
poin-poin penting
- Minyak Brent untuk Juni naik $5,27 (4,5%) ke $123,30 per barel pada 03.47 GMT, setelah naik 6,1% pada sesi sebelumnya. (Brent = acuan harga minyak internasional.)
- Kontrak berjangka WTI untuk Juni naik $2,42 (2,3%) ke $109,30 per barel, setelah naik 7% pada sesi sebelumnya. (WTI/West Texas Intermediate = acuan harga minyak AS. Kontrak berjangka/futures = perjanjian beli/jual di harga tertentu untuk tanggal tertentu.)
- CL-OIL diperdagangkan di 109,329, naik 0,907 poin (0,84%), dengan pembeli menahan harga di atas rata-rata bergerak 5 hari, 10 hari, dan 20 hari. (Rata-rata bergerak/moving average = garis rata-rata harga beberapa hari untuk melihat arah tren.)
- OPEC+ kemungkinan menyetujui kenaikan kecil sekitar 188.000 barel per hari pada kuota produksi hari Minggu. (Kuota produksi = batas produksi yang disepakati.)
Harga minyak naik lagi pada Kamis karena pasar beralih dari memperhitungkan blokade yang panjang menjadi memperhitungkan kemungkinan aksi militer. Laporan menyebut Presiden AS Donald Trump akan menerima pengarahan tentang rencana serangan militer ke Iran untuk mendorong Teheran kembali berunding soal program nuklirnya.
Kontrak berjangka Brent untuk Juni naik $5,27 (4,5%) ke $123,30 per barel pada 03.47 GMT setelah naik 6,1% pada sesi sebelumnya. Kontrak Juni, yang sudah naik selama sembilan hari berturut-turut, jatuh tempo pada Kamis. Kontrak Juli yang lebih banyak diperdagangkan berada di $113,10, naik $2,66 (2,4%), setelah naik 5,8% pada sesi sebelumnya. (Jatuh tempo = hari terakhir kontrak berlaku.)
Kontrak berjangka minyak AS WTI untuk Juni naik $2,42 (2,3%) ke $109,30 per barel setelah naik 7% pada sesi sebelumnya. WTI sudah naik dalam delapan dari sembilan sesi terakhir. Brent dan WTI menuju kenaikan bulanan untuk bulan keempat berturut-turut.
Pesannya jelas. Pedagang tidak lagi menganggap konflik Iran sebagai guncangan singkat. Mereka kini memperhitungkan gangguan energi yang lebih lama, pasokan yang makin ketat, dan risiko gencatan senjata gagal menjadi perdamaian tetap. (Gencatan senjata = penghentian tembak-menembak sementara.)
Penutupan Hormuz Membuat Pasar Tetap Ketat
AS dan Israel memulai serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Iran lalu membalas dengan menutup hampir semua pengiriman kapal melalui Selat Hormuz, salah satu jalur sempit penting bagi aliran energi dunia. Gencatan senjata menghentikan perang aktif, tetapi selat itu belum dibuka kembali. AS juga menerapkan blokade pada pelabuhan Iran. (Blokade = pembatasan akses kapal/barang masuk-keluar.)
IEA menyebut Selat Hormuz menangani porsi besar perdagangan energi global, termasuk hampir 20% aliran LNG dunia pada 2025. (IEA = Badan Energi Internasional. LNG/gas alam cair = gas yang dicairkan agar mudah dikirim.) Penutupan ini menjadi masalah besar bagi kilang, perusahaan pengiriman, perusahaan listrik, dan pemerintah yang berusaha menahan kenaikan harga bahan bakar. (Kilang = pabrik pengolah minyak mentah.)
Perundingan masih buntu. AS ingin program senjata nuklir Iran yang dituduhkan dibahas. Iran ingin sebagian kendali atas selat, ganti rugi kerusakan perang, dan pelonggaran sanksi. (Sanksi = pembatasan ekonomi/politik.) Selama tidak ada perubahan sikap, pasar kemungkinan tetap memasukkan “biaya risiko” tinggi pada harga Brent dan WTI. (Biaya risiko/risk premium = tambahan harga karena ketidakpastian.)
Analis ING mengatakan pasar minyak beralih dari optimisme berlebihan ke kenyataan gangguan pasokan di Teluk Persia. Perubahan ini penting karena pasar berharap gencatan senjata memberi perbaikan cepat. Namun kini pelaku pasar melihat arus pengiriman terhambat lebih lama dan persediaan makin ketat.
Blokade Berbulan-bulan Meningkatkan Risiko Inflasi
Menurut pejabat Gedung Putih, Trump berbicara pada Rabu dengan perusahaan minyak tentang cara mengurangi dampak jika blokade AS berlangsung berbulan-bulan. Reuters melaporkan pembahasan melibatkan perusahaan energi besar dan fokus pada produksi minyak, pengiriman, gas alam, dan kontrak berjangka minyak.
Ini memberi dua sinyal. Pertama, Washington bersiap konflik berlangsung lebih lama. Kedua, Gedung Putih sadar harga minyak kini menjadi risiko inflasi di dalam negeri. (Inflasi = kenaikan harga barang/jasa secara umum.)
Harga minyak mentah yang lebih tinggi menaikkan biaya transportasi, pengiriman, listrik, bahan kimia turunan minyak (petrokimia), dan makanan. Jika minyak bertahan di sekitar $110–$120, bank sentral bisa lebih sulit menurunkan suku bunga. (Bank sentral = lembaga yang mengatur kebijakan uang dan suku bunga.) Ini bisa menguatkan dolar AS, menekan saham, dan menaikkan biaya operasional perusahaan yang bergantung pada bahan bakar dan logistik. (Logistik = pengelolaan pengiriman dan penyimpanan barang.)
Perkiraan hati-hati: risiko inflasi terkait minyak tetap tinggi selama Hormuz masih banyak tertutup. Penurunan harga yang lebih jelas kemungkinan butuh tanda pemulihan pengiriman yang nyata, bukan sekadar pernyataan diplomatik.
Tambahan Pasokan OPEC+ Dinilai Masih Terlalu Kecil
OPEC+ kemungkinan menyetujui kenaikan kecil sekitar 188.000 barel per hari pada kuota produksi hari Minggu. Pertemuan ini terjadi setelah Uni Emirat Arab keluar dari OPEC, efektif 1 Mei. (OPEC+ = OPEC dan negara mitra yang mengatur produksi bersama.)
Dalam kondisi normal, tambahan pasokan bisa menahan kenaikan harga. Namun kali ini pasar bisa menganggapnya terlalu kecil. Gangguan di sekitar Hormuz dan Teluk Persia menurunkan ekspor dari produsen besar, sementara keluarnya UEA dapat melemahkan kemampuan kelompok mengendalikan harga dalam jangka panjang.
Analis juga menilai kebebasan UEA untuk menaikkan produksi setelah ekspor pulih belum tentu mengubah kondisi utama pasar tahun ini. Analis Wood Mackenzie mengatakan negara-negara Teluk, termasuk UEA, butuh berbulan-bulan untuk kembali ke volume produksi sebelum perang.
Artinya OPEC+ mungkin memperlambat kenaikan, tetapi kecil kemungkinan membalikkan arah tanpa dibukanya kembali jalur pengiriman. Perkiraan hati-hati: kenaikan kuota 188.000 barel per hari akan terlihat lebih sebagai simbol jika Hormuz tetap terbatas dan risiko militer meningkat.
Analisis Teknikal Menunjukkan Pembeli Masih Menguasai
CL-OIL diperdagangkan dekat 109,30, melanjutkan pemulihan dan bergerak ke bagian atas kisaran terbaru setelah memantul dari koreksi pertengahan April. Pergerakan harga menunjukkan pembeli masuk lagi dengan kuat, dan pasar mendekati level yang sebelumnya menjadi area pasokan. (Kisaran/range = batas atas-bawah harga yang berulang. Area pasokan = area harga yang sering memicu jual karena banyak penawaran.)
Dari sisi teknikal, momentum menjadi naik kuat dalam jangka dekat. Harga bertahan di atas rata-rata bergerak 5 hari (101,72) dan 10 hari (95,83) yang sama-sama mengarah naik dan menjadi penopang dinamis yang kuat. Rata-rata bergerak 20 hari (97,53) berada jauh di bawah harga sekarang, menguatkan pemantulan dan menunjukkan tren yang lebih besar masih positif meski sebelumnya ada gejolak. (Momentum = kekuatan arah pergerakan harga. Penopang/support = area yang sering menahan penurunan. Gejolak/volatilitas = harga naik-turun cepat.)

Level penting yang perlu dipantau:
- Support (penopang): 101,70 → 97,50 → 95,80
- Resistance (hambatan): 110,00 → 115,90 → 119,40
Harga kini menguji zona hambatan 110,00, level psikologis penting dan area yang sebelumnya sering gagal ditembus. Jika harga menembus dan bertahan di atas level ini, jalur bisa terbuka ke 115,90, dengan peluang naik lebih lanjut menuju puncak 119,40 jika momentum menguat. (Level psikologis = angka bulat yang sering jadi fokus pelaku pasar.)
Di sisi bawah, 101,70 menjadi penopang terdekat, sejalan dengan struktur tren jangka pendek. Jika turun menembus level ini, pemulihan saat ini melemah dan membuka risiko ke 97,50, meski itu masih sejalan dengan kerangka tren naik yang lebih besar kecuali tekanan jual makin kuat.
Secara umum, minyak menguat lagi setelah fase koreksi, dengan level 110 menjadi titik penentu apakah kenaikan berikutnya bisa terbentuk. (Koreksi = penurunan sementara setelah kenaikan.)
Dampak ke Pasar
Kenaikan minyak kini berdampak lebih luas. Jika minyak mentah bertahan di atas $109 dan Brent tetap dekat area $120, perkiraan inflasi bisa naik lagi. Ini dapat membuat bank sentral lebih berhati-hati, menguatkan dolar, dan menekan sektor saham yang sensitif terhadap suku bunga. (Sensitif suku bunga = kinerja mudah berubah saat suku bunga berubah.)
Saham energi mungkin tetap menarik, tetapi maskapai, perusahaan transportasi, merek konsumsi, dan pabrik bisa tertekan karena biaya bahan baku meningkat. Negara berkembang yang mengimpor bahan bakar juga bisa terbebani lewat neraca perdagangan yang melemah dan mata uang yang ikut melemah. (Neraca perdagangan = selisih nilai ekspor dan impor.)
Perkiraan hati-hati masih condong ke pasar minyak yang naik tetapi bergejolak selama CL-OIL bertahan di atas 101,728. Kenaikan melewati 109,529 menjaga 119,427 sebagai target. Jika turun di bawah 106,451, bisa memicu ambil untung jangka pendek, tetapi tambahan harga karena risiko pasokan kemungkinan tetap ada selama Hormuz masih ditutup dan AS mempertimbangkan opsi militer. (Ambil untung = menjual untuk mengunci keuntungan.)
Pelajari lebih lanjut tentang trading Energi di VT Markets di sini. (Trading = jual-beli aset untuk mencari untung.)
Pertanyaan Trader
Mengapa Harga Minyak Naik Lagi?
Harga minyak naik karena pasar memperhitungkan risiko eskalasi militer terhadap Iran yang lebih tinggi. (Eskalasi = konflik makin membesar.)
Laporan menyebut Presiden AS Donald Trump akan menerima pengarahan tentang kemungkinan serangan militer ke Iran untuk memecah kebuntuan negosiasi soal program nuklir Iran. Ini meningkatkan kekhawatiran gangguan pasokan yang lebih besar di Timur Tengah.
Berapa Kenaikan Brent dan WTI?
Kontrak berjangka Brent untuk Juni naik $5,27 (4,5%) ke $123,30 per barel pada 03.47 GMT, setelah naik 6,1% pada sesi sebelumnya.
Kontrak Brent Juli yang lebih aktif berada di $113,10, naik $2,66 (2,4%), setelah naik 5,8% pada sesi sebelumnya. Kontrak berjangka WTI AS untuk Juni naik $2,42 (2,3%) ke $109,30 per barel, setelah naik 7% pada sesi sebelumnya.
Mengapa Selat Hormuz Penting untuk Minyak?
Selat Hormuz adalah salah satu jalur sempit paling penting untuk pengiriman energi dunia. (Jalur sempit/chokepoint = titik sempit yang jika ditutup bisa menghambat arus barang.)
Iran menutup hampir semua pengiriman kapal melalui selat itu setelah AS dan Israel memulai serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Hal ini mengganggu ekspor energi Timur Tengah dan membuat tambahan harga karena risiko tetap tinggi.
Mengapa Minyak Naik Meski Ada Gencatan Senjata?
Minyak naik karena gencatan senjata menghentikan perang aktif, tetapi tidak mengakhiri konflik atau membuka kembali Selat Hormuz.
AS juga menerapkan blokade pada pelabuhan Iran. Perundingan masih buntu: AS menuntut pembahasan program senjata nuklir Iran yang dituduhkan, sementara Iran ingin kendali atas selat, ganti rugi, dan pelonggaran sanksi.
Apa Arti Blokade AS Selama Berbulan-bulan bagi Minyak?
Blokade AS selama berbulan-bulan dapat membatasi ekspor Iran lebih lama dan memperpanjang gangguan pengiriman di kawasan.
Trump berbicara dengan perusahaan minyak tentang cara mengurangi dampak blokade yang mungkin berlangsung berbulan-bulan. Ini menunjukkan Washington bersiap untuk konflik yang lebih lama, yang bisa menjaga risiko pasokan tetap tinggi dan menopang harga minyak.
Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.