Dolar AS pulih dari penurunan awal terhadap Yen Jepang pada Kamis, mendorong USD/JPY kembali sedikit di atas 159,00. Pasangan ini menguat seiring meningkatnya ketegangan AS-Iran terkait Selat Hormuz, yang mengurangi optimisme pasar terhadap proses perdamaian.
Pada sesi Eropa, Dolar memangkas pelemahan terhadap mata uang utama. Minat terhadap aset berisiko (risk appetite: selera pelaku pasar membeli aset berisiko seperti saham dan mata uang berimbal hasil lebih tinggi) tetap moderat, tetapi ancaman Iran untuk membatasi lalu lintas di Laut Merah dan Teluk Oman—jika blokade AS terhadap pelabuhan Iran berlanjut—membebani sentimen.
Sebelumnya, pasar bereaksi terhadap komentar Presiden AS Donald Trump mengenai negosiasi dengan Iran dan peluang pembicaraan baru dalam beberapa hari ke depan. Secara terpisah, anggota kabinet keamanan Israel Galia Gamliel mengatakan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan bertemu Presiden Lebanon Joseph Aoun.
Di Jepang, Menteri Keuangan Satsuki Takayama mengatakan Jepang dan AS sepakat memperkuat komunikasi soal nilai tukar setelah bertemu Menteri Keuangan AS Scott Bessent. Pernyataan itu mengarah pada sikap Jepang yang menolak pelemahan Yen berlebihan, namun respons pasar terbatas.
Belakangan pada Kamis, perhatian dapat beralih ke Philadelphia Fed Manufacturing Survey untuk April dan US Industrial Production untuk Maret. Pasar juga mengamati pidato Presiden The Fed New York John Williams dan anggota Dewan Gubernur The Fed Stephen Miran.
Dengan latar itu, volatilitas tersirat (implied volatility: perkiraan naik-turun harga di masa depan yang tercermin dari harga opsi) menjadi area penting untuk dipantau, sehingga pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi (options: kontrak yang memberi hak, bukan kewajiban, untuk membeli/menjual pada harga tertentu) untuk memanfaatkan pergerakan tajam. Indeks Cboe/CME FX Yen Volatility Index (JYVIX)—indikator volatilitas dari harga opsi Yen—saat ini masih tinggi, diperdagangkan di sekitar 12,5, naik dari level rendah 8,0 beberapa bulan lalu. Ini menunjukkan pasar opsi memperkirakan peluang besar terjadinya gejolak harga dalam beberapa pekan ke depan.
Risiko intervensi (intervention: aksi bank sentral/pemerintah masuk pasar valas untuk menahan atau mengubah arah nilai tukar) dari Tokyo kini sangat tinggi, sehingga posisi beli langsung USD/JPY menjadi berisiko. Untuk melindungi dari penurunan mendadak, membeli opsi call JPY out-of-the-money (out-of-the-money/OTM: harga opsi yang belum menguntungkan jika dieksekusi saat ini) atau opsi put USD/JPY dapat menjadi lindung nilai (hedge: perlindungan nilai portofolio dari kerugian) dengan risiko yang terukur. Strategi ini melindungi portofolio dari pembalikan tajam seperti penurunan beberapa yen yang pernah terjadi saat intervensi.
Bagi yang masih optimistis pada dolar karena sikap The Fed yang berhati-hati soal pemangkasan suku bunga, strategi risk reversal bisa dipertimbangkan. Risk reversal (struktur opsi: membeli call dan menjual put pada pasangan yang sama) dilakukan dengan membeli opsi call USD/JPY sambil menjual opsi put USD/JPY, membentuk struktur berbiaya rendah untuk meraih keuntungan jika pasangan ini terus naik perlahan. Selisih imbal hasil (yield differential: perbedaan tingkat bunga/imbal hasil antarnegara) yang besar—suku bunga AS di atas 5% sementara Jepang masih mendekati nol—tetap menjadi pendorong utama strategi ini.