Charlie Lay dari Commerzbank mengatakan bahwa lonjakan harga minyak global melemahkan rupee, sehingga mendorong USD/INR naik melampaui 92,00.

    by VT Markets
    /
    Mar 5, 2026
    Rupee India melemah seiring harga minyak global naik, mendorong USD/INR melampaui 92,00 untuk pertama kalinya. Biaya minyak mentah yang lebih tinggi menaikkan tagihan impor India dan meningkatkan permintaan dolar AS dari importir minyak. Ketergantungan India pada minyak impor membuat mata uangnya rentan saat harga melonjak. Dalam kesepakatan dagang AS yang masih berkembang, porsi pasokan minyak India dari Rusia bisa turun ke sekitar 25–30%, sementara pasokan dari Timur Tengah dapat naik ke sekitar 50–55%.

    Defisit Dan Arah Kebijakan

    Defisit transaksi berjalan (selisih arus uang masuk-keluar dari perdagangan barang/jasa serta pendapatan dengan luar negeri) diproyeksikan sekitar 1,0–1,2% dari PDB (Produk Domestik Bruto, total nilai produksi ekonomi) pada FY2025-26 (tahun fiskal 2025–2026). Defisit fiskal (selisih belanja pemerintah lebih besar daripada pendapatan) diperkirakan menyempit ke sekitar 4,3% dari PDB pada FY2026-27 dari 4,4% pada tahun fiskal berjalan. Reserve Bank of India (bank sentral India) diperkirakan bertindak untuk membatasi pergerakan tajam, bukan mengejar rupee yang lebih kuat. Dengan cadangan devisa (simpanan aset valuta asing untuk menjaga stabilitas nilai tukar) yang besar, USD/INR (pasangan nilai tukar dolar AS terhadap rupee India) dapat bertahan di kisaran 90–92 dalam waktu dekat. Tahun lalu terlihat bagaimana lonjakan harga minyak global mendorong USD/INR menembus 92,00 untuk pertama kalinya, dipicu kebutuhan impor India yang besar. Analisis pada 2025 dengan tepat memprediksi RBI akan turun tangan untuk menjaga mata uang dalam kisaran lebar 90–92. Pengelolaan aktif ini banyak membentuk kondisi pergerakan harga sejak periode tersebut. Saat ini, pasangan ini diperdagangkan mendekati batas atas kisaran tersebut, sekitar 91,85, mencerminkan tekanan yang berlanjut ketika minyak Brent (patokan harga minyak dunia) bertahan di sekitar $95 per barel. Meski sudah turun dari puncak 2025, level ini masih cukup tinggi untuk menekan tagihan impor India. Pergeseran dari minyak Rusia yang lebih murah (diskon), yang kini sedikit di bawah 30% dari impor, juga membuat permintaan dolar tetap kuat.

    Pertimbangan Posisi Dan Lindung Nilai

    Cadangan devisa RBI tetap menjadi penyangga yang kuat, saat ini sekitar $630 miliar, yang memberi kemampuan besar untuk menahan pelemahan Rupee berlebihan. Kondisi ini menunjukkan bank sentral kemungkinan akan terus mempertahankan level 92,50 dengan tegas. Karena itu, bertaruh bahwa harga akan menembus level tersebut secara besar dan bertahan dalam waktu dekat terlihat berisiko. Dengan kondisi ini, menjual opsi call USD/INR berjangka pendek (kontrak yang memberi hak membeli; penjual menerima premi/biaya di awal) dengan harga strike (harga patokan eksekusi) di atas 92,50 bisa menjadi strategi untuk memperoleh premi. Volatilitas tersirat satu bulan (perkiraan besarnya naik-turun harga yang tercermin dari harga opsi) sudah turun dari puncak 2025, tetapi masih cukup tinggi sehingga transaksi ini menarik. Importir, di sisi lain, dapat melihat penurunan ke area 90,50–91,00 sebagai peluang untuk lindung nilai (mengurangi risiko perubahan kurs) atas kewajiban pembayaran dolar di masa depan dengan kontrak forward (perjanjian kurs untuk transaksi di tanggal mendatang).

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code