Latar Pasar dan Pendorong Risiko
GBP/USD stabil di sekitar 1.3227 setelah turun pada hari sebelumnya. Ketegangan geopolitik, termasuk pernyataan AS dan ketidakpastian soal Selat Hormuz, mendorong harga minyak naik dan mendukung permintaan terhadap dolar AS. Pound juga tertekan karena ketergantungan Inggris pada impor energi dan kekhawatiran soal keuangan negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Inggris (yield, yaitu “bunga” yang diminta pasar untuk meminjamkan uang ke pemerintah) naik seiring harga energi. Dalam analisis teknikal, GBP/USD bertahan setelah turun lebih dari 0,5% sehari sebelumnya dan diperdagangkan dekat 1.3230 pada jam Asia. Grafik harian menunjukkan kecenderungan turun dalam “descending channel” (pola harga menurun yang bergerak di antara dua garis tren turun). Pasangan ini tetap di bawah EMA 9 hari dan EMA 50 hari (Exponential Moving Average, rata-rata pergerakan yang memberi bobot lebih besar pada harga terbaru), sehingga kenaikan tertahan. Pergerakan membentuk puncak yang makin rendah dan penutupan yang makin rendah dari sekitar 1.35, menandakan tekanan turun masih berlanjut.Dari Setup 2025 ke Realitas 2026
Kita ingat sekitar periode ini pada 2025, GBP/USD diperdagangkan dekat 1.3230 di tengah naiknya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran soal keuangan negara Inggris. Pasangan ini berada dalam tekanan turun yang kuat, sementara Indeks Dolar AS mendekati level tertinggi beberapa bulan. Kondisi teknikal saat itu jelas mengarah pada tren pound yang memburuk. Hari ini, 3 April 2026, situasinya berubah, dengan pasangan kini jauh lebih rendah di sekitar 1.2250. Sentimen turun tahun lalu sebagian besar terjadi, tetapi pendorong utamanya bergeser dari risiko geopolitik umum menjadi perbedaan tajam pada data ekonomi. Fokus utama pelaku pasar sekarang pada inflasi yang sulit turun (sticky inflation, artinya inflasi tetap tinggi dan tidak cepat mereda) dan arah kebijakan bank sentral. Data inflasi Inggris terbaru untuk Maret 2026 menunjukkan angka yang masih bertahan di 3,1%, sehingga memberi tekanan besar pada Bank of England untuk tetap mempertahankan kebijakan ketat (restrictive stance, yaitu suku bunga tinggi untuk menahan inflasi) meski pertumbuhan ekonomi melambat. Sebaliknya, laporan US Nonfarm Payrolls yang dirilis hari ini menunjukkan kenaikan kuat 275.000 pekerjaan, memperkuat alasan The Fed untuk menahan suku bunga tetap tinggi lebih lama. Kekuatan dasar ini terus mendukung dolar AS. Dengan kondisi ini, kami melihat tekanan turun pada GBP/USD masih berlanjut, dengan kemungkinan menguji level 1.2100 dalam beberapa minggu ke depan. Pedagang derivatif (produk turunan seperti opsi) dapat mempertimbangkan membeli opsi put (hak untuk menjual pada harga tertentu) dengan strike (harga patokan) sekitar 1.2150 dan 1.2050, dengan jatuh tempo (expiry) akhir Mei atau Juni. Strategi ini membatasi risiko dengan jelas sambil memanfaatkan pelemahan pound. Bagi yang tidak ingin mengambil arah yang terlalu tegas atau ingin menghasilkan pendapatan, menjual opsi call out-of-the-money (opsi beli yang strike-nya berada di atas harga pasar saat ini, sehingga kecil kemungkinan langsung untung) bisa menjadi pilihan. Bear call spread (strategi opsi: menjual call di strike 1.2400 dan membeli call di strike 1.2500 untuk membatasi risiko) akan memanfaatkan perkiraan bahwa pasangan tidak akan naik banyak. Pendekatan ini diuntungkan dari penurunan harga dan time decay (penurunan nilai opsi seiring waktu). Buat akun live VT Markets Anda dan mulai trading sekarang.Mulai trading sekarang — klik di sini untuk membuat akun live VT Markets Anda.