Perak (XAG/USD) diperdagangkan di dekat $78,60 pada Kamis, turun 0,49% pada hari itu. Harganya tetap dekat puncak terbaru saat pasar memantau pembicaraan terkait konflik AS-Iran.
Laporan menyebut perpanjangan gencatan senjata bisa dipertimbangkan agar ada lebih banyak waktu untuk negosiasi. Ini mendukung sentimen risiko (minat investor mengambil aset berisiko) dan menurunkan permintaan aset lindung nilai (aset “aman” saat pasar bergejolak) seperti perak.
Ketidakpastian tetap tinggi. Sejumlah pejabat melaporkan ada kemajuan di beberapa bidang, tetapi masih ada perbedaan soal isu nuklir. Kondisi ini membuat pelaku pasar tetap berhati-hati di logam mulia.
Pasar minyak juga memengaruhi perak, karena ketegangan di sekitar Selat Hormuz terus berdampak pada pasokan global. Harga minyak mentah tetap tinggi meski sempat terkoreksi, memicu kekhawatiran inflasi yang didorong energi (kenaikan harga karena energi makin mahal).
Latar belakang ini bisa membuat Federal Reserve cenderung mempertahankan kebijakan ketat lebih lama dari perkiraan. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya menekan aset tanpa imbal hasil/bunga (aset yang tidak memberi bunga), seperti perak.
Presiden The Fed St. Louis Alberto Musalem mengatakan guncangan pasokan (gangguan ketersediaan barang/energi) berisiko mengganggu target inflasi dan ketenagakerjaan The Fed. Ia menyebut kisaran suku bunga saat ini kemungkinan masih tepat untuk sementara, dan guncangan minyak bisa menjaga inflasi inti (inflasi di luar harga pangan dan energi yang bergejolak) mendekati 3% hingga akhir tahun.
Melihat kembali situasi pada 2025, pasar sempat terpaku pada potensi perang AS-Iran dan dampaknya pada harga minyak. Namun kekhawatiran konflik besar mereda pada akhir 2025, sehingga daya tarik perak sebagai aset lindung nilai sempat turun. Ini memicu fase konsolidasi (harga bergerak mendatar dalam kisaran) karena premi risiko geopolitik (tambahan harga akibat risiko geopolitik) menghilang dari harga.
Fokus lalu beralih ke Federal Reserve dan inflasi pada kuartal I-2026. Meski Musalem benar pada 2025 bahwa inflasi inti akan “lengket” (sulit turun cepat), tetap tinggi di sekitar 3,8% pada Maret 2026, tren disinflasi yang lebih luas (perlambatan laju kenaikan harga) membuat pasar yakin langkah berikutnya dari The Fed adalah pemangkasan suku bunga. Ekspektasi kebijakan moneter yang lebih longgar (kondisi uang lebih mudah/biaya pinjaman turun) menjadi pendorong utama penguatan perak belakangan ini.
Perubahan cerita ini memicu reli besar, dengan perak melonjak lebih dari 20% sejak Februari 2026. Bagi trader derivatif (instrumen turunan seperti opsi dan futures), momentum naik yang kuat ini menunjukkan strategi beli saat harga turun (buy on dips) masih masuk akal. Psikologi pasar bergeser dari didorong ketakutan menjadi didorong peluang suku bunga lebih rendah.
Kekuatan juga kembali terlihat dari sisi permintaan industri, terutama saat data manufaktur global menunjukkan tanda pemulihan. Rasio emas/perak (Gold/Silver ratio, ukuran berapa ons perak untuk membeli 1 ons emas) mencerminkan hal ini, turun dari sekitar 90 di awal tahun menjadi hampir 83 hari ini, menandakan perak mengungguli emas. Ini menunjukkan perak terbantu oleh perannya sebagai aset moneter sekaligus bahan baku industri.