Perak (XAG/USD) naik 2,2% ke sekitar US$80,80 pada perdagangan Asia akhir Kamis, mendekati tertinggi empat pekan di US$81,00. Kenaikan ini terjadi karena Dolar AS tetap lemah seiring harapan gencatan senjata AS-Iran.
Indeks Dolar AS (DXY, ukuran kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) turun ke titik terendah baru lebih dari enam pekan di 97,85. Dolar yang lebih lemah bisa mendorong permintaan logam yang dihargai dalam dolar, seperti perak.
Pejabat AS mengatakan perang dengan Iran “sangat dekat” berakhir, dan Washington sedang melakukan pembicaraan dengan Iran. Putaran negosiasi berikutnya disebut berpeluang dijadwalkan di Pakistan, menurut The Guardian.
Pembicaraan sebelumnya belum menghasilkan kesepakatan, dengan AS menetapkan syarat yang terkait Selat Hormuz (jalur pelayaran utama minyak) dan program nuklir Iran. Di pasar suku bunga, pelaku pasar kini memperkirakan Federal Reserve (bank sentral AS) tidak akan menaikkan suku bunga tahun ini, dibandingkan dua kali kenaikan yang diproyeksikan pada Maret.
Secara teknikal, perak berada dekat batas pola Segitiga Naik (Ascending Triangle, pola grafik yang sering menandakan potensi kelanjutan kenaikan) di sekitar US$80,80 dan di atas EMA 20-periode (Exponential Moving Average/rata-rata bergerak eksponensial, indikator tren yang lebih peka terhadap harga terbaru) di US$76,29, dengan dukungan garis tren (trend-line support, area harga yang sering menahan penurunan) di sekitar US$75,81. RSI (14) (Relative Strength Index, indikator momentum; angka di atas 50 menandakan momentum cenderung menguat) berada dekat 58; level dukungan mencakup US$76,29, US$75,81, dan terendah 7 April di US$68,28, sementara jika menembus lebih tinggi, targetnya bisa mengarah ke tertinggi 13 Maret di US$85,46.