Minyak Tetap Menguat saat Pasar Menunggu Tenggat Keras

    by VT Markets
    /
    Apr 7, 2026

    Poin-poin penting

    • CL-OIL diperdagangkan di 115,027, naik 2,472 (+2,20%), setelah sempat menyentuh level tertinggi sesi di 115,447.
    • Minyak Brent naik 0,4% ke $110,19, sementara kontrak berjangka (futures) WTI naik 0,8% ke $113,31 saat pelaku pasar menunggu tenggat hari Selasa.
    • Selat Hormuz masih mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam dunia, sehingga pasar lebih fokus pada gangguan pasokan nyata (fisik) daripada hanya kabar diplomasi.

    Minyak mentah masih bergerak seolah risiko pasokan belum mereda. CL-OIL bertahan di atas 115, dan pasar kontrak berjangka secara umum tetap kuat saat pelaku pasar menunggu tenggat hari Selasa dari Trump untuk kesepakatan dengan Iran.

    Brent bertahan dekat $110,19 dan WTI dekat $113,31, membuat harga tetap berada di bagian atas kisaran harga yang belakangan didorong oleh perang.

    Pergerakan harga menunjukkan pasar belum mau menghapus premi risiko (tambahan harga karena ketidakpastian) sebelum peristiwa yang bisa memanas lagi dalam hitungan jam. Selama sebulan terakhir, pelaku pasar melihat banyak upaya diplomasi yang gagal dan kabar “mereda” yang tidak jelas, sehingga mereka tetap membayar biaya perlindungan sampai arus pengiriman di Hormuz benar-benar lebih aman.

    Untuk jangka sangat dekat, pandangan yang hati-hati masih mendukung harga tetap tinggi selama tenggat masih berjalan dan kondisi pengiriman belum jelas.

    Hormuz Masih Menentukan Arah

    Pasar masih menempatkan Selat Hormuz sebagai fokus utama, baru kemudian faktor lain. Jalur ini membawa sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam global, jadi pembatasan apa pun cepat memengaruhi ongkos kapal, biaya asuransi, dan harga minyak mentah untuk pengiriman cepat.

    Iran memberi sinyal menginginkan hasil yang bertahan lama, bukan sekadar jeda tembak-menembak sementara, dan tekanan untuk membuka kembali jalur laut itu belum menghasilkan terobosan.

    Artinya, pasokan fisik menjadi variabel utama. Pasar bisa menahan perang kata-kata untuk sementara. Namun, pasar bereaksi jauh lebih tajam saat jalur utama ekspor energi Teluk tetap terhambat.

    Itulah sebabnya minyak tetap kuat meski saham (equities) mencoba stabil. Pasar belum melihat jalur yang jelas untuk arus pasokan kembali normal.

    Saham Berombak, Sementara Minyak dan Dolar Tetap Kuat

    Sentimen risiko di pasar luas menunjukkan keraguan yang sama. Saham Asia bergerak campur, dengan MSCI Asia-Pasifik (di luar Jepang) naik 0,4%, sementara Nikkei turun 0,2%. Pada saat yang sama, kontrak berjangka saham AS turun 0,55%, menandakan pelaku pasar masih mengurangi risiko, belum sepenuhnya percaya pada cerita gencatan senjata.

    Dolar juga tetap didukung. Indeks dolar (ukuran kekuatan dolar terhadap beberapa mata uang utama) bertahan di sekitar 100,06, sementara euro diperdagangkan di $1,1538 dan USDJPY (nilai tukar dolar AS terhadap yen Jepang) berada dekat 159,91, mendekati level yang membuat Tokyo peka terhadap risiko intervensi (aksi pemerintah/ bank sentral untuk memengaruhi nilai tukar).

    Pola ini sejalan dengan pasar yang menilai tekanan inflasi dan perlambatan pertumbuhan terjadi bersamaan. Minyak yang masih tinggi menjaga fokus pada campuran stagflasi (inflasi tinggi saat pertumbuhan ekonomi melambat).

    Risiko Inflasi Mulai Terlihat di Data AS

    Latar belakang ekonomi mulai menyerap guncangan energi. Pertumbuhan sektor jasa AS melambat pada Maret, sementara harga yang dibayar pelaku usaha naik pada laju tercepat dalam lebih dari 13 tahun. Ini memberi pasar gambaran awal bagaimana perang Iran mendorong tekanan inflasi.

    Ini membantu menjelaskan mengapa pelaku pasar tidak lagi memasang ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed (bank sentral AS) tahun ini. Minyak di level seperti ini bukan hanya membuat biaya bahan bakar naik. Dampaknya menyebar ke logistik, bahan kimia, transportasi, dan biaya produksi lain. Saat itu terjadi, bank sentral cepat kehilangan ruang gerak.

    Perkiraan yang hati-hati masih mengarah pada kondisi keuangan yang lebih ketat jika minyak mentah bertahan di sekitar level sekarang hingga rilis data inflasi berikutnya.

    Analisis Teknikal

    CL-OIL diperdagangkan dekat 115,03, melanjutkan tren naik yang kuat setelah menembus area dasar harga di akhir Februari. Pergerakan harga menunjukkan dorongan naik (momentum bullish) masih kuat, dengan pasar naik stabil setelah lonjakan menuju 119,43, dan kini bergerak mendatar tepat di bawah puncak terbaru itu.

    Strukturnya masih rapi, dengan puncak yang makin tinggi dan lembah yang makin tinggi, menandakan pembeli masih memegang kendali.

    Secara teknikal, tren masih jelas naik. Harga berada jauh di atas semua rata-rata bergerak (moving average: rata-rata harga dalam beberapa hari untuk melihat arah tren) penting, dengan 5-hari (107,97) memimpin kenaikan, diikuti 10-hari (101,92) dan 20-hari (97,81), semuanya menanjak dan selaras. Ini menunjukkan kekuatan tren yang bertahan, sementara pergerakan mendatar di atas area $110 memberi sinyal pasar sedang membangun tenaga, bukan melemah.

    Level penting untuk dipantau:

    • Dukungan (support): 110,00 → 105,90 → 101,90
    • Hambatan (resistance): 115,50 → 119,40 → 124,70

    Fokus terdekat ada pada area 115,50, yang menjadi hambatan jangka pendek. Jika harga menembus level ini dengan jelas, peluang terbuka untuk menguji kembali 119,40, dengan peluang naik lanjutan bila dorongan kenaikan bertambah kuat.

    Dari sisi bawah, 110,00 adalah dukungan utama secara psikologis dan struktur. Jika turun menembus level ini, bisa memicu penurunan menuju 105,90, meski kemungkinan masih berupa koreksi di dalam tren naik yang lebih besar.

    Secara keseluruhan, minyak masih dalam tren naik kuat dengan konsolidasi di level tinggi. Selama harga bertahan di atas zona $110, kecenderungan tetap mengarah naik, dengan pasar bersiap untuk kelanjutan menuju puncak terbaru.

    Hal Berikutnya yang Perlu Dipantau Trader

    Pergerakan berikutnya bergantung pada apakah tenggat itu menghasilkan jalur nyata untuk membuka kembali Hormuz atau justru memunculkan berita eskalasi baru. Brent dan WTI sudah berada di level yang menjaga kekhawatiran inflasi, sementara dolar dan pasar suku bunga terus memasukkan tekanan itu ke dalam pandangan ekonomi.

    Jika tenggat lewat tanpa kemajuan dan jalur laut tetap terhambat, minyak bisa terus naik mendekati puncak terakhir.

    Jika ada kesepakatan dan lalu lintas kapal mulai normal, pasar bisa mengurangi sebagian premi risiko dengan cepat, tetapi kemungkinan tetap butuh bukti dari arus pengiriman nyata, bukan sekadar janji.

    Pertanyaan Trader

    Mengapa Minyak Masih Bertahan di Atas $110?

    Minyak bertahan tinggi karena pelaku pasar masih melihat risiko nyata gangguan lebih lanjut pada arus energi dari wilayah Teluk selama tenggat Iran belum jelas. Brent baru-baru ini berada di $110,19 dan WTI di $113,31 di pasar kontrak berjangka, yang menunjukkan premi risiko (tambahan harga karena ketidakpastian) masih kuat.

    Mengapa Tenggat Iran Sangat Penting untuk Harga Minyak?

    Tenggat yang pasti memaksa pasar menghitung risiko eskalasi dalam waktu dekat. Jika tidak ada kesepakatan dan Selat Hormuz tetap terhambat, pelaku pasar harus menganggap gangguan pasokan bisa berlangsung lebih lama dan mendorong harga naik.

    Mengapa Selat Hormuz Sangat Penting bagi Minyak Mentah?

    Selat ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam global, jadi gangguan kecil sekalipun bisa cepat menaikkan ongkos angkut, biaya asuransi, dan harga minyak untuk pengiriman cepat.

    Mengapa Minyak Tetap Kuat Padahal Pembicaraan Masih Berlangsung?

    Pasar tidak lagi bereaksi pada diplomasi saja. Pasar ingin bukti arus energi akan kembali normal. Sampai risiko pengiriman benar-benar turun, pelaku pasar enggan menghapus premi risiko dari harga minyak.

    Bagaimana Harga Minyak yang Lebih Tinggi Memengaruhi Pasar Lain?

    Harga minyak mentah yang lebih tinggi mendorong kekhawatiran inflasi, membuat kondisi keuangan lebih ketat, dan menekan saham serta bank sentral. Pasar mulai menilai pertumbuhan melambat dan inflasi menguat bersamaan, sehingga kekhawatiran stagflasi (inflasi tinggi saat ekonomi melambat) sering muncul lagi.

    Mengapa Dolar Tetap Kuat Bersamaan dengan Minyak?

    Dolar bertahan kuat karena investor masih memakainya sebagai aset “aman” utama selama konflik belum selesai. Indeks dolar baru-baru ini sekitar 100,06, yang menunjukkan pelaku pasar masih bersikap defensif, belum kembali penuh ke aset berisiko.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code