Dampak Penutupan Selat Hormuz 2026 terhadap Pasar Forex dan Kripto

    by VT Markets
    /
    Apr 8, 2026

    Poin-poin penting

    • Gangguan di Selat Hormuz menggerakkan pasar minyak, valas (pasar tukar mata uang/forex), dan kripto secara bersamaan.
    • Harga energi yang lebih tinggi mendukung dolar AS dan menekan mata uang negara pengimpor energi.
    • Kripto sering bergerak seperti aset berisiko dalam jangka pendek, tetapi tetap berfungsi sebagai sistem keuangan yang berjalan real-time (secara langsung, 24/7).
    • Pendorong utama bukan level harganya, tetapi berapa lama gangguan itu berlangsung.

    Mengapa Selat Hormuz Menjadi Kisah Makro Ekonomi Paling Menentukan di 2026

    Ada jalur laut sempit, lebarnya sekitar 21 mil, di antara Iran dan Oman. Saat ini jalur ini lebih memengaruhi pasar mata uang dan harga kripto dibanding keputusan bank sentral mana pun atau laporan laba perusahaan.

    Selat Hormuz menjadi kisah makro (gambaran ekonomi besar yang memengaruhi banyak pasar) utama di awal 2026. Trader di valas dan kripto yang belum memahami dampaknya memiliki titik buta (risiko penting yang tidak terlihat).

    Pada 4 Maret, pasukan Iran menyatakan Selat ditutup, mengancam dan dalam beberapa kasus menyerang kapal yang mencoba melintas. Ini bukan hanya soal minyak. Dampaknya menyebar ke hampir semua jenis aset (kelas aset), dengan efek lanjutan yang masih berjalan dan belum sepenuhnya tercermin di harga pasar.

    Dampak Penutupan Selat Hormuz terhadap Energi Global dan Pasar Valas

    Selat Hormuz menangani sekitar 20% konsumsi minyak dunia, juga bagian besar arus gas alam cair/LNG (Liquefied Natural Gas: gas yang didinginkan hingga cair agar mudah diangkut), terutama dari Qatar. Gangguan di sini membuat harga cepat menyesuaikan, bukan bergerak pelan.

    Sumber: Visual Capitalist

    Saat eskalasi terbaru, minyak Brent (patokan harga minyak global) naik di atas 100 dolar per barel untuk pertama kalinya dalam empat tahun, dan sempat mendekati 120. Angka tertinggi harian bisa berbeda antar kontrak, tetapi intinya jelas: harga energi naik tajam.

    Energi tidak pernah hanya soal energi.

    Bagaimana penutupan Selat Hormuz memengaruhi USD?

    Dampaknya pada mata uang biasanya mengikuti pola yang jelas.

    Amerika Serikat berada pada posisi yang lebih untung. Sebagai salah satu produsen energi terbesar dan pengekspor LNG utama, AS diuntungkan saat harga naik. Harga minyak yang lebih tinggi mendukung dolar lewat perbaikan terms of trade (nilai tukar perdagangan: harga ekspor relatif lebih baik dibanding impor) dan permintaan safe haven (aset yang dicari saat pasar panik). Pada saat yang sama, energi mahal membuat inflasi lebih tinggi, sehingga The Fed (bank sentral AS) lebih sulit menurunkan suku bunga. Ini juga memperkuat dolar.

    Zona euro punya kelemahan struktural (masalah mendasar yang sulit diubah cepat). Ketergantungan besar pada impor energi membuat harga minyak dan gas yang naik mendorong inflasi, tetapi menekan pertumbuhan ekonomi. Ini menciptakan kondisi stagflasi (inflasi tinggi tetapi ekonomi melambat). Bank Sentral Eropa jadi serba terbatas dan tidak bisa melonggarkan kebijakan dengan agresif tanpa mempertaruhkan inflasi yang menetap. Akibatnya, EURUSD terus tertekan.

    Jepang dan Asia juga menghadapi hal serupa. Ekonomi seperti Jepang, Korea Selatan, India, dan Tiongkok masih sangat bergantung pada impor energi, dan banyak pasokannya dulu lewat Teluk. Saat risiko pengiriman naik dan harga melonjak, neraca perdagangan memburuk. Ini menekan nilai mata uang seperti JPY, KRW, dan INR, kecuali jika ada campur tangan kebijakan (misalnya bank sentral melakukan langkah untuk menahan pelemahan).

    Ada juga faktor Rusia. Gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat produsen alternatif lebih penting. Minyak Rusia yang dijual lebih murah menjadi lebih menarik bagi importir besar seperti India dan Tiongkok, sehingga mendukung pendapatan ekspor Rusia dan ikut menstabilkan arus mata uang yang terkait perdagangan.

    Kesimpulannya sederhana, tetapi sering diremehkan.

    Energi bukan sekadar komoditas. Energi adalah pendorong utama pasar mata uang.

    Reaksi Berantai Valas: Dampak Gangguan Selat Hormuz

    Mata uangPosisi pasarDampak gangguanPendorong ekonomi
    Dolar AS (USD)Kuat / Bullish (cenderung naik)Diuntungkan secara relatif sebagai safe haven (tempat berlindung saat risiko naik).AS produsen energi besar/pengekspor LNG; harga minyak tinggi membuat The Fed lebih sulit menurunkan suku bunga.
    Euro (EUR)Lemah / Bearish (cenderung turun)Terus tertekan dan berisiko stagflasi.Sangat bergantung pada impor energi; biaya naik mendorong inflasi, tetapi menekan pertumbuhan.
    Yen Jepang (JPY)Lemah / Bearish (cenderung turun)Tekanan pelemahan besar.Sangat bergantung pada impor energi yang dulu banyak lewat Teluk.
    Rupee India (INR)Lemah / Bearish (cenderung turun)Neraca perdagangan memburuk, mata uang melemah.Ketergantungan tinggi pada impor energi dari Timur Tengah.
    Won Korea Selatan (KRW)Lemah / Bearish (cenderung turun)Rentan pada risiko pengiriman dan lonjakan harga.Sangat bergantung pada impor energi untuk menjaga ekonomi berjalan.
    Ruble Rusia (RUB)Cenderung stabilPeran pasokan alternatif meningkat.Minyak yang dijual lebih murah jadi lebih menarik bagi importir besar seperti Tiongkok dan India.

    Apakah Bitcoin Pelindung Nilai atau Aset Berisiko? Dampak Kejutan Geopolitik pada Kripto

    Guncangan geopolitik menunjukkan perilaku pasar yang sebenarnya, bukan sekadar cerita yang ingin dipercaya.

    Sesaat setelah berita besar, Bitcoin dan pasar kripto biasanya turun. Likuiditas (kemudahan jual-beli tanpa mengubah harga terlalu besar) menyusut, volatilitas (naik-turun harga) naik, dan minat mengambil risiko berkurang. Dalam situasi ini, kripto lebih mirip aset berisiko high beta (bergerak lebih tajam dari pasar), mirip saham teknologi, bukan “emas digital”.

    Namun ceritanya tidak berhenti di situ.

    Pasar kripto berjalan terus-menerus. Tidak tutup. Saat peristiwa geopolitik terjadi di luar jam bursa tradisional, kripto menjadi salah satu tempat utama untuk price discovery real-time (pembentukan harga langsung dari transaksi saat itu). Ini memberi peran yang tidak bisa ditiru pasar tradisional.

    Saat ketegangan meningkat, volume transaksi di bursa kripto besar biasanya naik karena pelaku pasar bereaksi cepat terhadap informasi baru. Ini adalah pola yang terlihat dari cara kerja pasar pada level transaksi.

    Ada juga sisi ekonomi nyata yang makin kuat. Di wilayah yang terkena sanksi, kontrol modal (pembatasan keluar-masuk uang), atau akses bank yang terbatas, penggunaan kripto meningkat. Kripto menjadi bukan hanya alat spekulasi (beli-jual untuk untung dari perubahan harga), tetapi juga alternatif untuk settlement (penyelesaian pembayaran) dan transfer nilai.

    Yang paling jelas, muncul laporan kapal membayar biaya terkait transit dengan yuan Tiongkok atau bahkan kripto untuk melintasi Selat saat risiko meningkat. Kasus ini masih sedikit, tetapi menunjukkan hal penting: saat jalur keuangan tradisional terganggu, sistem alternatif benar-benar dipakai.

    Dalam konteks ini, kripto punya dua peran.

    Dalam jangka pendek, kripto bergerak seperti aset berisiko.

    Dalam jangka panjang, kripto terus berkembang sebagai sistem keuangan paralel (berjalan berdampingan dengan sistem bank).

    Pendorong Kuat di Balik Kebisingan

    Meski volatil, arah besar kripto masih berlanjut.

    Keterlibatan institusi (lembaga besar seperti manajer investasi) terus naik lewat ETF Bitcoin (exchange-traded fund: produk investasi yang diperdagangkan di bursa seperti saham). Aturan di Amerika Serikat perlahan makin jelas, dengan perkembangan seperti CLARITY Act yang mengarah ke lingkungan aturan yang lebih tegas. Sementara itu, stablecoin (kripto yang nilainya dibuat stabil, biasanya dipatok ke dolar) pelan-pelan masuk ke sistem keuangan global.

    Skalanya sudah besar.

    Pada 2025, volume transaksi stablecoin melampaui 34 triliun dolar, lebih besar dari gabungan Visa dan Mastercard. Angka ini makin berarti jika dilihat bersama contoh nyata ketika aset digital dipakai di situasi geopolitik yang serba sulit.

    Fondasi teknologinya tetap berjalan, bahkan saat pasar melemah.

    Prospek Pasar: Apa yang Terjadi jika Selat Hormuz Tetap Ditutup?

    Kejutan energi tidak menghantam pasar sekali saja. Dampaknya berkembang.

    Di awal, reaksi didorong oleh ketidakpastian dan repricing risiko (pasar mengubah harga untuk mencerminkan risiko baru). Jika gangguan berlanjut, dampaknya terasa: keterlambatan pengiriman menumpuk, stok menipis, dan volatilitas menjadi bertahan, bukan sementara.

    Bagi trader, ini lebih soal memahami arah perkembangan situasi daripada sekadar menebak.

    Jika situasi stabil dan Selat dibuka kembali, harga minyak kemungkinan turun dari level tinggi. Tekanan inflasi mereda, bank sentral kembali lebih leluasa mengatur kebijakan, dan aset berisiko, termasuk saham dan kripto, mendapat dukungan. Mata uang negara pengimpor energi ikut pulih karena tekanan dari luar berkurang.

    Jika gangguan berlanjut, kebalikannya terjadi. Harga energi yang tinggi membuat inflasi sulit turun, memaksa bank sentral mempertahankan kebijakan ketat lebih lama. Pertumbuhan melambat, dolar AS tetap kuat, dan mata uang pengimpor energi terus tertekan. Dalam kondisi ini, kripto makin sensitif pada kondisi likuiditas (seberapa mudah uang mengalir di pasar), bukan sebagai aset pelindung.

    Pasar tidak sedang menilai harga minyak hari ini.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code