Lee Hardman dari MUFG mengatakan indeks dolar kembali melemah seiring perundingan AS–Iran kembali meredakan ketegangan

    by VT Markets
    /
    Apr 14, 2026

    Indeks Dolar AS menghapus penguatan di awal pekan dan kembali mendekati level sebelum konflik Timur Tengah. Pelaku pasar makin optimistis soal lanjutan pembicaraan AS–Iran dan langkah menuju penurunan ketegangan.

    Dolar AS dan Yen Jepang tertinggal, sementara mata uang Skandinavia dan mata uang terkait komoditas tampil terbaik di kelompok G10 bulan ini. Krone Norwegia dan krona Swedia memimpin kenaikan, disusul dolar Selandia Baru dan dolar Australia.

    Harga minyak turun lagi ke bawah USD100 per barel, dan pasar saham global mendekati rekor tertinggi. Dolar tidak melanjutkan kenaikan meski sebelumnya terbantu lonjakan harga energi, sehingga menambah risiko pelemahan pada proyeksi dolar terbaru MUFG.

    Kami mengingat bahwa kegagalan dolar mempertahankan penguatan saat ketegangan Timur Tengah mereda pada 2025 adalah sinyal pelemahan yang kuat. Peristiwa itu menegaskan pergeseran ke sentimen *risk-on* (minat risiko naik; investor lebih berani masuk aset berisiko seperti saham), yang menekan mata uang *safe haven* (mata uang “tempat berlindung” saat pasar panik, misalnya dolar AS dan yen). Pola dolar yang tidak mampu mempertahankan reli karena berita geopolitik sejak itu makin sering terlihat.

    Mata uang komoditas yang menguat tahun lalu, seperti dolar Australia, mulai kehilangan tenaga pada kuartal I 2026. Pasangan AUD/USD kesulitan menembus level 0,6900 setelah data CPI (indeks harga konsumen, ukuran inflasi) terbaru Australia menunjukkan inflasi melambat ke 3,4%. Ini mengindikasikan penguatan mudah dari fase pemulihan *risk-on* 2025 kemungkinan sudah lewat.

    Indeks Dolar AS kemudian stabil, bergerak di kisaran sempit dan kini bertahan di sekitar 104,5. Keputusan Federal Reserve pada Maret 2026 mempertahankan suku bunga, dengan alasan inflasi jasa yang masih “lengket” (sulit turun dan bertahan tinggi), untuk sementara menopang dolar. Pergerakan ini mengarah pada fase konsolidasi (harga cenderung bergerak mendatar sebelum memilih arah), yang sering menjadi kondisi ideal bagi penjual opsi.

    Dengan stabilitas ini, pelaku pasar derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures) dapat mempertimbangkan menjual volatilitas (memasang posisi yang diuntungkan bila gejolak harga rendah), terutama pada pasangan mata uang utama. Misalnya, membangun strategi *short straddle* atau *short strangle* di EUR/USD bisa menjadi opsi untuk mengantongi premi (imbalan yang diterima penjual opsi) saat pasar menunggu langkah The Fed berikutnya. Kami menilai volatilitas tersirat (*implied volatility*, perkiraan gejolak yang “terbaca” dari harga opsi) pada pasangan utama belum sepenuhnya mencerminkan pola pergerakan yang cenderung tertahan ini.

    Namun, Yen Jepang tetap lemah, melanjutkan kinerja buruk sejak 2025. Ini membuat pasangan seperti AUD/JPY sensitif terhadap perubahan mendadak kembali ke sentimen *risk-off* (minat risiko turun; investor menghindari aset berisiko dan mencari aset aman). Trader dapat mempertimbangkan membeli opsi jual (*put option*, hak untuk menjual pada harga tertentu) yang *out-of-the-money* (harga strike jauh dari harga pasar saat ini; biasanya lebih murah) pada pasangan ini sebagai lindung nilai (hedging, perlindungan) biaya rendah terhadap guncangan global yang tak terduga.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code