MAS memperketat kebijakan nilai tukar pada April dengan sedikit menaikkan kemiringan (laju penguatan bertahap) pita Singapore Dollar Nominal Effective Exchange Rate (S$NEER), yaitu indeks nilai Dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagang. Lebar pita dan level tengah (titik acuan) pita tersebut tetap.
MAS menjadi bank sentral pertama di Asia (di luar Jepang) yang mengetatkan kebijakan setelah konflik Iran. MAS menaikkan proyeksi inflasi utama (headline) dan inflasi inti MAS (MAS core—ukuran inflasi yang mengecualikan komponen yang sangat bergejolak) ke 1,5–2,5%, dari 1–2%.
MAS menurunkan penilaian pertumbuhan untuk 2026. MAS mengatakan pertumbuhan PDB 2026 kemungkinan turun dari laju di atas tren pada 2025.
MAS mengatakan kesenjangan output positif (output gap—selisih antara output aktual dan kapasitas ekonomi) akan menyempit ke sekitar 0%. MAS menyebut ketidakpastian dari konflik Timur Tengah untuk pertumbuhan dan inflasi.
MAS memperkirakan guncangan pasokan energi (gangguan pasokan yang mendorong harga) akan bertahan dalam berbagai skenario. MAS mengatakan hal ini dapat terus menaikkan biaya input (biaya bahan baku dan energi untuk produksi) dalam beberapa bulan dan kuartal ke depan.
Langkah kebijakan berikutnya dikaitkan dengan kejutan pada inflasi dan hasil output gap dibanding penilaian MAS.
Dengan keputusan terbaru Otoritas Moneter Singapura (MAS) untuk mempercuram kemiringan pita kebijakan S$NEER, sinyal utamanya adalah penguatan Dolar Singapura yang berlanjut. Langkah ini ditujukan untuk menekan inflasi, sehingga posisi beli (long) Dolar Singapura melalui derivatif (instrumen turunan untuk lindung nilai atau spekulasi) seperti kontrak forward (kesepakatan kurs di masa depan) atau opsi beli/call option (hak, bukan kewajiban, untuk membeli pada harga tertentu) menjadi cara langsung untuk mengambil pandangan ini. Pasar dapat mengantisipasi mata uang menguat dengan laju yang sedikit lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Sikap ketat ini didukung data terbaru. Inflasi inti Maret tercatat 2,3%, berada dalam kisaran proyeksi baru MAS 1,5–2,5%. Kondisi ini menunjukkan otoritas akan cenderung membiarkan mata uang lebih kuat untuk menahan biaya impor. Karena itu, menjual saat USD/SGD naik (menjual USD dan membeli SGD ketika kurs menguat—strategi “sell rallies”) bisa menjadi strategi dalam beberapa pekan ke depan.
Namun, perlu juga memperhatikan prospek pertumbuhan yang diturunkan. Angka PDB kuartal I menunjukkan perlambatan menjadi 1,8% secara tahunan (year-on-year/yoy—dibanding periode yang sama tahun lalu) dari laju lebih kuat pada 2025. Perbedaan antara upaya menekan inflasi dan pertumbuhan yang melambat menambah ketidakpastian, sehingga strategi opsi (options—kontrak hak beli/jual) dapat lebih menarik. Pelaku pasar dapat mempertimbangkan membeli opsi jual/put option USD/SGD (hak menjual USD/SGD pada harga tertentu) untuk mendapat potensi penurunan USD/SGD, sambil membatasi risiko jika kekhawatiran pertumbuhan global mendorong arus dana ke dolar AS (flight to quality—perpindahan ke aset yang dianggap aman).
Konflik Timur Tengah tetap menjadi pendorong utama, menjaga harga energi tinggi dan memperkuat fokus MAS pada inflasi. Dengan minyak Brent saat ini sekitar US$95 per barel, naik dari rata-rata US$85 pada 2025, tekanan inflasi impor belum mereda. Faktor eksternal ini memperkuat alasan MAS mempertahankan bias pengetatan (kecenderungan tetap ketat).
Sebagai bank sentral pertama di kawasan (di luar Jepang) yang mengetatkan, MAS menciptakan perbedaan arah kebijakan yang jelas (policy divergence—kebijakan berbeda antarnegara). Ini membuka peluang perdagangan nilai relatif (relative value—memanfaatkan perbedaan harga/kebijakan), misalnya membeli Dolar Singapura terhadap mata uang regional yang bank sentralnya masih longgar (akomodatif—lebih mendukung pertumbuhan). Posisi long SGD/THB atau long SGD/MYR bisa berkinerja baik jika kesenjangan kebijakan ini makin lebar.