Chris Turner dari ING memperkirakan dolar akan tetap kuat, didukung oleh kemandirian energi dan harga bahan bakar fosil yang lebih tinggi.

    by VT Markets
    /
    Mar 2, 2026
    Kekuatan dolar setelah serangan Iran dikaitkan dengan naiknya harga energi dan berubahnya perkiraan pasar tentang suku bunga AS. Disebutkan tiga jalur: kemandirian energi AS (AS tidak terlalu bergantung pada impor energi), ketergantungan energi Eropa dan Asia (banyak impor energi), serta dampak naiknya biaya minyak dan gas terhadap rekening eksternal negara pengimpor (keseimbangan transaksi luar negeri seperti neraca perdagangan dan pembayaran). Gas alam TTF Eropa dibuka 25% lebih tinggi, setelah minyak Brent dibuka 10/12% lebih tinggi. Harga yang tinggi dalam waktu lama bisa memperburuk syarat perdagangan (perbandingan harga ekspor vs impor) bagi mata uang seperti euro dan yen, sehingga bisa mendukung dolar.

    Energy Prices And Dollar Support

    Kontrak futures Fed Fund (kontrak berjangka yang mencerminkan perkiraan pasar atas suku bunga acuan The Fed) turun 3–4 tick (perubahan harga terkecil) di Asia karena pandangan bahwa Federal Reserve (bank sentral AS) mungkin tidak bisa memangkas suku bunga dua kali tahun ini. Ini terjadi setelah FOMC Januari (rapat penentu kebijakan suku bunga The Fed) memberi sinyal lebih tegas terhadap inflasi dan menyatakan pemangkasan suku bunga bisa bergantung pada turunnya inflasi yang lebih jelas serta perubahan pasar tenaga kerja. Harga energi yang lebih tinggi juga bisa membalik tren terbaru di pasar negara berkembang, termasuk menguatnya mata uang EM (emerging markets = negara berkembang), siklus pelonggaran suku bunga lokal, serta reli (kenaikan cepat) obligasi dan saham. Jika arus dana berbalik, itu cenderung menguntungkan dolar. DXY (Dollar Index = indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sekeranjang mata uang utama) diperdagangkan di atas resistance 98,00 (level harga yang sering menjadi “batas” kenaikan). Kembali ke 100 bulan ini disebut mungkin terjadi jika tidak ada penurunan ketegangan lebih awal di Timur Tengah.

    Positioning For A Retest Of Highs

    Lonjakan Brent crude (minyak mentah Brent), yang naik lebih dari 15% hingga mendekati $105 per barel pada akhir 2025, sangat merusak neraca perdagangan Eropa dan Jepang. Sebagai pengekspor energi bersih (menjual energi lebih banyak daripada membeli), dengan U.S. Energy Information Administration (lembaga data energi AS) mengonfirmasi ekspor LNG (Liquefied Natural Gas = gas alam cair untuk pengiriman) yang mencapai rekor pada tahun itu, dolar mendapat keuntungan langsung. Keunggulan dasar bagi ekonomi AS ini tetap menjadi tema utama pasar mata uang. Guncangan energi ini langsung mendorong inflasi, yang tetap di atas target The Fed, menutup 2025 di laju tahunan 3,4% menurut Bureau of Labor Statistics (lembaga statistik tenaga kerja AS). Akibatnya, Federal Reserve menahan suku bunga tetap pada rapat-rapat terakhirnya, sehingga pasar mengubah sepenuhnya perkiraan pemangkasan suku bunga. Pasar kini memperkirakan jeda yang lebih lama, yang menjadi penopang kuat bagi dolar. Lingkungan ini menunjukkan penempatan posisi (positioning = cara menyusun strategi transaksi) untuk dominasi dolar dalam jangka dekat melalui derivatif (instrumen turunan nilainya mengikuti aset lain). Kita bisa mempertimbangkan membeli opsi call (hak membeli pada harga tertentu) pada Dollar Index (DXY) atau ETF yang mengikuti dolar (ETF = reksa dana yang diperdagangkan seperti saham) untuk menangkap potensi kenaikan. Alternatifnya, strategi yang “short” euro atau yen (mendapat untung jika turun), seperti membeli opsi put pada EUR/USD (opsi put = hak menjual pada harga tertentu), bisa bekerja baik saat ekonomi mereka terbebani biaya energi yang lebih tinggi. Kita juga perlu memperhatikan tekanan berlanjut pada pasar negara berkembang, yang menjadi dampak penting dari kenaikan dolar tahun lalu. Data awal 2026 mengonfirmasi arus keluar modal (capital outflows = dana investor keluar) dari kawasan ini masih terjadi. Ini membuat pembelian opsi put pada ETF pasar negara berkembang yang luas menjadi lindung nilai (hedge = perlindungan risiko) atau posisi spekulatif (mencari untung dari perkiraan) terhadap penguatan dolar lebih lanjut. DXY memang menembus resistance di 98 dan akhirnya menguji kisaran 100–101 pada akhir tahun lalu, sehingga analisis awal terbukti. Karena dinamika energi dan suku bunga belum sepenuhnya selesai, kami menilai penggunaan opsi untuk bertaruh pada uji ulang level tinggi ini masih masuk akal untuk beberapa minggu ke depan. Kondisi yang mendukung dolar melemah masih belum terlihat.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code