Commerzbank mengatakan output pabrik Thailand stagnan, karena pemeliharaan kilang, baht yang kuat, dan kenaikan harga minyak membebani keuangan

    by VT Markets
    /
    Mar 31, 2026
    Output manufaktur Thailand pada Februari tidak berubah dibanding tahun sebelumnya, lebih lemah dari perkiraan konsensus Bloomberg sebesar 2,5%, setelah tumbuh 1,6% pada Januari. Output terdampak perawatan kilang (penghentian sementara untuk servis dan perbaikan) serta permintaan luar negeri yang melemah terkait baht Thailand (THB) yang kuat. Kantor Ekonomi Industri memperkirakan output pulih bulan ini, didukung permintaan musiman untuk peralatan rumah tangga menjelang libur musim panas. Lembaga ini memproyeksikan pertumbuhan produksi manufaktur 2026 sekitar 1,5% hingga 2,5%, dengan peninjauan ulang pada Mei karena perang Iran.

    Harga Minyak Dan Batas Kemampuan Anggaran

    Harga minyak meningkat, dan pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar serta pajak cukai (pajak khusus atas barang tertentu seperti bahan bakar) untuk meringankan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha. Kemampuan anggaran terbatas, dengan utang pemerintah mendekati batas hukum 70% dari PDB (Produk Domestik Bruto, ukuran total nilai barang dan jasa yang dihasilkan suatu negara). Sektor manufaktur Thailand menunjukkan pelemahan tak terduga pada Februari, karena hasilnya datar (tidak tumbuh) dibanding tahun sebelumnya, bukan naik 2,5% seperti perkiraan. Kami melihat PMI Manufaktur Thailand dari S&P Global juga bertahan sedikit di bawah angka 50, yang menandakan kontraksi ringan (aktivitas menyusut). Data ini menantang anggapan pemulihan ekonomi yang stabil pada 2026. Penekan utama output adalah baht Thailand yang kuat dan permintaan global yang melemah. Menjelang akhir 2025, baht menguat dari sekitar 36,5 menjadi 34,2 per dolar AS, yang membuat ekspor Thailand kurang bersaing di luar negeri. Hambatan dari nilai tukar ini menjadi faktor penting untuk dipantau para trader (pelaku transaksi jual-beli instrumen keuangan). Risiko geopolitik memperburuk keadaan, dengan perang Iran mendorong harga minyak Brent (patokan harga minyak dunia) konsisten diperdagangkan di atas US$100 per barel. Ini memaksa pemerintah mengurangi subsidi bahan bakar, sehingga biaya yang lebih tinggi langsung dirasakan konsumen dan pelaku usaha. Dengan utang publik kini sekitar 68,5% dari PDB, pemerintah punya ruang yang sangat sempit untuk memberi dukungan ekonomi tambahan.

    Sikap Trading Dan Volatilitas Pasar

    Kombinasi faktor ini menunjukkan sikap hati-hati atau cenderung negatif terhadap aset Thailand. Peninjauan proyeksi pertumbuhan 2026 pada Mei, khususnya karena perang Iran, menambah ketidakpastian besar. Para trader dapat mempertimbangkan posisi untuk menghadapi peningkatan volatilitas (naik-turun harga yang lebih besar) di pasar Thailand, misalnya melalui opsi (kontrak hak membeli/menjual pada harga tertentu) pada indeks SET50 (indeks 50 saham besar di bursa Thailand). Dengan dasar ekonomi yang lemah dan tekanan eksternal, baht Thailand bisa menghadapi tekanan turun meski sebelumnya menguat. Strategi yang mungkin adalah membeli opsi call (hak untuk membeli) pada pasangan USD/THB, dengan asumsi kondisi ekonomi akan mengalahkan faktor yang selama ini menopang nilai baht. Posisi ini akan untung jika baht melemah terhadap dolar dalam beberapa minggu ke depan.

    Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.

    see more

    Back To Top
    server

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    Ngobrol langsung dengan tim kami

    Obrolan Langsung

    Mulai percakapan langsung lewat...

    • Telegram
      hold Ditangguhkan
    • Segera hadir...

    Halo 👋

    Bagaimana saya bisa membantu?

    telegram

    Pindai kode QR dengan ponsel Anda untuk mulai mengobrol dengan kami, atau klik di sini.

    Belum memasang aplikasi Telegram atau versi Desktop? Gunakan Web Telegram sebagai gantinya.

    QR code