Saham Asia Melemah saat Pelaku Pasar Ambil Untung dan Pertanyakan Ketahanan Kesepakatan Gencatan Senjata AS–Iran

    by VT Markets
    /
    Apr 17, 2026

    Saham Asia melemah pada Jumat karena pasar makin berhati-hati soal apakah gencatan senjata AS–Iran akan bertahan, dan karena pelaku pasar melakukan ambil untung setelah reli kuat. Indeks Nikkei 225 Jepang turun 1% ke sekitar 58.900, Indeks Hang Seng Hong Kong turun lebih dari 1,30% ke sekitar 26,05, Indeks Komposit SSE China turun 0,30% ke sekitar 4.050, dan Kospi Korea Selatan turun 0,42% ke sekitar 6.200.

    CNN melaporkan militer Lebanon mencatat beberapa pelanggaran gencatan senjata oleh Israel setelah gencatan dimulai, dengan Lebanon melaporkan tembakan artileri sporadis yang memengaruhi desa-desa di Lebanon selatan. Militer meminta warga menunda kembali ke kota dan desa di selatan karena dugaan pelanggaran tersebut.

    Donald Trump mengatakan ia berbicara dengan Presiden Lebanon Joseph Aoun dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serta menambahkan bahwa Israel dan Lebanon sepakat melakukan gencatan senjata 10 hari mulai pukul 17.00 waktu Pantai Timur AS (ET). Trump juga mengatakan ia memperkirakan perang dengan Iran segera berakhir, dan bahwa Teheran setuju menghentikan ambisi nuklir serta membuka kembali Selat Hormuz.

    Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan kebijakan harus mempertimbangkan suku bunga riil Jepang yang masih rendah. Suku bunga riil adalah suku bunga setelah dikurangi inflasi, yang mencerminkan biaya pinjaman “sebenarnya”. Pasar masih terbelah soal kenaikan suku bunga lagi bulan ini. Asia diperkirakan menyumbang sekitar 70% pertumbuhan ekonomi global dan mencakup indeks utama di Jepang, Korea Selatan, China, Hong Kong, dan India.

    Sikap hati-hati di pasar Asia, meski ada kabar gencatan senjata AS–Iran, menunjukkan kesepakatan dipandang rapuh. Laporan pelanggaran di Lebanon memperkuat keraguan ini, sehingga volatilitas kemungkinan meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Volatilitas adalah tingkat naik-turun harga yang tajam dalam waktu singkat.

    Dalam kondisi tidak pasti, investor bisa mempertimbangkan membeli opsi put protektif pada indeks besar seperti Nikkei 225 dan Hang Seng. Opsi put adalah kontrak yang memberi hak untuk menjual aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu; “protektif” berarti berfungsi seperti asuransi untuk posisi beli (long) yang sudah dimiliki. Jika sentimen memburuk, nilai opsi put biasanya naik dan dapat membantu menutup kerugian di bagian portofolio lain.

    Situasi Selat Hormuz sangat krusial karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur ini. Jika ada tanda kesepakatan gagal, itu bisa menjadi pemicu untuk mempertimbangkan posisi beli pada kontrak berjangka (futures) minyak Brent atau WTI. Kontrak berjangka adalah perjanjian membeli/menjual komoditas pada harga yang disepakati untuk penyelesaian di masa depan. Ketegangan serupa pada 2019 pernah mendorong lonjakan harga minyak lebih dari 15% dalam sehari, menunjukkan potensi pergerakan besar.

    Lonjakan harga minyak akan menekan negara pengimpor energi seperti Jepang dan Korea Selatan, yang bergantung pada minyak impor untuk lebih dari 90% kebutuhannya. Karena itu, jika kesepakatan goyah, pelaku pasar dapat menggunakan futures untuk mengambil posisi jual (short) pada indeks Nikkei dan Kospi. Posisi short adalah strategi yang diuntungkan ketika harga turun. Ini menjadi cara langsung untuk memanfaatkan dampak negatif biaya energi yang lebih tinggi terhadap industri manufaktur dan ekonomi yang ditopang ekspor.

    Ketidakpastian itu sendiri bisa diperdagangkan karena volatilitas tersirat (implied volatility) kemungkinan naik. Volatilitas tersirat adalah perkiraan pasar atas besarnya pergerakan harga di masa depan, tercermin dalam harga opsi. Dalam sejarah, peristiwa geopolitik besar seperti awal 2022 mendorong CBOE Volatility Index (VIX) di atas 40, jauh di atas rata-ratanya. VIX adalah indeks yang mengukur ekspektasi volatilitas pasar saham AS melalui harga opsi. Strategi opsi seperti straddle pada ETF Asia utama dapat digunakan untuk mencari untung dari pergerakan besar pasar, tanpa harus menebak arahnya. Straddle adalah membeli opsi call dan put sekaligus pada harga dan jatuh tempo yang sama. ETF adalah reksa dana yang diperdagangkan seperti saham di bursa.

    Terpisah, pasar juga perlu mencermati Bank of Japan karena investor masih terbelah soal potensi kenaikan suku bunga bulan ini. Ini membuka peluang transaksi pada yen Jepang. Bisa digunakan opsi pada pasangan USD/JPY untuk bersiap pada pergerakan mengejutkan. Pasangan USD/JPY adalah nilai tukar dolar AS terhadap yen. Jika suku bunga dinaikkan, yen cenderung menguat tajam.

    Sebaliknya, jika gencatan senjata bertahan dan Iran membuka kembali Selat Hormuz, pelaku pasar perlu cepat mengubah strategi. Perdamaian yang lebih stabil cenderung menekan harga minyak dan mendukung perdagangan global, yang menguntungkan sektor teknologi dan konsumsi di Asia. Dalam skenario ini, investor dapat mempertimbangkan membeli opsi call pada Hang Seng Tech Index atau Kospi. Opsi call adalah kontrak yang memberi hak untuk membeli aset pada harga tertentu sebelum tanggal tertentu, dan biasanya diuntungkan ketika harga naik.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code