Minyak Brent turun hampir 5%, menghapus seluruh kenaikan pada Senin, setelah muncul laporan kemungkinan putaran kedua pembicaraan AS–Iran bersamaan dengan peringatan permintaan yang melemah. Meski turun, Brent masih naik 31% sejak awal perang dan naik 56% sepanjang tahun berjalan (year-to-date).
IEA (International Energy Agency/Badan Energi Internasional) mengatakan perang akan menghapus pertumbuhan permintaan minyak global untuk pertama kalinya sejak 2020, yang menunjukkan “demand destruction” (permintaan turun karena harga tinggi dan ekonomi melemah sehingga konsumen/industri mengurangi pemakaian). IMF (International Monetary Fund/Dana Moneter Internasional) dalam skenario dasar (baseline) mengasumsikan konflik singkat dan harga kembali normal pada semester II 2026 (paruh kedua 2026), dengan Brent rata-rata USD82 pada 2026.
IMF juga menyusun skenario buruk (adverse) dengan minyak di USD100 dan pertumbuhan global lebih lemah jika konflik berlanjut.
Kami mengingat dinamika serupa pada 2025, ketika harapan negosiasi membuat Brent turun tajam lalu berbalik naik. Saat ini, dengan harga di sekitar USD88 per barel, pasar masih di atas perkiraan baseline lama IMF USD82 untuk 2026. Ini menunjukkan risiko geopolitik masih kuat tercermin dalam harga, menutupi optimisme tahun lalu.
Peringatan “demand destruction” dari IEA kini menjadi faktor utama yang menahan kenaikan harga lebih lanjut. Ini terlihat pada data ekonomi terbaru: PMI manufaktur global (Purchasing Managers’ Index/indeks aktivitas manajer pembelian, indikator awal kondisi industri) untuk Maret 2026 hanya menunjukkan ekspansi tipis (pertumbuhan kecil). Kondisi ini menciptakan tarik-menarik: kekhawatiran perlambatan ekonomi membatasi potensi kenaikan akibat gangguan pasokan.
Harapan negosiasi itu mereda, dan fokus beralih ke disiplin pasokan dari produsen. OPEC+ (OPEC dan sekutunya) mempertahankan pemangkasan produksi hingga kuartal ini, sehingga membantu membentuk “lantai harga” (level harga bawah yang cenderung ditopang) di sekitar kisaran pertengahan USD80 per barel. Data terbaru EIA (U.S. Energy Information Administration/Badan Informasi Energi AS) yang menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah (inventory draw, stok berkurang) sebesar 2,1 juta barel pekan lalu memperkuat gambaran pasokan yang ketat.
Bagi pelaku pasar, ini mengarah pada pasar yang bergerak dalam kisaran (range-bound: naik-turun dalam rentang tertentu) dalam beberapa pekan ke depan, dibatasi lantai pasokan dan “plafon” permintaan (batas atas karena permintaan lemah). Bertaruh pada pergerakan besar ke atas atau ke bawah berisiko; karena itu, strategi menjual volatilitas (volatility: besarnya naik-turun harga) bisa menjadi pilihan. Salah satu strategi opsi adalah iron condor (strategi opsi yang mencari untung jika harga bertahan dalam rentang tertentu, dengan mengombinasikan posisi beli-jual opsi call dan put di beberapa level harga).