Ekonom DBS Philip Wee memperkirakan MAS akan membatalkan pelonggaran sebelumnya, mengembalikan pita kebijakan SGD NEER menuju normalisasi

    by VT Markets
    /
    Apr 14, 2026

    Ekonom DBS Group Research, Philip Wee, memperkirakan Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) akan membalikkan pelonggaran sebelumnya dengan menormalkan pita kebijakan SGD Nominal Effective Exchange Rate (NEER). SGD NEER adalah nilai dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang (berdasarkan bobot perdagangan) yang dipakai MAS sebagai jangkar kebijakan, bukan hanya terhadap dolar AS. Ia memperkirakan proyeksi inflasi MAS akan naik akibat guncangan energi, serta mencatat level dolar Singapura berbasis bobot perdagangan berada di atas titik tengah pita kebijakan tersebut.

    Volatilitas pasar diperkirakan kembali setelah kegagalan KTT Islamabad pada Minggu antara Wakil Presiden AS J.D. Vance dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Laporan tersebut mengaitkannya dengan memudarnya harapan meredanya konflik AS–Iran.

    Guncangan Pasokan Hormuz Mendorong Perubahan Kebijakan

    Laporan menyebut Wakil Perdana Menteri Gan Kim Yong menggambarkan titik sempit (chokepoint) Hormuz sebagai yang terburuk sejak embargo minyak 1973. Chokepoint berarti jalur sempit yang krusial bagi pengiriman minyak; bila terganggu, pasokan global bisa tersendat. Laporan menambahkan kondisi ini diperlakukan sebagai “guncangan pasokan” (supply shock), yaitu kenaikan harga akibat pasokan berkurang/terhambat, bukan sekadar kenaikan harga normal karena permintaan.

    Laporan memprediksi MAS akan membatalkan dua kali penurunan kemiringan (slope) yang dilakukan pada Januari dan April 2025. Kemiringan pita NEER adalah laju penguatan atau pelemahan SGD yang “diizinkan” oleh kebijakan; makin curam, makin cepat SGD cenderung menguat. Laporan memperkirakan MAS akan menaikkan proyeksi inflasi inti (core inflation) menjadi 1,5–2,5% dari 1–2%, serta menaikkan proyeksi CPI-All Items. Inflasi inti adalah inflasi yang biasanya mengecualikan komponen yang sangat bergejolak seperti biaya akomodasi dan transportasi pribadi, sehingga lebih mencerminkan tren harga dasar. CPI-All Items adalah inflasi total seluruh barang dan jasa dalam keranjang indeks harga konsumen.

    Laporan menyatakan SGD NEER sekitar 1,8% di atas titik tengah pita kebijakan. Laporan menambahkan USD/SGD masih banyak mengikuti arah dolar AS global.

    Kami menilai MAS berpeluang mengetatkan kebijakan dengan memperkuat dolar Singapura. Ini terjadi setelah KTT Islamabad gagal dan mendorong harga energi global naik. Kondisi ini dipandang sebagai guncangan pasokan yang serius, sehingga bank sentral kemungkinan bertindak untuk menahan inflasi impor (kenaikan harga barang/jasa dari luar negeri karena nilai tukar melemah atau harga global naik).

    Ide Transaksi untuk Dolar Singapura yang Lebih Kuat

    Langkah ini akan menjadi pembalikan langsung dari pelonggaran pada Januari dan April 2025. Data Maret 2026 menunjukkan inflasi inti Singapura mencapai 2,1% (year-on-year/yoy, dibanding periode yang sama tahun sebelumnya), sudah menyentuh batas atas kisaran proyeksi lama MAS. Dengan Brent (patokan harga minyak) diperdagangkan di atas US$115 per barel sejak keputusan blokade Presiden Trump, kami memperkirakan MAS akan resmi menaikkan proyeksi inflasinya pada pertemuan berikutnya.

    Pola serupa terjadi pada 2022 ketika MAS berkali-kali mengetatkan kebijakan untuk menahan inflasi akibat guncangan energi dari konflik Ukraina. Pernyataan Wakil Perdana Menteri yang membingkai situasi Hormuz sebagai yang terburuk sejak 1973 mengisyaratkan respons tegas. Pelaku pasar perlu bersiap jika pita kebijakan SGD NEER “di-center ulang” (titik tengah dinaikkan agar level SGD yang lebih kuat menjadi acuan baru) atau jika kemiringannya dibuat lebih curam untuk memungkinkan penguatan lebih cepat.

    Bagi pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi yang nilainya mengikuti aset dasar), ini membuka peluang untuk mengambil posisi mendukung penguatan dolar Singapura dalam beberapa pekan ke depan. SGD berbasis bobot perdagangan sudah berada kuat di paruh atas pita kebijakan, sekitar 1,8% di atas titik tengah, menandakan kekuatan sebelum perubahan kebijakan resmi.

    Namun, dolar AS juga menguat sebagai aset lindung nilai (safe-haven, aset yang dicari saat risiko meningkat), dengan indeks DXY menembus 108. DXY adalah indeks yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap sekeranjang mata uang utama. Artinya, meski SGD berpeluang menguat, penguatannya terhadap USD bisa terbatas. Penurunan pasangan USD/SGD bisa terjadi perlahan, bukan jatuh tajam.

    Karena itu, pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi call SGD terhadap sekeranjang mata uang lain seperti euro atau yen, yang biasanya tidak mendapat permintaan safe-haven sebesar dolar AS. Opsi call adalah hak (bukan kewajiban) untuk membeli mata uang pada harga tertentu; digunakan untuk bertaruh mata uang akan menguat. Untuk pasangan utama, menjual opsi call USD/SGD dengan premi rendah dan out-of-the-money (harga strike di atas harga pasar saat ini, sehingga hanya untung jika USD/SGD naik cukup besar) dapat menjadi cara menyatakan pandangan bahwa kenaikan USD/SGD (pelemahan SGD) kemungkinan terbatas. Strategi ini diuntungkan dari perkiraan penguatan SGD, sambil mengakui tekanan berlawanan dari penguatan dolar AS global.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code