0,9% setelah sebelumnya 0,3%. *Core CPI* (inflasi inti, tidak memasukkan harga pangan dan energi yang sangat bergejolak) naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan.

    Presiden The Fed San Francisco Mary Daly mengatakan The Fed akan menahan suku bunga jika inflasi tetap tinggi. Ia menambahkan pemangkasan suku bunga bisa terjadi bila konflik Iran mereda cepat dan harga minyak turun.

    Dampak Pasar terhadap Volatilitas Dolar

    Dengan DXY bertahan di sekitar 99,00, dolar AS berpeluang tetap kuat. Gagalnya perundingan AS–Iran adalah peristiwa “*risk-off*” (pelaku pasar menghindari aset berisiko dan beralih ke aset aman) yang meningkatkan permintaan dolar sebagai safe haven. Ketegangan geopolitik ini kini menjadi fokus utama pasar.

    Blokade Selat Hormuz hampir pasti memicu lonjakan harga minyak dan volatilitas pasar (naik-turun harga yang lebih tajam). Situasi serupa terjadi pada 2019 ketika serangan di Teluk Oman mendorong harga minyak Brent naik lebih dari 4% dalam satu hari. Pelaku pasar derivatif (kontrak turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan strategi yang diuntungkan oleh kenaikan harga energi dan naiknya VIX (indeks “ketakutan” yang mengukur perkiraan volatilitas pasar saham AS), yang secara historis bisa melonjak di atas 30 saat konflik geopolitik besar.

    Data inflasi AS yang tinggi juga mendukung dolar karena membuat The Fed cenderung menahan suku bunga. Angka CPI 3,3% membuat pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat sangat kecil kemungkinannya. Ini memperkuat narasi “*higher-for-longer*” (suku bunga tinggi dipertahankan lebih lama).

    Dengan dua pendorong ini—risiko geopolitik dan kebijakan The Fed yang cenderung “*hawkish*” (lebih ketat, fokus menekan inflasi lewat suku bunga tinggi)—DXY berpeluang naik. Meski 99,00 level yang kuat, angka ini masih jauh di bawah puncak di atas 114 pada akhir 2022 saat siklus pengetatan The Fed mencapai puncaknya. Ini menunjukkan dolar masih berpeluang menguat terhadap mata uang seperti Euro dan Yen.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code